Musik, Tasawuf dan Makrifat

musyahadah cinta

Konfirmasitimes.com-Jakarta (21/06/2020). Salah satu ungkapan yang sangat masyhur di kalangan praktisi tasawuf Islam dari dahulu hingga sekarang adalah “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” (Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya).

Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa ketika seseorang mengetahui bahwa sifat-sifat yang melekat di dalam dirinya merupakan kebalikan dari sifat-sifat Allah SWT. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya akan hancur, niscaya ia akan sadar bahwa Allah mempunyai sifat baqa’ (abadi).

Kitab Lathaiful Minan karya Syekh Ibnu Athaillah juga menjelaskan beberapa keterangan dari gurunya, Syekh Abul Abbas al-Mursi. Suatu saat Syekh Ibnu Athaillah mendengar Syekh Abul Abbas al-Mursi menjelaskan ungkapan berbahasa Arab, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”, seseorang yang menyadari kelemahan diri sendiri, maka akan mudah mengenal Tuhannya.

Begitu juga ketika ia mengetahui dirinya diliputi oleh dosa dan kesalahan, maka ia akan menyadari bahwa Allah bersifat Maha Sempurna dan Maha Benar. Orang yang mengetahui kondisi dirinya sebagaimana adanya, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagaimana ada-Nya.

Terjemahan di atas paling tidak sudah sedikit mewakili apa yang dijelaskan Syekh Abul Abbas. Artinya, orang yang ingin dimudahkan mendekatkan diri pada Tuhannya, perbanyaklah introspeksi kekurangan diri sendiri, daripada merasa lebih hebat dari orang lain.

Kata orang Jawa, Ojo rumongso, jangan merasa intelek sendiri, jangan merasa paling kaya sendiri, jangan merasa paling berkuasa sendiri, jangan merasa paling-paling yang lainnya.

Toh semua itu hanyalah anugerah dan titipan Tuhan semata. Hanyalah sebab Rahman (kasih) dan Rahimnya (sayang) Allah SWT. Dengan cara tidak rumongso itu, insya Allah Tuhan akan mengarahkan kita mendekat dan mengenal-Nya.

Lagu Musyahadah Cinta yang rilis pada tahun 2017 bergenre pop dengan tema religi yang mana menceritakan tentang perjalanan Tauhid seorang hamba. Musyahadah dan Munajatnya kepada Tuhan.

Dimana sebuah keniscayaan dalam mencari Tuhan, sebelum seorang hamba mengenal jati diri dalam fitrah sesungguhnya barulah ia akan menemukan begitu maha kuasa serta dekatnya Tuhan bahkan melebihi cinta dan hidup itu sendiri “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” menjadi inti awal permulaan lirik lagu ini.

“Seolah menceritakan, apa itu perjalanan dan pergulatan pencarian kebenaran, mengapa kemudian pencarian itu dimulai dari diri sendiri, lantas kemudian apa yang hendak dicari dalam hidup ini? jika bukan dan tidak lain adalah kembali kepada Rabbi yang memelihara kita dengan kasih sayang,” jelas Sastro Adi, penulis lagu Musyahadah Cinta

Lanjut Sastro, “sungguh apa lagi yang akan kita mintakan kepada Tuhan, sebab bahkan nafas yang berhembus adalah karunia cinta yang luar biasa tuhan kepada hambanya,” terang sastro.

“atau lantas apa yang akan kita banggakan? bahkan se detak jantungpun kita tidak berkuasa atasnya (diri kita-Red), maka pada akhirnya seolah akan mengatakan bahwa bersyukur, menghamba, tunduk, patuh adalah ungkapan cinta terbesar dari Makhluk kepada Khaliq dan jawaban dari semua pertanyaan hidup adalah Ia (Tuhan-Red), sekali lagi Ia Allahu Rabbil Alamiin,” jelas Sastro Adi, pencipta lagu Musyahadah Cinta.

Sastro Adi
Sastro Adi

Sastro Adi adalah seorang produser muda yang lahir dari kalangan santri.

Sastro telah malang melintang di industri musik Indonesia, dia pernah tergabung di Group Powermetal dan Blackout, pun pernah menjadi live musik direktor Reza Artamevia di java jazz festival tahun 2015.

Sampai saat ini, Sastro Adi masih menjadi musik direktor live session Fatin Shidqia Lubis.

Penasaran apa yang melatar belakangi tersusunnya bait lirik lagu Musyahadah cinta, awak media Konfirmasitimes.com berusaha menggali lebih dalam dari penulis, Sastro mengungkapkan bahwa musyahadah cinta terinspirasi dari Munajat Syekh Abdul Qadir Al Jaelani.

“Serba susah menjelaskan latar belakang penciptaan lagu ini, sebab ada proses lagu ini yang melalui mimpi dan riskan perdebatan dan fitnah didalamnya,” ujar Sastro.

