Andaliman, Merica Batak dari Sumatera Utara!

andaliman

Konfirmasitimes.com-Sumut (30/06/2020). Berkunjunglah ke Tanah Batak. Kini berbagai spot alam mulai dibuka. Pada 28 Juni 2020, misalnya, berbagai spot wisata di Bakara mulai ramai dikunjungi. Air Terjun janji sudah mulai berdenyut. Beberapa orang dalam amatan kami sudah terlihat asyik berselfi ria.

Ketika berkunjung ke sana, kami juga melihat wisata kuliner terapung di Tipang Mas, Baktiraja, juga sudah mulai ramai. Sangat berbeda dengan periode awal masa Covid-19. Saat itu, ketika kami mengunjungi spot wisata, tak satu pun rumah makan yang buka. Semua rumah makan menolak kami secara halus agar segera pulang dari tempat itu meski pada saat itu, Humbang Hasundutan masih berstatus zona hijau.

Humbang Hasundutan adalah salah satu daerah Tanah Batak. Di Humbang, tumbuhan endemik andaliman banyak ditemukan. Bagi warga Batak, andaliman, atau sering juga dinamai merica Batak, banyak ditemukan. Petani andaliman pun sudah banyak.

Apalagi, potensi keuntungannya lumayan.

Ini diakui M.Situmorang. Menurutnya, andaliman kadang berharga tinggi meski kadang merosot jauh. “Kadang seliter bisa lebih seratus ribu, kadang malah di bawah lima ribu,” ucapnya (29/06/2020) sesaat sebelum pergi ke hutan. Menurutnya lagi, meski potensial, merawat andaliman sangat susah.

“Andaliman ini harus dipetik. Jika tidak dipetik, andaliman akan mati. Padahal, memetiknya butuh kesabaran tinggi. Malas sekali sebenarnya memetik andaliman di masa harga sangat merosot,” sebutnya. Andaliman memang semak berduri. Tinggi tanaman andaliman adalah 3-8 m. Batang dan cabangnya merah, kasar beralur, berbulu halus.

andaliman

Hal rumit lain kata Situmorang, andaliman harus dipetik dalam keadaan cuaca kering. “Tidak boleh saat hujan. Dipetik pagi hari saja, andaliman bisa berkurang kualitasnya sehingga berkurang harganya,” tukasnya lagi. Situmorang mengaku, banyak andalimannya yang mati karena tidak dipetik. 

“Pernah dua orang kami seharian memetiknya. Berangkat ke hutan jauh-jauh. Tau-tau, pas dijual besoknya, meski sudah lebih sekaleng, harganya tak sampai 50 ribu. Rugi sekali,” keluhnya. Rugi karena memang, upah sehari bekerja sudah 50 ribu rupiah. Mestinya, jika sudah 2 orang, paling tidak mereka harus mendapatkan minimal Rp100.000,00.

Petani Andaliman sedang memetik andaliman
Petani Andaliman sedang memetik andaliman

Begitulah andaliman. Meski potensial dan kadang merosot, andaliman tetap menjadi kerinduan bagi warga Sumatera Utara. Walau demikian, meski andaliman disebut merica Batak, bukan berarti andaliman hanya tumbuh dan dikonsumsi orang Batak saja.

Menurut Ketua Akademi Gastronomi Indonesia, Vita Datau, misalnya, andaliman banyak digunakan untuk masakan di Asia Timur dan Selatan.

Bahkan, masyarakat dunia turut mengonsumsinya. Negara-negara di Asia, seperti Thailand, Nepal, India, Tiongkok, Jepang, Korea, Tibet, dan Bhutan, juga mengenal buah ini. Andaliman dikenal sebagai sichuan pepper di Amerika. Mengapa andaliman dikonsumsi? Selain khas, andaliman ternyata memiliki manfaat untuk kesehatan.

Dalam sebuah penelitian, I Siswandi membuktikan andaliman memiliki aktivitas antimikroba. Penelitian itu menunjukkan, ekstrak buah andaliman bersifat bakterisidal terhadap bakteri Bacillus stearothermophilus, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio cholera, dan Salmonella thypimurium. 

Dalam penelitian lain, selain potensial, andaliman sebenarnya sudah banyak dijual hingga Eropa. Menurut A Hasairin, dalam tesis Program Pascasarjana IPB berjudul “Etnobotani Tanaman Rempah dalam Makanan Adat Masyarakat Batak Angkola dan Mandailing”, tumbuhan ini merupakan jenis yang sangat dekat kekerabatannya dengan Zanthoxylum piperitum yang banyak ditemukan di daratan Tiongkok, serta Zanthoxylum stimulans yang banyak dijual di Eropa.

Yang menarik, andaliman ini sangat endemik. Tumbuh di dataran tinggi dan pegunungan, dengan ketinggian 1.400 m dari permukaan air laut pada temperatur 15-18 derajat celsius. Dikutip dari usu.ac.id, andaliman merupakan tanaman yang khas ditemukan di daerah Sumatera Utara, terutama di Parbuluan, Kabupaten Dairi, Siborong-borong, dan Kabupaten Tapanuli Utara.

Kini, pelaku UMKM di Humbang Hasundutan mulai membuat manfaat turunan dari andaliman. Jika selama ini hanya untuk bumbu, kini juga sudah dimaksimalkan sebagai minuman, seperti bandrek. Ini dilakukan oleh Jery Lumban Gaol, pelaku UMKM asal Desa Hutapaung, Kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan. 

“Kita harus kreatif. Jika selama ini andaliman hanya untuk bumbu, apa salahnya kita buat sebagai bandrek. Apalagi andaliman sudah menjadi kekhasan kita?” sebutnya ke awak media konfirmasitimes.com, Jery sangat berharap, potensi andaliman diperkenalkan oleh pemerintah agar pelaku UMKM di Humbang semakin berdenyut.

Yang pasti, andaliman sangat potensial dikembangkan. Sebab, menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia, andaliman terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba.

Ada juga penelitian lain, B Widiastuti dari  Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, meneliti aktivitas antioksidan dan immunostimulan ekstrak buah andaliman. Hasil studinya menyebutkan ekstrak andaliman, dapat menurunkan jumlah radikal bebas pada sel limfosit akibat serangan paraquat. Ekstrak andaliman juga mampu meningkatkan produksi radikal bebas makrofag yang digunakan dalam proses fagositosis.

Semoga potensi ini bisa dimaksimalkan!

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

BPJS Temanggung Lakukan Efisiensi Anggaran Penghematan Biaya Operasional

Read Next

Imigrasi Aceh Buka Layanan Paspor di MPP