Akhir Pandemi Tak Bisa Diprediksi, Musisi Keroncong Galau Tunggu Kebijakan Pemerintah

Dedikasi Nareswara Atas Tatu­-Lathi Keroncong Indonesia

Konfirmasitimes.com-Ponorogo (27/06/2020). Ibarat pusaka yang lama tak bertuan, alat musik mereka kehilangan peluk hangat pemainnya. Hampir 4 bulan Nareswara tak manggung.

Di saat sesi latihan pada Kamis (25/06/2020) di Coffee Parking basecamp Nareswara yang terletak di Jalan Irawan Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Celoteh menarik terdengar “Wah! Cuk-nya (salah satu instrument musik keroncong) fals, lama tak dipakai manggung.” Siwi salah satu pemain Nareswara. Celoteh itu disahut candaan dari Dimas, salah satu pemrakarsa Nareswara “Bukan alatnya tapi tanganya yang fals!” Begitulah kerinduan mereka yang telah lama tak bermain bersama sebab pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.

Nareswara salah satu kelompok keroncong di Ponorogo, yang lebih dikenal sebagai kelompok musik entertainment memang mengalami hal serupa dengan para seniman panggung lain. Pandemi memaksa mereka menghentikan olah rasa dari hobi yang melekat dalam jiwa mereka. Selain menjadi salah satu tumpuan hidup mereka menghidupi keluarga.

Hari Sabtu (27/06/2020) menjadi event pertama mereka setelah lama vakum dari dunia hiburan. Nareswara akan ikut meramaikan acara bertajuk “Cover Song” di SMK PGRI 2 Ponorogo. Rasa kangen itu sedikit terobati. Apalagi lagu Tatu (Didi Kempot) dan Lathi (Weird Genius) yang telah digubahnya akan disajikan menjadi semangat eksplorasi rasa dari lamanya vakum manggung.

Dedikasi Nareswara Atas Tatu­-Lathi Keroncong Indonesia

Tak bisa dipungkiri, lama tak bersuara di jagad hiburan, Nareswara merindukan sorak-sorai penonton. Kelompok keroncong modern yang beberapa kali mengiringi penyanyi NdarboyGenk saat konser ini mengaku kehilangan gairah hidupnya jika lama takmanggung.

“Biasanya setiap sabtu dan minggu selalu ada event, pasti beda. Karena wabah kami semua kangen manggung. Apalagi seminggu 5 kali kita pasti kumpul. Ya seperti ini. Chemistry kita sudah terbentuk, bisa dibayangkan kalau 4 bulan tidak pernah bertemu sama sekali. Di group WA juga sepi tidak ada pembahasan,” Tutur Icha

Memang, 4 bulan itu bukan waktu yang singkat untuk meredam hasrat bermain musik bersama. Musik ibarat alat komunikasi bagi mereka. Seperti kerinduan yang di rasakan Adi pemain Keyboard Nareswara yang juga teman Daru (Ndarboy) semasa SMA di Bantul Yogyakarta.

“Satu bulan lalu saya benar-benar merasakan berada di dunia lain. Kebiasaan kita (red: Nareswara) berkumpul dan bermain musik, otak saya rasanya tersumbat. Tidak ada kreatifitas yang muncul. Pertemuan pertama ini saya rasakan memunculkan kembali kreativitas saya,” Imbuh Adi.

Pandemi yang tak bisa diprediksi memang menyekat kehidupan. Berbagai pembatasan kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa menyebabkan acara hiburan ikut dilarang. Begitu pula aktivitas Nareswara sebagai penghibur.

“Pandemi ini tak bisa diprediksi berakhir kapan, sehingga tidak ada kejelasan. Apalagi di-planning. Kami (red: Nareswara) hanya menunggu kebijakan pemerintah,” Ungkap Icha merenungi kondisi 4 bulan lalu.

Nareswara merupakan kelompok keroncong modern yang terbentuk pada Januari 2019. Diprakarsai oleh Icha, Dimas dan Deo atas kerinduaannya bermusik keroncong di Surabaya. Mereka berkeinginan membentuk kelompok musik entertainment dengan dalih ingin memperkenalkan keroncong kepada kaum millenial. Kelompok keroncong modern ini terdiri dari (Dimas (Biola),  Deo (Cak), Siwi (Cuk), Danang (Selo), Aris (Gitar), Momon (Bass), Adi (Keyboard), Arjuna (Drum), Agung (Vokal), Icha (Vokal) dan Redy (Kendang). Meskipun memiliki latar belakangpekerjaan berbeda-beda, karena kesamaan hobi mereka mendaulat dan melebur dalam kelompok musik keroncong bernama Nareswara.

Nama Nareswara sendiri terinspirasi dari nama anak salah satu personil Nareswara. “Cocoklogi dari nama anak saya, namanya Nares. Lalu, saya gabungkan dengan kata yang berkaitan dengan musik yaitu Swara. Kan cocok, jadilah nama Nareswara,” Icha bersemangat menceritakan terbentuknya Nareswara.

