Jaksa Agung Janji Evaluasi Tuntutan Penyerang Novel

Penyerang Novel Dituntut Ringan, Jaksa Agung Janji Evaluasi

Jaksa agung Sanitiar Burhanuddin

Konfirmasitimes.com-Jakarta (30/06/2020). Dua terdakwa kasus penyerangan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni  Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis diketahui hanya dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan pidana satu tahun penjara.

Tuntutan JPU itu lalu menuai kecaman dari berbagai pihak karena dianggap sangat rendah. Atas hal itu, Jaksa Agung ST Burhanuddin memastikan pihaknya akan mengevaluasi tuntutan yang dijatuhkan jajarannya tersebut.

“Ini juga menjadi evaluasi kami, kami tidak menyalahkan juga jaksanya. Karena biasanya Jaksa, biasanya ini, menuntut berdasarkan fakta di persidangan. Nanti kami akan evaluasi juga, kenapa Jaksa sampai menuntut demikian,” kata Burhanuddin, Senin (26/06/2020).

Dia menegaskan, bahwa berkas tuntutan terhadap dua terdakwa kasus Novel tersebut tak diberikan kepadanya.

“Karena itu tidak sampai saya penuntutannya, tetapi saya akan minta untuk evaluasi lagi,” sambungnya.

Pada kesempatan ini, Burhanuddin memastikan akan melihat bagaimana tuntutan dengan putusan yang akan dijatuhkan pihak pengadilan nantinya.

“Kalau nanti jomplang (antara tuntutan Jaksa dan putusan pengadilan) berarti ada sesuatu disitu. Tapi nanti kalau ada balance, artinya pertimbangan Jaksa juga dipakai, digunakan pertimbangan hakim,” tutur Burhanuddin.

“Jadi kita akan melihat hasil putusannya. dan pasti kami evaluasi,” sambungnya lagi.

Alasan JPU Tuntut Ringan Terdakwa

Penyerang Novel Dituntut Ringan, Jaksa Agung Janji Evaluasi

Sebelumnya, menurut JPU para terdakwa tidak sengaja menyiramkan air keras ke mata Novel. Keduanya disebut hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman air keras ke badan Novel Baswedan.

Namun di luar dugaan, ternyata mengenai mata yang menyebabkan mata kanan tidak berfungsi dan mata kiri hanya berfungsi 50 persen dan menyebabkan cacat permanen

Karena unsur ketidaksengajaan itu, maka Ronny dan Rahmat tidak memenuhi dakwaan primer soal penganiayaan berat dari Pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Keduanya dianggap memenuhi dakwaan subsider pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pasal 353 ayat (1) berbunyi “Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun” sedangkan pasal 355 KUHP ayat (1) menyebutkan “Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”.

“Menuntut supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, dua, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Rahmat Kadir Mahulette selama 1 tahun dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan,” ucap Jaksa saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/06/2020) lalu.

Dalam pertimbangannya, jaksa mengungkapkan hal yang memberatkan bagi para terdakwa adalah perbuatan mereka telah mencederai kehormatan institusi Polri.

“Sedangkan hal-hal yang meringankan terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya, terdakwa mengakui perbuatannya di persidangan, terdakwa kooperatif dalam persidangan, terdakwa telah mengabdi sebagai anggota Polri selama 10 tahun,” ungkap Jaksa.

Sebagaimana kronologi yang ada dalam surat dakwaan JPU, awalnya terdakwa Rahmat  mencari-cari kediaman Novel Baswedan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Usai menemukan kediaman Novel, pada Sabtu 8 April 2017 sekitar  pukul 20.00-23.00 WIB Sabtu 8 April 2017, Rahmat memantau rumah Novel dengan menggunakan motor Yamaha Mio GT milik Ronny Bugis.

Rahmat kemudian mencari tahu rute masuk dan ke luar kompleks perumahan Novel untuk jalan melarikan diri usai melancarkan aksinya. Keesokan harinya, penuturan Jaksa, Rahmat kembali melakukan hal yang sama guna memastikan.

Lantas pada Senin, 10 April 2017, usai apel pagi di Satuan Gegana Korps Brimob Kelapa Dua, Depok, Rahmat mengembalikan motor pinjamannya ke Ronny. Sekitar pukul 14.00 WIB, Rahmat bergegas ke pool angkutan mobil Gegana Polri untuk mencari cairan asam sulfat (H2SO4). Setelah mendapatkannya, ia membawa cairan tersebut ke kediamannya.

Rahmat lalu menuju kediaman Ronny pada pukul 03.00 WIB, Sabtu, 11 April 2017. Ia meminta Ronny mengantarnya ke rumah Novel yang berada di Kelapa Gading.

Sekitar pukul 05.10 WIB, Rahmat dan Ronny melihat Novel yang baru ke luar dari Masjid Al Ikhsan. Di saat itu Rahmat memberikan penjelasan kepada Ronny bahwa ia ingin memberi pelajaran kepada seseorang.

Kemudian, terdakwa Ronny atas arahan Rahmat mengendarai motornya secara pelan-pelan mendekati Novel sambil bersiap-siap menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4). Ketika posisi terdakwa Rahmat berada di atas motor sejajar dengan Novel, ia pun langsung menyiramkan cairan asam sulfat ke bagian kepala penyidik KPK itu.

Sementara itu, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW)  Laola Ester (Peneliti ICW) mengaku pihaknya terus menyoroti kasus penyiraman kepada Novel Baswedan. Ia menilai ada inkonsistensi dalam pengungkapan kasus penyerangan tersebut.

“Sejak awal dijelaskan bahwa yang terjadi kepada Novel berkaitan dengan kasus yang sedang ditanganinya di KPK, namun apabila dilihat di persidangan, sama sekali tidak muncul dalam tuntutan Jaksa, yang justru menjelaskan keterangan yang disampaikan terdakwa dan tentu ini tidak bisa diterima oleh nalar kewarasan,” cetus Laola. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Kronologi Aksi Minta Kades Mundur, Berakhir Rusuh Hingga Mobil Terbakar

Read Next

Desa Pantang Mundur, Upaya Pemerintah Hadapi Bencana