Menjaga Warisan Budaya, Menjaga Indonesia

Ketut Wiradnyana, Kepala Balai Arkeoologi Sumut

Ketut Wiradnyana, Kepala Balai Arkeoologi Sumut

Konfirmasitimes.com-Medan (15/06/2020). Setiap 14 Juni diperingati sebagai Hari Purbakala, dan pada tahun 2020 ini merupakan peringatan yang ke 107. Peringatan hari Purbakala ini merujuk pada pada 14 Juni 1913 dimana pada saat itu diterbitkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 62 yang menyatakan resminya didirikan lembaga khusus yang menangani permasalahan kepurbakalaan yang bernama ‘Oudheidkundige Dients in Nederlandsch Indie’ atau bisa disebut Dinas Purbakala.

Lembaga ini tidak hanya menangani wilayah Jawa dan Madura, namun mencakup wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan bagian timur wilayah Hindia Belanda. Orang  yang sangat berperan besar dalam mendirikanya adalah Prof. Dr. Nicholaas Johanes Kroom. Pada peringatan Hari Purbakala ke 107 ini mengusung tema “Saya Indonesia, saya peduli warisan budaya”.

Prof. Dr. Nicholaas Johanes Kroom
Prof. Dr. Nicholaas Johanes Kroom

Dengan menjaga warisan budaya kita akan tumbuh menjadi bangsa yang besar karena dapat menggali nilai-nilai universal yang ada di dalamnya hingga dapat berproses kearah yang lebih maju. Aristoteles yang menjadi guru Raja Alexander di usia 16 tahun pernah berpesan “Aku tahu engkau seorang yang cerdas, berbakat besar, memiliki kekayaan dan kekuasaan. Aku meramal kelak engkau akan menjadi raja yang besar, penakluk dunia. Engkau harus selalu mengingat pesanku ini, engaku boleh menaklukan negeri manapun, bangsa apapun, tetapi jangan pernah sekalipun engkau hancurkan peradaban dan kebudayaanya. Jika engkau melanggarnya maka seluruh manusia disepanjang zaman akan mengutukimu sebagai manusia biadab, karena tindakan itu sama saja membunuh kemanusiaan”.

Ramalan Aristotes akan Alexander ternyata terbukti, Raja Alexander berkuasa hampir di hampir seperempat bumi. Membentang dari Yunani hingga India. Dalam karirnya Raja Alexander tidak pernah melanggar pesan gurunya. Alexander justru memperkaya perbendaharaan peradaban dunia dengan budaya Helenism yaitu pencampuran budaya barat dengan budaya timur.

Dalam merefleksikan Hari Purbakala ini awak media konfirmasitimes berbicara langsung dengan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara yaitu Ketut Wiradnyana di Gg. Arkeologi No.1, Tj. Selamat, Kec. Medan Tuntungan, Kota Medan. Balai Arkeologi Sumatera Utara ini sendiri adalah instansi unit pelaksana teknis dari (UPT) dari Pusat Peneliian Arkeologi Nasional dengan wilayah kerja Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan D.I Aceh.

“Pertimbangan Hari Purbakala ini berdasarkan pada berdirinya lembaga yang menangani kepurbakalaan pada tahun 1913 oleh Belanda, jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun ini Pusat Arkeologi Nasional mengusung tema Saya Indonesia, saya peduli warisan budaya” demikian kata Ketut Wiradnyana kepada awak media kofirmasitimes.com di kantor Balai Arkeologi Medan (13/06/2020).

“Kita berharap, bahwa kita semua peduli dengan peninggalan-peninggaln budaya kita. Dengan mengkaji budaya kita dapat melihat bagaimana gambaran proses masyarakat itu terbentuk dan bagaimana proses kebudayaan itu terbentuk. Proses ini dapat dijadikan sebagai pengetahuan masyarakat, sebagai identitas masyarakat, sebagai objek wisata dan ekonomi.  Dengan mencintai kebudayaan kita bukan berarti kita mengembalikan budaya lama kebudaya sekarang, tidak juga ingin mengembalikan penjajahan kembali. Kita hanya ingin mengetahui bahwa dulu ada proses hingga kita bisa menuju saat ini,” imbuhnya.

“Penting sekali orang paham tentang proses, jadi semua tidak instan, ada proses dibalik itu dan itulah yang paling penting dipahami. Sehingga kita tidak serta merta mudah menjastifikasi, mudah memberikan tanggapan yang kurang tepat. Tetapi kalau kita paham tentang sesuatu dibalik itu, itu  akan membuat kita lebih mudah berbaur satu sama lain. Kalau kita tidak paham, maka konfliklah yang muncul. Jadi dengan kita paham keberagaman kebudayaan Indonesia kita dapat lebih manjaga Indonesiakita  ini. Kita harus paham bahwasanya dari awal kita sudah beragam, budayanya sudah bercampur baur, manusianya sudah bercampur baur. Sekarang ini kita berbeda, sehingga tidak bisa lagi kita katakan ini benar dan itu tidak. Keberagaman ini tidak perlu lagi dipertanyakan tetapi harus kita pahami bahwasanya kita memang beragam dan harus saling menghargai” demikian dikatakan Ketut tentang proses pembentukan kebudayaan dalam menjaga persatuan Indonesia.

“Dalam hal kepurbakalaan masing-masing daerah memiliki keunikanya sendiri dan inilah yang harus kita jaga dan harus dipahami oleh masyarakat. Lewat mempelajari kepurbakalaan kita dapat melihat bahwasanya proses kebudayaan itu selalu berkembang menuju sesuatu yang baru. Kita hanya menjaga jangan sampai perkembanganya itu keluar dari norma-norma yang ada” imbuhnya.

Ketut Wiradnyana Ketika di Wawancarai di Kantor Balar Sumut
Ketut Wiradnyana Ketika di Wawancarai di Kantor Balar Sumut

“Benda kepurbakalaan di Indonesia ini masing-masing mempunyai peranan yang sama dalam memajukan kebudayaan. Bukan berarti candi Borobudur paling bagus dibandingan benda kepurbakalaan lainya. Setiap benda keperbukalaan memiliki nilai sendiri. Borobudur dari segi visual sangat bagus tetapi situs lain bisa jadi memiliki nilai yang lain yang lebih jika ditinjau dari segi yang lain. Sebagai contoh penggalian dua kerangka pada lubang yang sama seperti pada gambar dibelakang saya ini, kelihatan kecil akan tetapi juga memiliki nilai religius dan nilai kesetiaan. Dengan mempelajari kepurbakalaan kita menggali nilai-nilai universal untuk disesuaikan dengan masyarakat,”  demikian dikatakan Ketut terkait peranan benda kepurbakalaan.

“Mari kita sama-sama mempedulikan warisan budaya dan mencintainya, karena banyak nilai-nilai baik dari setiap warisan budaya itu yang dapat kita teladani. Dengan menghargai warisan budaya kita juga telah turut menjaga Indonesia,” demikian pesan Ketut Wiradnyana dalam memaknai Hari kepurbakalaan yang ke 107 tahun 2020 ini.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Temanggung Siapkan Gedung Pemerintah Untuk Tempat Karantina

Read Next

Palangka Raya Harus Saling Bergotong Royong Lawan Covid-19