Terbilang sedikit kelompok musik yang memilih mengolah musik keroncong asli Indonesia, agar kembali mengikuti arus trend musik anak muda. Nareswara menyajikan berbagai lagu yang hangat dan dikenal masyarakat. Seperti Tatu, Dalan Liyane, Sing Tak Sayang, Balungan Kere dan lagu Lathi dari Weird Genius yang sedang naik daun di jagad Youtube.

Nareswara beralasan lagu-lagu ini sedang menjadi perbincangan masyarakat. Keroncong sebagai genre musik yang tak lagi mendapat tempat di telinga anak muda, harus disisipkan dalam alam musik telinga anak muda yang terbiasa mengikuti trend media sosial.

“Keroncong itu universal dapat dimainkan dalam genre apapun. Namun, saat ini keroncong cederung terkikis, paling-paling yang kenal hanya mbah-mbah (red: orang-orang tua) kita. Anak-anak SMA dan anak muda sudah jarang mendengarnya. Dari situ kita (red Nareswara) mencoba memperkenalkan pelan-pelan lewat lagu-lagu yang kekinian. Kalau sudah mengenal mereka akan penasaran. Ya, generasi millenial sebenarnya lebih cerdas dan kepo. Pasti mereka akan mencarinya di google. Meskipun kami sendiri masih bingung mencari cara mempromosikan keroncong ke mereka (red: anak muda),” Icha menuturkan sembari menunjukkan gelagat bingungnya.

Dedikasi Nareswara Atas Tatu­-Lathi Keroncong Indonesia

Hampir setahun para personil Nareswara bersama. Nareswara pun mulai dikenal di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Saking padatnya jadwal manggung, Nareswara pernah mengalami benturan jadwal manggung.

“Pernah suatu kali mengisi acara di wedding. Tuan rumah sudah pesan sekalian request lagu. Eh, h-1 ditelfon Darboy diminta mengiringnya main di Trenggalek. Kita (Red: Nareswara) terima biasanya kan main malam. Gara-gara kita nggak merinci tawaran, ternyata main jam 2 siang, benturan dengan acara wedding. Karena kita harus tanggungjawab terpaksa dipecah dua. Kami (red: Nareswara) cepat-cepat ngontak teman elektone dan vokal. Di wedding terpaksa kami hadiri sampai akhir acara. Tanpa persiapan apapun, alhamdulillah Darboy cocok dan puas dengan Nareswara. Kayak mimpi!,” Icha bercerita disambut tawa personil Nareswara lainnya.

Bagi Nareswara penonton adalah rindu. Atmosfir penonton membuat haru dan gegori para pemain Nareswara. Apalagi dengan hadirnya bintang tamu seperti Darboy yang puas dengan iringan Nareswara, membuat kangen sorak-sorai penonton di telinga dan pandangan mata kelompok musik Nareswara. Tak sedikit pula masyarakat pecinta Nareswara yang kangen dengan sajian musik mereka yang tergolong beda dengan kelompok musik lain di Ponorogo. Antusiasme penonton seolah menjelma rindu yang kerap kali bergaung. Apalagi saat pandemi tak kunjung usai.

Dunia bagaikan terbelah dua. Ada dunia nyata dan ada dunia maya atau yang lebih akrab disebut dunia digital. Perkembangan dunia yang muskil dihindari, membuat Nareswara terus berinovasi di jagad keroncong. Tekad menyebar virus keroncong tertanam di lubuh hati mereka. Tak pelak, Nareswara pun membidik para generasi millenial yang tak mungkin bisa lepas dari media sosial.

“Salah satu yang menyebabkan mereka tak dekat dengan Keroncong karena apa yang mereka tonton di dunia digital. Keroncong terhitung minim di media sosial. Paling-paling Gesang, waljinal dll. Kalau mencari musik Pop keluar banyak. Makanya Nareswara sebisa mungkin juga mengikuti arus anak muda…” Ungkap Icha.

Prihal konten, Nareswara tak begitu mempermasalahkan jika ada yang mengunggah video mereka. Meraka cenderung berterimakasih ketika video saat manggung di unggah ke media sosial. Namun tetap harus beretika. Hal itu malah membantu dedikasi Nareswara untuk membumikan kembali musik keroncong di kalangan anak muda.

“Nareswara hanya ingin menggekbrak telinga kaum millenial dengan musik keroncong. Dengan cara itu virus keroncong akan semakin cepat menyebar,” Kata Icha.

Satu hal yang menjadi harapan Nareswara. Banyak seniman dari Ponorogo, banyak kesenian juga yang lahir dari Kota Ponorogo. Keinginan Nareswara dapat diberikan ruang untuk memperkenalkan musik keroncong ke anak muda.

“Kami (red: Nareswara) hanya berharap pemerintah dapat menyediakan ruang publik ataupun waktu khusus seperti acara musik yang dulu setiap malam minggu diadakan di Taman GOR (Klono Sewandono) oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo,” Pungkasnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Penerimaan Pajak Menurun, UPPD Temanggung Intensifkan Samsat Keliling

Read Next

Polres Blora Lakukan Kerja Bakti di Taman Makam Pahlawan