Sastro menceritakan bahwa lagu musyahadah cinta bisa tercipta dari notasi reffnya, saat itu Sastro Adi dan Abdullah Wong diminta untuk berkolaborasi penutupan acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU di Ponpes Sunan Drajat Lamongan Jawa Timur.

“Seperti biasanya kita berkolaborasi monolog dan penggalan syair, karena memang ini dadakan, kita nggak tau mau mengangkat tema apa? akhirnya secara spontan kami berdua mengangkat tema cinta,” jelas Sastro.

“Tatkala Abdullah Wong tengah melakukan monolog tiba-tiba di telinga sebelah kanan saya seperti ada yang membisikkan Ilahi anta maqsudi, wa ridholka mathlubi, a’tini mahabbataka, wa ma’rifataka….. itu berulang ulang dan sembari menuntun nada dan notasinya. dan setelah itu tentunya saya menirukan dan kemudian melantunkannya,” lanjutnya.

Dengan hati-hati, Sastro Adi mau sedikit menceritakan bahwa lagu Musyahadah cinta juga berkaitan erat dengan sebuah mimpi yang dialaminya.

“…..7 bulan setelahnya, ada kejadian yang sangat menarik, saat itu saya bermalam di radio NU lantai 7 karena terlalu larut untuk pulang akhirnya saya menginap di kantor (PBNU-Red), kira-kira pukul 3 saya bermimpi ada orang yang membisikkan sesuatu ketelinga kanan saya berulang ulang, antara sadar dan tidak, mencoba mengingat ingat, sepertinya kata dan nada ini pernah aku dengar, tapi dimana?…….,” ungkap satro.

Lanjutnya, “singkat ceritanya saya terbangun dan mengambil air wudhu, karena mimpi ini tidak biasa, dan terjadi berulang ulang, maka kuputuskan untuk sholat 2 rakaat, entah saat itu niatnya apa aku juga lupa, kemudian kulanjutkan tidur lagi karena memang ngantuk berat,” terang Sastro sambil mengeluarkan ketawa kecilnya.

Dengan nafas berat sambung Sastro, “Dan kemudian apa yang terjadi? mimpi itu berlanjut dengan cerita yang sama, tapi kali ini ada adegan orang yang didalam mimpi itu menepuk pundak dari belakang dan mengajak saya mengucapkan Al fatihah, setelah mengucapkannya kemudian saya menoleh kebelakang, saat itulah orang dalam mimpi itu saya ingat betul wajahnya dan tidak akan saya ceritakan bagaimana detailnya, biarlah itu menjadi rahasia,” tegas Sastro.

Dari mimpi tersebut, Sastro memulai proses produksi lagu ini. “Kemudian saya bangun, menghidupkan laptop dan mulai menyusunnya kedalam sebuah lagu utuh dengan menyusun syair tambahannya saat itu juga, hingga jadilah lagu yang berjudul Musyahadah Cinta,” diceritakan Sastro inspirasi dari lagu Musyahadah cinta.

“Proses lagu ini hanya membutuhkan waktu 3 jam dan kemudian saya buat video text ya hanya seperti itu dan aku upload. ya begitu saja,” tambahnya.

Menurut Sastro, musyahadah cinta memiliki makna bersaksi dengan perasaan fitrah yang berujung kepada Rasulullah SAW.

“Musyahadah serumpun dengan kata Syahida-Shaahada yang bisa bermakna bersaksi, menyaksikan, dan cinta sendiri aku maknai perasaan yang murni (fitrah), ketundukan, total kepatuhan kepada Rabb (Tuhan-Red) yang tidak lagi membutuhkan alasan, kata, sebab dan tentunya akan bermuara kepada Rosulullah dan para penerusnya sebagai wasilah dan penghulunya,” jelas Sastro.

Sastro Adi memperkenalkan lagu ini kepada seluruh pendengar untuk berdiskusi dengan memberikan masukan ataupun berbagi cerita yang berkaitan dengan lagu musyahadah cinta, sehingga diharapkan dapat diperoleh makna yang lebih dalam setelah berbagi cerita.

“Saya mengupload hanya untuk mendapatkan feedback, apakah ada yang merasakan seperti ini juga? andaikata ada sekiranya mau berbagi cerita, sebab segala sesuatunya yang saya alami juga butuh untuk di simak dalam rangka mengingatkan kami apabila ada sesuatu yang tidak tepat atau kesalahan didalamnya. sehingga memperoleh makna yang lebih dalam setelah berbagi cerita,” ungkap Sastro.

Diungkapkan oleh Sastro, lagu ini mengandung pesan yang diperuntukkan bagi diri sendiri dan siapapun yang ingin mengenal dirinya dan Rabb nya (Tuhan-Red).

