Seorang Santri Mampu Menanam Kurma di Lahan Tandus Menjadi Tempat Wisata

Konfirmasitimes.com-Jakarta (18/06/2020). Syukri seorang warga Kabupaten Aceh yang hanya berpedoman pada Surat Yasin ayat 33 dan 34, ia mampu mengubah lahan tandus di kawasan lembah Barbate Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar menjadi kebun kurma meski tanpa dasar ilmu pertanian.

Latar belakang Syukri sebagai santri meneguhkan keberaniannya membuka kebun kurma dengan merujuk dua ayat Alquran itu yang berbunyi “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka”.

Berdasarkan ayat itu, Syukri mulai berpikir dan melihat peluang untuk berkebun walaupun sering diremehkan akibat informasi negatif tentang pohon kurma yang tidak tumbuh dan berbuah di tanah Indonesia.

Waktu itu banyak berita yang menggambarkan pohon kurma tidak tumbuh di Indonesia karena kondisi alamnya yang tidak cocok.

Dalam keterangannya Syukri, Rabu (17/06/2020) menjelaskan bahwa tananam kurma bisa tumbuh di Indonesia, terutama di daerah Aceh yang memiliki tanah yang begitu subur.

“Sementara kurma adalah tanaman di Timur Tengah yang hidup subur di lahan tandus. Yang bermasalah adalah cara berpikir kita yang negatif, padahal kita mayoritas muslim dan apalagi di Aceh yang tanahnya begitu subur, apa saja bisa kita tanam,” jelasnya.

Syukri kemudian membandingkan struktur geografis lahan yang ditumbuhi pohon kurma sesuai yang disebut dalam Alquran. Pohon kurma bisa tumbuh di daerah tandus, tidak ada mata air, gersang dan bebatuan. Baginya, lembah Barbate sangat cocok dengan ciri tersebut.

Syukri menambahkan jikalau dirinya memiliki dasar ilmu pertanian. Mungkin banyak pertimbangan untuk menanam benih kurma di lahan gersang, karena baginya terlalu banyak yang meliti sehingga tidak akan berani menanam. Ia hanya mengambil keputusan untuk menanam dulu baru belajar.

“Setelah itu baru datang teman-teman dari kampus dan dari luar mengajarkan cara pengolahan tanah dengan baik,” katanya.

Syukri juga menjelaskan bahwa di tahun ketiga ia berkebun, mulai banyak berdatangan orang yang ingin tau tentang pohon kurmanya. Kini, kebunnya sudah menjadi tempat wisata.

“Semakin hari orang yang datang semakin ramai. Jika hari Sabtu dan Minggu mencapai 1.000 orang sementara hari biasa sekitar dua ratusan. Ada yang dari kampus, sekolah, bahkan dari Medan dan luar negeri ke sini untuk belajar menanam pohon kurma,” tuturnya.

Syukri mengungkap, kebun kurma yang dikelola sejak Desember 2015 itu, hingga kini luasnya mencapai 150 ha dan ada 20.000 batang kurma yang sudah tumbuh dengan 10 jenis diantaranya barhi, ajwa, medjool, deglet noor, lulu, ghanami, khalas, um ed dahan, kl one dan khenaizi.

“Jenis kurma barhi sangat cocok dengan iklim di sini dan panennya bisa dalam waktu singkat,” katanya.

Pohon kurma sendiri, masa tanamnya sampai berbuah sekitar 5 tahun. Buah kurma masuk fase matang dengan sempurna sekitar 180 hari. Satu tandan, normalnya berbuah 5 sampai 12 kilogram. Satu batang bisa menghasilkan 24 tandan. 

Kelebihan lain, sebut Syukri, pohon kurma tumbuh lama sampai 100 tahun dan benihnya bisa dikembangkan. Kurma merupakan salah satu makanan pangan yang ada zakatnya dan bisa tahan lama.

Nilai jual kurma juga sangat menjanjikan, satu kilogram berharga mulai satu kilo Rp30.000 bahkan ada yang Rp1 juta.

Di kebunnya, tambah Syukri, pengunjung bisa membeli langsung baik kurma muda atau matang bahkan menikmati minuman khas jus kurma. Ia juga menyediakan fasilitas bermain berupa motor roda 4 jenis atv, memanah dan menunggangi kuda. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Seoul Balas Pyongyang, Memperingatkan Konsekuensi

Read Next

Rawan Bentrok Fisik Putusan Sengketa Yayasan PSHT, Petinggi Polri Dan TNI Di Jatim Temui Tokoh PSHT