Pemuda Desa Dari Tanah Bumbu, Tinggalkan Pekerjaan Mentereng Dan Gelar S2 Nya Demi Berjualan Tempe

Produk tempe dalam kemasan yang siap di pasarkan

Produk tempe dalam kemasan yang siap di pasarkan

Konfirmasitimes.com-Boyolali (14/06/2020). Luar biasa mungkin itu kata yang tepat, disaat banyak anak muda yang bercita – cita bisa melanjutkan pendidikan yang tinggi dengan gelar yang mentereng, Hudi Purnawan atau biasa di sapa Hudi, pemuda 27 tahun ini berani menanggalkan gelar S2 berikut pekerjaannya yang sudah mapan, demi menemani sang Ibu guna membesarkan usaha tempe warisan keluarganya.

Hudi selepas wisuda S2 bersama teman seangkatan th 2017
Hudi selepas wisuda S2 bersama teman seangkatan th 2017

Mungkin di luar sana banyak pemuda yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan yang tinggi guna memperoleh pekerjaan yang mapan demi penghasilan yang menggiurkan dengan gaji besar. Selain itu para orang tua banyak berharap dengan jenjang pendidikan yang tinggi, anaknya kelak mampu berguna bagi keluarga maupun sesama dengan gaji yang besar dan pekerjaan yang layak.

Hudi Purmawan ketika Wisuda S2
Hudi Purmawan ketika Wisuda S2

Namun  bagi sosok Hudi, pemuda kelahiran Desa Rejosari Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu Banjarmasin ini, meneruskan usaha tempe sebagai warisan keluarga menjadi pilihannya. Pilihan ini diambil daripada harus menjadi karyawan atau pegawai pada perusahaan orang lain. Apalagi dengan wirausaha sendiri di rumah, bisa sekalian merawat serta menemani ibunya yang sudah berusia 60 an tahun, dimana saat ini ibunya tinggal sendiri. Sedangkan saudaranya yang lain sudah berkeluarga semua dan tinggal tidak satu rumah dengan sang ibu.

“Hidup merupakan pilihan, termasuk dalam pekerjaan, meskipun saya lulusan S2, saya senang bisa meneruskan usaha pembuatan tempe milik keluarga saya. Selain itu saya juga puas, karena bisa merawat sekaligus menemani ibu saya sehari – harinya”, ujar Hudi ketika di hubungi via telepon, Sabtu 13 Juni 2020.

Baginya usaha tempe merupakan nafas keluarga mereka, putera bungsu dari 6 bersaudara ini, menceritakan jika usaha tempe yang sudah ditekuni keluarganya selama tidak kurang dari 18 tahun tersebut, mampu menghidupi dan menyekolahkan saudaranya, termasuk dirinya yang bisa melanjutkan pendidikan pada jenjang S2 di salah satu PTS terbesar di Solo. Oleh karenanya, sayang jika usaha yang sudah dirintis keluarganya tersebut di tinggalkan begitu saja. Padahal jika dia mau beberapa perusahaan dan teman- temanya sempat menawarkan diri agar mau bergabung.

Proses pembungkusan kedelai untuk di olah menjadi tempe
Proses pembungkusan kedelai untuk di olah menjadi tempe

“Banyak perusahaan yang menawarkan pekerjaan kepada saya, namun saya tetap bersikukuh untuk melanjutkan usaha tempe keluarga saya, sayang jika usaha yang sudah di rintis orang tua saya lebih dari 18 tahun ditinggalkan begitu saja. Karena dari tempe inilah, orang tua saya menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak- anaknya”, ujarnya lebih lanjut.

Dia bercerita, pernah suatau saat salah satu teman waktu kuliah di S1 yang berada di Banjarmasin, mengajak bergabung menjadi dosen di salah satu PTS di Banjarmasin. Namun dengan halus tawaran tersebut di tolaknya, padahal jika melihat dari usia, Hudi masih sangatlah muda dan berpotensi untuk terus dapat berkembang. Demi usaha tempe warisan leluhurnya dia tetap bersikeras untuk bertahan di rumahnya, yang sekaligus tempat usaha pembuatan tempenya.

“Pernah suatu saat teman saya waktu S1 dulu, mengajak untuk mejadi dosen pada salah satu PTS di Banjarmasin, namun saya menolaknya karena selain jauh dari rumah, tidak tega rasanya saya meninggalkan ibu menjalankan usaha tempe sendirian”, tutur pemuda dengan latar belakang pendidikan S2 Hukum Kesehatan tersebut.

