Utang Luar Negeri Indonesia Capai 400 Miliar Dollar

bank indonesia

Konfirmasitimes.com-Jakarta (17/06/2020). Melambatnya perekonomian dan kebutuhan biaya yang besar untuk penanganan pandemi Covid-19, timbul pertanyaan terkait posisi utang luar negeri Indonesia.

Bank Indonesia secara berkala, menginformasikan posisi utang luar negeri Indonesia, sehingga masyarakat mendapat informasi yang akurat.

Sampai akhir April 2020, BI mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia, sebesar 400,2 miliar dollar AS, terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) sebesar 192,4 miliar dolar AS dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 207,8 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN Indonesia itu tumbuh 2,9%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2020 sebesar 0,6%.

“Hal itu disebabkan oleh peningkatan ULN publik ditengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta. Dengan pertumbuhan tersebut, struktur  ULN Indonesia pada April 2020 masih sehat dan terkendali,” demikian pernyataan BI dalam dalam keterangannya, Senin (15/06/2020).

Laporan BI menunjukkan, pada April 2020, ULN Pemerintah meningkat, setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi. Posisi ULN pemerintah pada akhir April 2020 tercatat sebesar 189,7 miliar dolar AS atau tumbuh 1,6% secara tahunan, berbalik dari kondisi bulan sebelumnya yang terkontraksi 3,6% . Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh arus modal masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), dan penerbitan Global Bonds Pemerintah sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pembiayaan, termasuk dalam rangka penanganan wabah COVID-19.

BI menegaskan, “Pengelolaan ULN Pemerintah dilakukan secara hati-hati dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas yang saat ini dititikberatkan pada upaya penanganan wabah COVID-19 dan stimulus ekonomi.”

Sektor prioritas tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,3% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,4%), sektor jasa pendidikan (16,2%), sektor jasa keuangan dan asuransi (12,8%), dan sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,6%).

Sementara itu, tren perlambatan ULN swasta masih berlanjut. ULN swasta pada akhir April 2020 tumbuh sebesar 4,2% secara tahunan, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 4,7%.

“Perkembangan ini disebabkan oleh makin dalamnya kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan di tengah stabilnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan. Pada akhir April 2020, ULN lembaga keuangan terkontraksi 4,8% secara tahunan,  lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 2,4%,” seperti dikutip dari laporan ULN Indonesia BI.

Di sisi lain, ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sedikit meningkat dari 7,0%  pada Maret 2020 menjadi 7,3% pada April 2020. Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,4% dari total ULN swasta adalah sektor jasa keuangan & asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin (LGA), sektor pertambangan & penggalian, dan sektor industri pengolahan.

Terkendalinya struktur ULN Indonesia, tegas BI, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir April 2020 sebesar 36,5%, sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 34,6%. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,9% dari total ULN.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

UMKM Bisa Jadi Pemain Tangguh di Era Ekonomi Digital

Read Next

Sikap PBNU Terhadap RUU HIP Perkuat Pancasila Sebagai Konsensus Kebangsaan