Melirik Semangat Sekolah Waldorf

Melirik Semangat Sekolah Waldorf


Konfirmasitimes.com-Sumut (05/07/2020). Sekolah adalah rancang bangun masa depan. Karena itu, perhatian pemerintah terhadap sekolah semestinya tak bisa biasa-biasa saja. Perhatian pemerintah terhadap guru pun mestinya lebih dekat. Banyak persoalan guru sejauh ini lebih karena urusan administratif, bahkan di beberapa level konon diperas oleh oknum di dinas terkait. Beberapa guru sering mengeluhkan hal ini dalam bincang-bincang kecil di sesama mereka.

Selain itu, di samping sekolah harus sesuai dengan zaman, sekolah pun harus dirancang untuk tidak terlalu jauh dari kehidupan manusia. Tak bisa dimungkiri, saat ini, ada kecenderungan, pendidikan semakin jauh dari ke-asali-an kehidupan kita. Sebabnya, pendidikan kita terlalu memasukkan perangkat teknologi sehingga manusia menjadi “mesin”.

Sekolah berubah seperti pabrik robot. Manusia pun menjadi robotik. Manusia jadi asosial, bahkan tak produktif. Fungsi otak manusia ditukar ke mesin komputer. Bahkan, kemampuan otot manusia dicangkokkan ke mesin teknologi. Tak ayal, pendidikan kita pun cenderung melahirkan siswa “tak berotak”, bahkan “tak berotot”. Semua ini karena teknologi terlalu disuntikkan ke nadi kehidupan.

Beberapa media pada 2018 sempat mengangkat kisah 11 orang anak di Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Koesnadi Kabupaten Bondowoso, Jatim yang dirawat secara intensif karena adiksi gawai. Dikisahkan, karena gawai, selama tiga hari dua malam anak itu tetap saja sibuk dengan gadget tanpa makan dan tidur. Jika dilarang orang tuanya, anak itu bisa marah, bahkan sampai membenturkan kepalanya ke tembok.

Seperti diketahui, saat ini, teknologi sudah masuk terlalu jauh ke jantung kehdupan kita. Anak sudah kecanduan gawai. Hal ini sekilas tak berbahaya. Malah, ada dogma di pikiran kita bahwa jika anak, terlebih sekolah dasar tak memasukkan teknologi, maka sekolah dan anak itu sudah ketinggalan. Begitulah pandangan kaum awam. 

Namun, bagi pakar teknologi, hal itu justru berkebalikan. Sempat viral tentang kisah para petinggi Google, Apple, Yahoo, HP, hingga eBay yang mengirim anak-anaknya ke sekolah yang sama sekali tak punya komputer.

“Saya secara mendasar menolak gagasan bahwa kita membutuhkan bantuan teknologi digital di sekolah dasar,” kata Alan Eagle, Executive Communication Google. Atas pertimbangan itu, Eagle menyekolahkan putrinya di WaldorfSchool yang berlandaskan pada filosofi pendidikan “memanusiakan manusia”.

Sekilas, keinginan para petinggi memasukkan ke sekolah “aneh” ini adalah sebuah ketinggalan. Namun, mereka tentu lebih paham bahwa manusia seharusnya jadi manusia. Mereka juga tahu, otak manusia itu berkembang dengan porsinya. Artinya, tak perlu terlalu memaksa otak anak untuk bekerja. Namun, di pendidikan kita, otak anak cenderung dipaksa. Tiket masuk SD sudah harus bisa calistung. Maka, pada masa PAUD, anak yang mestinya masih bermain sudah harus belajar keras. Otaknya dipaksa sedini mungkin.

Padahal, pada saatnya nanti, anak juga akan mampu membaca secara alami dan bertahap tanpa perlu dipaksa. Setali tiga uang, sistem pendidikan kita juga kadang berlebihan. Belajar sepanjang hari. Namun, di sisi lain, ada beberapa fakta bahwa sekolah yang belajar sepanjang hari tak jauh lebih sukses di kemudian hari dengan mereka yang belajar sesuai porsi.

