Dituding Lindungi Group Bakrie, BPK Polisikan Benny Tjokro

Dituding Lindungi Group Bakrie, BPK Polisikan Benny Tjokro

Benny Tjokro

Konfirmasitimes.com-Jakarta (30/06/2020). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melaporkan Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro (Benny Tjokro) ke Bareskrim Mabes Polri.

Benny dilaporkan karena dianggap telah mencermakan nama baik institusi BPK terkait pernyataannya, sebelum persidangan dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang melibatkan PT Asuransi Jiwasraya Rabu (24/06/2020) lalu, yang menyebut bahwa ketua dan wakil ketua BPK telah melindungi aset-aset milik Group Bakrie.

“Kami melaporkan ke Bareskrim saudara Benny Tjokro atas tindakan pencemaran nama baik. Sehingga sudah clear dan jelas ini fitnah dan pencemaran nama baik. Menurut kami ini sudah ranah hukum,” kata Ketua BPK Agung Firman Sampurna di Mabes Polri, Jakarta, Senin (29/06/2020).

ketua BPK Agung Firman
ketua BPK Agung Firman

Ditegaskan Agung, sangat tidak benar jika BPK dituding melindungi pihak tertentu. Dijelaskab Agung, pihaknya sudah clear dalam menghitung total kerugian negara akibat korupsi PT Asuransi Jiwasraya dan itu sudah diserahkan ke Kejaksaan Agung.

“Kerugian negara sudah final. Itu sudah nyata dan pasti. Tapi masih dikembangkan oleh kejaksaan pihak mana lagi yang terlibat untuk ditetapkan sebagai tersangka,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, pemeriksaan kerugian negara ini dilakukan dengan menerapkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara SPKN).

Tak hanya itu, disebut Agung pihaknya bahkan sempat ingin membuat putusan perhitungan kerugian negaranya bukan hanya kerugian negara, tapi juga kerugian perekonomian negara. Namun setelah mempertimbangkan secara cermat, akhirnya pada tingkat ini kami masih menetapkannya menjadi perhitungan kerugian Negara.

Pencemaran Nama Baik

Ketua BPK Agung Firman Sampurna melaporkan Benny Tjokrosaputro ke Bareskrim Polri terkait dugaan pencemaran nama baik dan melanggar Pasal 207, 310 dan 311 KUHP dengan nomor laporan polisi LP/B/0347/VI/2020/Bareskrim ter tanggal 29 Juni 2020.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa pihaknya akan memproses laporan yang dilayangkan Ketua BPK Agung Firman Sampurna terhadap terdakwa Benny Tjokrosaputro terkait dugaan tindak pidana pencemaran nama baik Ketua BPK, Wakil Ketua BPK dan institusi BPK.

Menurut Listyo, Bareskrim Polri segera membentuk tim penyidik untuk menyidik perkara itu, kemudian melakukan gelar (ekspose) perkara untuk tetapkan Benny Tjokrosaputro sebagai tersangka dalam kasus pencemaran nama baik.

“Tentunya sesuai dengan SOP yang ada, kami akan menindaklanjuti laporan beliau dengan memproses laporan tersebut, kami akan siapkan penyidik untuk melaksanakan proses lidik dan kemudian dari hasil proses lidik akan dilakukan gelar perkara,”  kata Listyo.

Listyo juga memastikan proses penyidikan perkara pencemaran nama baik yang dilakukan terdakwa Benny Tjokrosaputro tidak akan terganggu proses persidangan yang tengah berjalan.

Dijelaskan Listyo, Benny tetap bisa diproses hukum dalam perkara pencemaran nama baik, kendati tengah berstatus sebagai terdakwa dalam kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya.

“Itu kan dua perkara yang berbeda. Laporan kasus pencemaran nama baik ini tetap bisa berjalan ya,” katanya.

Benny Singgung Bakrie Group

Benny Tjokro sebelumnya menuding, adanya  andil emiten-emiten milik Bakrie Group dalam kasus rasuah perusahaan asuransi pelat merah tersebut. Disebut Benny, PT Asuransi Jiwasraya pernah berinvestasi ke emiten-emiten grup Bakrie.

“Paling besar grup Bakrie di swasta, menurut informasi pada tahun 2006 saat grup Bakrie itu sahamnya lagi tinggi-tingginya, sekarang semua nilainya Rp50, ruginya berapa. Menurut info yang saya dapat di 2008 itu ruginya sudah Rp6,7 triliun, mereka pake uang berbunga, karena gak didrop pemerintah, mereka pakai uang JS Saving,” kata Benny saat diwawancara, Rabu (24/06/2020).

Berdasarkan pernyataannya tersebut, lanjut Benny, emiten-emiten Bakrie Group berkontribusi besar terkait kerugian negara dalam kasus Jiwasraya.

“Itu ada cost of money-nya 10 persen per tahun, berarti kalau 12 tahun berarti kan 120 persen, itu baru bunganya saja. Ini bunga flat aja, 120 persen dari Rp6,7triliun bukannya Rp8 triliun nah Rp8 triliun ditambah Rp6,7 triliun bukannya Rp14,7 itu baru yang flat, kalau bunga berbunga bukannya bisa jadi Rp16-17 triliun. Bolongnya dari mana udah tahu kan ya bolongnya dari Bakrie itu mayoritasnya. Harusnya yang dikrjar itu pihak Bakrie,” bebernya.

Benny pun kembali menyatakan bahwa dirinya hanya menjadi kambing hitam di kasus ini untuk melindungi pihak lain yang seharusnya bertanggungjawab, dalam hal ini, Bakrie.

“Kalau yang bikin rugi aja enggak jadi tersangka apalagi yang gak bikin rugi seperti saya….karena yang dosa orang lain tapi dia mau ngelindungin orang lain, tapi harus cari tumbal dong kambing hitam harus yang gemuk yang kelihatan asetnya banyak dari sekian banyak emiten paling enak ini nih properti lagi,” paparnya.

Menurut dia, Bakrie Group ‘dilindungi’ sehingga tidak ikut tersangkut dalam kasus ini. Dia menuding Ketua dan Wakil Ketua BPK melindungi Bakrie Group lantaran keduanya merupakan kroni Bakrie.

“Jadi permainan ini disetel, kenapa mereka lindungi Bakrie, kenapa nyari tumbal orang lain yang sialnya karena di saya kenapa harus lindungi Bakrie, karena ketua dan wakil ketua BPK itu kroni Bakrie,” cetusnya.

Benny Tjokro  sendiri didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sehingga menimbulkan kerugian negara sebesar Rp16,8 triliun.

Kasus Jiwasraya yang kini ditangani jajaran Jaksa Agung Muda Pindana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung diketahui terus berkembang. Penyidik bahkan telah menetapkan 13 perusahaan manajer investasi dan Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berinisial FH sebagai tersangka baru dalam kasus ini. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Jual Miras, Pria Paruh Baya Ditangkap Polisi

Read Next

Siap Dilaksanakan Proyek Jembatan Blora–Bojonegoro