Kepada konfirmasitimes.com dia menceritakan, jika usaha tempe yang dia kelola sekarang bersama sang Ibu sebenarnya memiliki prospek yang sangat bagus, selain sudah memiliki pelanggan tetap setiap harinya, usaha tersebut pelan – pelan mulai berkembang. Dari usaha pembuatan tempenya, Hudi setiap bulannya mampu mengantongi keuntungan bersih tidak kurang dari 7 juta rupiah, dengan menghabiskan bahan baku kedelai tidak kurang dari 1,2 ton. Penghasilan tersebut jauh lebih besar dibanding saat dia pernah merasakan menjadi karyawan pada beberapa perusahaan tempat dia pernah bekerja. Namun bukan masalah seberapa besar penghasilan yang dia peroleh sejatinya, namun kepuasaan batin dia karena bisa meneruskan usaha orang tuanya selain mampu menemani dan merawat ibunya yang sudah mulai lemah.

Proses penggilingan kedelai
Proses penggilingan kedelai

“Alhamdulillah, untuk penghasilan sendiri dari usaha tempe saya lebih baik dibanding waktu masih kerja pada perusahaan milik orang lain. Saat ini per bulannya saya menghabiskan kedelai tidak kurang dari 1,2 ton dan memperoleh penghasilan bersih kurang lebih 7 jutaan per bulan”, tutur lajang berdarah Nganjuk tersebut.

Dalam melanjutkan usaha pembuatan tempe keluarganya, Hudi kadang kala mengajak para keponakan dan para tetangga guna membantu dalam proses pembungkusannya. Namun untuk proses pengolahannya sendiri, Hudi selalu turun tangan termasuk dalam proses peragiannya yang memakan waktu kurang lebih dua hari. Begitu juga ketika membawa barang dagangan tersebut ke para pelanggan, lajang lulusan Magister Ilmu Hukum ini selalu mengantar kepada para pelanggannya sendiri. Termasuk ketika menjajakan dagangan tempenya di pasar, Hudi akan selalu ditemani dengan setia sang ibunda.

“Dalam pengolahan bahan tempe, biasanya saya sendiri yang mengolah termasuk dalam proses pengantaran ke para pelanggan. Namun ketika proses pembungkusannya, kadang kala di bantu ponakan dan para tetangga”, terang lajang lulusan S2 tahun 2017 ini lebih lanjut.

Harapan ke Depan

Untuk kedepannya putera bungsu dari Ibu Jaminem tersebut tetap akan fokus pada usaha jualan tempenya, dan berharap mampu menambah produksinya serta membuat kemasan khusus berikut merk yang terdaftar pada instansi pemerintah. Dengan begitu pemasarannyapun juga akan lebih baik, dan setidaknya bisa memiliki karyawan tetap pada produk olahan berbahan kedelai tersebut.

Produk tempe dalam kemasan yang siap di pasarkan
Produk tempe dalam kemasan yang siap di pasarkan

Sedangkan untuk mempertahankan kwalitas produknya, dia tetap mempergunakan bahan dengan kwalitas jenis kedelai yang biasa untuk di ekspor. Memang untuk pembuatan tempe sendiri, di daerah tanah bambu belumlah banyak produsennya dan hanya ada beberapa saja. Dia tetap menjaga mutu, karena baginya pelanggan yang sudah ada selama bertahun – tahun merupakan aset yang tidak ternilai dan dia tidak ingin mengecewakan.

“Saya tetap memproduksi tempe dengan terus berkomitmen menjaga bahan baku kedelainya, biasanya saya memakai kedelai yang biasa untuk ekspor yang di datangkan dari daerah Batu Licin. Selain bersih juga besar – besar, jadi bagus untuk hasilnya. Saya menyadari betul bahwa pelanggan saya yang sudah ada selama bertahun- tahun merupakan aset yang sangat berharga, dan saya tidak ingin mengecewakannya”, ujar pria yang pernah bekerja di BPJS Tanah Bambu kalimantan Selatan ini.

Sejalan dengan membesarkan usaha tempenya, saat ini Hudi tengah membangun sebuah tempat yang rencananya akan digunakan untuk toko material bangunan. Yang mana toko ini merupakan hasil sebuah bentuk kerjasama dengan saudaranya. Selain itu modal daripada toko bangunan tersebut juga hasil dari jerih payah penjualan tempe yang selama ini dijalaninya.

“Bersyukur saat ini di samping rumah kita lagi bangun sebuah tempat, yang rencananya untuk tempat material toko bangunan nantinya. Dan ini merupakan bentuk usaha patungan dengan saudara saya. Sedangkan modalnya sendiri saya sisihkan dari hasil penjualan tempe yang selama ini telah berjalan”, ujarnya lebih lanjut.

Dia melanjutkan semoga kedepannya, usaha tempenya tetap berjalan dan terus berkembang. Selain itu Hudi juga berharap akan perhatian dari pemerintah melalui dinas terkait, baik dari dinas UMKM, Dinas perdagangan maupun instansi lainnya. Adanya pelatihan yang sejalan dengan usahanya juga sangat dia nantikan, seperti pelatihan pemasaran dan pelatihan pengolahan produk turunan dari bahan tempe serta lainnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pemprov Kalteng Usulkan Kawasan Food Estate

Read Next

PSBB Kota Bandung Diperpanjang Hingga 26 Juni