Belajar di kita menjadi mekanis dan kaku. Pengertian belajar menjadi ringkas: pergi ke sekolah. Di luar itu, jika seorang anak pergi ke laut, pergi ke sawah, bermain bersama rekan sebaya, mengamati tumbuh-tumbuhan, membantu orang tua berjualan, kesemua hal itu akan dianggap sebagai bukan belajar.

Sekolah menjadi satu-satunya sumber belajar. Sekolah menjadi tukang stempel dan bukti bahwa pelajaran itu sah. Siswa tak dibiarkan lagi menghikmati alam.Kita menyepelekan anak yang pergi ke pantai lalu mengamati laut, menangkap ikan, melihat gejala-gejala alam secara perlahan.

Kita menyepelekan anak yang pergi ke pasar, melihat transaksi jual-beli, melihat onggokan sampah. Kita menyepelekan anak yang pergi ke sawah, menanam benih, lalu merawatnya. Sebaliknya, kita mengagumi anak yang pergi ke sekolah dengan jubelan tas yang melimpah, selekas itu pergi ke gedung baru bernama bimbel hingga larut.

Kita menganggap mereka sebagai sosok pembelajar. Padahal, sesungguhnya, mereka hanya mesin belajar. Mereka bahkan tak tahu untuk apa mereka belajar. Jika tahu, mereka hanya tahu bahwa belajar semata agar juara 1, agar kelak bisa bersekolah di tempat yang favorit, agar diterima di PTN ternama, agar bekerja dengan gaji melimpah. Belajar sudah melulu di dalam gedung dan dari dalam buku.

Lama-lama, kita pun terasing dari alam. Melihat kenyataan inilah, kiranya, petinggi teknologi itu memilih sekolah Wadorf. Pasalnya, kelas-kelas di sekolah Waldorf didesain, seperti kelas klasik, untuk menyesuaikan dengan kesan tanpa sentuhan digital dengan dinding terbuat dari kayu.

Untuk berinteraksi antara guru dan murid, disediakan papan tulis dan kapurnya. Buku-buku elektronik jelas tidak ada, sebagian gantinya adalah buku ensklopedia. Murid-murid pun mencatat di buku tulis biasa dengan menggunakan pensil. Para murid secara rutin belajar dan bermain di tanah lapang atau lahan bercocok tanam milik sekolah sambil berbecek-becek dan bermain kapur.

Aktivitas ini bisa jadihanya dilakukan di sekolah-sekolah biasa sekali setahun ketika melakukan karyawisata atau diajak keluarga.Pelajaran prakarya masih diajarkan di sekolah ini, seperti yang dilakukan oleh Andie, Putri Eagle tadi. Ia terlihat asyik membuat kaos kaki. Merajut, The New York Times melaporkan menurut salah seorang guru di Waldorf mampu membantu anak-anak memahami pola dan matematika dengan menggunakan jarum dan benang, dapatmengasah kemampuan murid-murid memecahkan masalah, dan belajar koordinasi.

Saat ini, banyak pekerjaan sudah bisa diselesaikan teknologi. Maka, sudah saatnya kita meneruskan semangat pendidikan Waldorf. Sebab, sejatinya, siswa bersekolah untuk menjadi manusia yang bisa memecahkan persoalan, bukan memecahkan soal ujian. Sukses belajar harus sinonim dengan sukses kehidupan.

Jangan lagi juara di sekolah namun terpuruk di kehidupan atau sudah pintar membaca sejak PAUD namun tak kunjung mahir membaca hidup hingga akhir hayatnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Asal Mula Pintu Gerbang Pasifik di Sulawesi Utara

Read Next

DKP Riau Akan Turun ke Rohil Atasi Konflik Bubu Tiang