“Lagu ini menurut saya pribadi, tidak sebatas bagi kaum muslimin saja, perkara disana ada diksi arab dan munajat seorang waliyullah yang alim, tetapi pesan yang disampaikan adalah universal,” kata Sastro.

Sejauh ini video lagu musyahadah cinta telah menerima banyak komentar positif, salah satunya Amir Cmr mengatakan “Alhamdulillah,,,,, easy listening,,, lirik nya ngena,,, reff nya mudah dihafal,,, josssss mas ku,”.

Kemudian Nurul Ihsan yang menyatakan lagu ini patut untuk dijadikan rekomendasi lagu religi.

“Alhamdulillah . . . . tambah satu lagi lagu Religi yang Recommended . . . .,” kata Nurul.

Penasaran bagaimana menarik dan easy listening-nya lagu musyahadah cinta? tonton dan dengar lagunya disini.

Khadim NU

Penutup wawancara awak media Konfirmasitimes.com dengan Sastro adi, karena sebelumnya satro sedikit menyinggung tentang Nahdlatul Ulama (NU). wartawan pun menanyakan alasan Sastro yang berlatar belakang musisi dan seniman ikut menjadi khadim (pembantu-Red) di NU.

Menurut Sastro membantu NU untuk membantu diri sendiri, menjaga NU juga dalam rangka menjaga diri sendiri. Sebab dengan menjaga dan membantu NU sama dengan menjaga warisan Islam, warisan keilmuan, warisan budaya, warisan manhaj (metodelogi-Red).

Membantu dan menjaga NU sederhananya sama juga membantu dan menjaga kumpul yasinan dan tahlilan tetap terpelihara, dengan terjaga terlaksananya yasinan dan tahlilan sama dengan menjaga tetap terlaksananya silaturahim, tetap terjaganya ta’dzim serta berbaktinya yang muda ke yang tua juga berbaktinya anak kepada orang tua, tetap terjaganya pembacaan kalimat thayyibah, tetap terjaga dan terlaksananya kiriman shadaqah jariyah kepada generasi sebelum yang telah meninggal dan generasi selanjutnya yang juga akan mengikuti mereka.

“Kalau saya tidak ikut membantu dan menjaga NU, ga ada yang menjaga dan membantu yasinan dan tahlilan tetap terlaksana. kalau ga ada pelaksanaan yasinan dan tahlilan, ga ada yang doa kan orang tua ku, ga ada yang akan kirim hadiah yasin, kalimat thayyibah. tegas Sastro.

Lanjut sastro, “Kalau aku ga kenal yasin dan tahlil, lebih-lebih lagi anakku ga akan kenal yasin dan tahlilan. kalau anakku ga kenal yasin dan tahlilan, siapa yang kirimin aku hadiah alfatihah, yasin, kalimat thayyibah dan bacaan Qur’an ketika meninggal. saya mungkin saat itu ga bawa bekal yang banyak, karna itu penting bagiku menjaga warisan yang baik tersebut sampai ke generasi berikutnya, dalam rangka menjaga diriku sendiri,” terang Sastro.

Sastro juga mengupas sedikit dinamika yang lagi booming saat ini, dengan istilah new normal. ahir ahir ini semua diarahkan dilakukan secara virtual, dan pola hidup itu sangat tidak mungkin anak bisa berbakti kepada orang tuanya yang telah sepuh dan kondisi sakit.

“Contoh saat ini kita sibuk dengan new normal, pola hidup diarahkan memanfaatkan tekhnologi, komunikasi dilakukan secara virtual. Emang orang tua yang sudah sepuh bisa diurusin anaknya secara virtual tanpa kontak fisik dan ketemu langsung (silaturahim-Red)? atau kita besok disaat sudah sepuh mau diurusin anak kita dengan virtual?, tanya dan tutup sastro.

Lirik Musyahadah Cinta

Jika aku mencari Tuhan
Niscaya takkan kutemui
sebelum ku mengerti
siapakah diriku
Man Arafa Nafsahu
Faqah Arafa Rabbahu

Aku berada diantara
dalamnya samudera dan kesunyian
Tingginya angkasa dan keramaian
Kusebut NamaMu Ya Rabbi

Ilahi Anta maqsudi
Wa RidhoKa mathlubi
a’tini mahabbataKa
wa Ma’rifataKa
Engkaulah maksudku
Engkau tujuanku
Engkau Cinta Rindu dan Hidupku

Demi nafas yang Kau hembuskan
(kepadaku)
Demi Kasih Sayang yang Kau berikan
Tak sedetak jantung pun kuberkuasa
Sebab segalanya MilikMu

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Catat! Warga Riau Bisa Saksikan Gerhana Matahari Cincin Hari ini

Read Next

Harus Ditindak Tegas, Mobil Truk Bertonase yang Overload