Divonis Hukuman 7 Tahun, Eks Menpora Imam Nahrawi: Saya Harus Beristighfar

Divonis Hukuman 7 Tahun, Eks Menpora Imam Nahrawi: Saya Harus Beristighfar

Eks Menpora Imam Nahrawi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (30/06/2020). Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi diganjar hukuman 7 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Selain hukuman penjara, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga dihukum membayar denda Rp 400 juta subsider 3 bulan kurungan. Putusan itu dibacakan Hakim Ketua Rosmina saat membacakan amar putusan Imam Nahrawi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (29/06/2020) kemarin.

“Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa berupa pidana penjara selama 7 tahun, dan pidana denda sebesar 400 juta subsider 3 bulan kurungan,” demikian bunyi vonis yang dibacakan Hakim Ketua Rosmina.

Tak hanya itu, Majelis Hakim dalam vonisnya juga menghukum Imam Nahrawi untuk membayar uang pengganti senilai Rp18.154 238,82. Jika tidak, maka harta benda milik Imam Nahrawi akan disita dilelang.

“Jika harta benda terdakwa belum juga cukup untuk membayar uang pengganti, maka terdakwa dikenakan pidana penjara selama 2 tahun,” ucap hakim.

Selain itu, Imam juga dikenakan hukuman tambahan dengan pencabutan hak politik selama 4 tahun setelah menjalani masa pidana penjara. Majelis Hakim juga menolak permohonan status justice collaborator yang diajukan oleh Imam Nahrawi.

Dalam kasus ini, Imam Nahrawai bersama asisten pribadinya, Miftahul Ulum, dinilai hakim telah terbukti  menerima suap sebesar Rp 11,5 miliar dari mantan Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy dan mantan Bendahara KONI Johnny E Awuy. Suap itu agar Imam Nahrawi dan Ulum mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI kepada Kemenpora RI untuk tahun kegiatan 2018.

“Menyatakan terdakwa Imam Nahrawi telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan beberapa tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana diatur pidana dalam dakwaan kesatu pertama dan dakwaan kedua,” sambung Hakim Ketua Rosmina.

Jelas vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yakni hukuman 10 tahun serta pidana denda sejumlah Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Dia juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp 19,1 miliar dalam waktu satu bulan.

Jaksa dalam tuntutannya, juga menyebut agar hak politik Imam dicabut selama lima tahun setelah menjalani pidana pokok. Jaksa menyebut Imam terbukti menerima suap sebesar Rp 11,5 miliar bersama asisten pribadinya Miftahul Ulum.

Nahrawi oleh JPU, mulanya didakwa menerima suap sebesar Rp11,5 miliar bersama dengan Asisten pribadinya, Miftahul Ulum untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah KONI. Setidaknya, terdapat dua proposal kegiatan KONI yang menjadi sumber suap Imam Nahrawi.

Pertama, terkait proposal bantuan dana hibah Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Games 2018.

Kedua, proposal terkait dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun Kegiatan 2018.

Selain itu, Nahrawi juga didakwa bersama-sama dengan Ulum menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp8,6 miliar. Uang itu diterima Imam Nahrawi saat menjabat sebagai Menpora dalam rentang waktu 2014 hingga 2019. Imam disebut menerima sejumlah uang melalui Ulum.

Bersumpah Tak Terima Suap

Sejak awal ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Imam Nahrawi sudah sering kali bersumpah bahwa dirinya tidak menerima sepeser-pun uang dari kasus yang dituduhkan tersebut.

Bahkan untuk membuktikan dirinya bersih dari praktik rasuah, Imam Nahrawi menyatakan siap untuk membongkar siapa-siapa saja yang sebenarnya menerima aliran dana tersebut.

“Siap-siap saja yang merasa nerima dana KONI ini, siap-siap,” ujar Nahrawi usai menjalani sidang perdana terkait perkara dugaan suap terkait proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah KONI di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat (14/02/2020) silam.

Begitupun usai mendengarkan sidang vonis, Nahrawi seolah tetap konsisten bahwa dirinya tidak menerima suap serta kecewa lantaran nota pembelaannya (pleidoi) ditolak dalam pertimbangan putusan hakim.

Dalam pleidoinya, ia mengatakan mengajukan diri sebagai pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum (justice collaborator) untuk membongkar aliran dana Rp11,5 miliar, yang menurutnya tidak ia nikmati.

Dengan mengucap sumpah atas nama Allah dan rasul-Nya, Imam menyatakan tidak menerima uang suap sebagaimana didakwakan

“Kami meminta agar yang mulia menindaklanjuti Rp11,5 miliar aliran, karena saya demi Allah demi Rassulullah tidak menerima Rp11,5 miliar itu. Beri kesempatan saya memperdalam dan saya harus beristighfar dan minta pertolongan Allah, kami maafkan JPU, penyelidik, penyidik, pimpinan KPK dan majelis yang mulia untuk jadi pelajaran,”  ucapnya. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Versi IDI, Jumlah Mortalitas Nakes Lebih Banyak Dibanding Laporan Satgas Covid-19 Jatim

Read Next

Miskomunikasi Terkait Pembangunan Tower Sutet di Muara Enim