Jangan Keterlaluan, Meski Pandemi Covid-19, Tinggal Kelas Tetap Berlaku!

Jangan Keterlaluan, Meski Covid, Tinggal Kelas Tetap Berlaku!

Konfirmasitimes.com-Sumut (14/06/2020). Karena Covid-19, belajar dari rumah diterapkan. Di kota-kota, belajar dari rumah tidak terlalu bermasalah sebenarnya. Pasalnya, selain jaringan internet lancar, rata-rata siswa juga punya hp berkualifikasi jaringan internet.

Namun, di pelosok, belajar dari rumah tak bisa maksimal. Akibatnya, guru tak hanya tak bisa mengawasi siswa, tapi juga tak bisa memberi materi dan arahan. Siswa sama sekali tidak bisa dijangkau. Maruntung Sihombing, Guru 3 T di Papua, misalnya, mengaku hal itu. Akibatnya, siswa-siswa di sana pun naik kelas secara otomatis.

“Di sini, siswa lulus otomatis, Lae,” kata Maruntung Sihombing. Papua memang daerah pelosok. Mau tak mau, perlakuan harus sama: sama-sama naik kelas. Namun, bagi siswa di kota, dengan akses internet yang tinggi, perlu hati-hati karena siswa tidak otomatis naik kelas. Pemerintah sudah membuat aturannya dalam surat edaran bertanggal 24 Maret 2020.

Dalam Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 itu setidaknya dibahas 6 poin penting. Pertama, tentang Ujian Nasional, yaitu menyangkut dibatalkannya Ujian Nasional, juga Uji Kompetensi Keahlian bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Poin lain yang dibicarakan adalah tentang proses-proses atau teknis belajar dari rumah, ujian kelulusan sekolah untuk tiap-tiap tingkatan (SD, SMP, SMA/SMK), penggunaan dana BOS untuk hal terkait Covid, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), dan tentang kenaikan kelas.

Untuk kenaikan kelas sendiri, setidaknya ada tiga poin.

(a) Ujian Akhir Semester untuk kenaikan kelas dalam bentuk tes yang mengumpulkan siswa tidak boleh dilakukan, kecuali yang telah dilaksanakan sebelum terbitnya edaran ini;

(b) UAS untuk kenaikan kelas dapat dilakukan dalam bentuk portofolio nilai rapor dan prestasi yang diperoleh sebelumnya, penugasan, tes daring, dan/atau bentuk asesmen jarak jauh lainnya.
Poin terakhir,

(c), ujian akhir semester untuk kenaikan kelas dirancang untuk mendorong aktivitas belajar yang bermakna dan tidak perlu mengukur ketuntasan capaian kurikulum secara menyeluruh.

Sekilas, ketiga poin di atas membuat jalan tol bagi siswa untuk naik kelas.

Namun, perlu diperhatikan, jika dibaca secara saksama, siswa tidak naik kelas secara otomatis.

Di poin (a), misalnya, dibahas tentang tidak bolehnya siswa dikumpulkan untuk ujian kenaikan kelas, kecuali bagi mereka yang sudah melakukan ujian kenaikan kelas sebelum surat edaran diterbitkan. Artinya, jika ada sekolah telanjur membuat ujian kenaikan kelas sebelumnya dan hasilnya sudah keluar, misalnya, tinggal kelas, poin (a) ini tidak menganulir keputusan tinggal kelas tersebut.

Lebih lanjut, ke poin (b). Di poin (b), ujian akhir kenaikan kelas dapat dilakukan dalam bentuk portofolio nilai rapor dan prestasi yang diperoleh sebelumnya, penugasan, tes daring, dan/atau bentuk asesmen jarak jauh lainnya. Artinya, jika sebuah sekolah sudah menyetujui materi uji kenaikan kelas, lantas siswa tak menyanggupi, sekolah berhak meninggslkelaskan siswa tersebut.

Pada poin (c) memang disebutkan bahwa sekolah tak mesti menuntut ketuntasan capaian kurikulum. Namun, secara tersirat, itu mengacu pada kemauan siswa untuk belajar.

Sekolah tak harus memaksa siswa memperoleh nilai sesuai KKM.

Namun, jika siswa tak kunjung mengumpulkan tugas apa pun, bahkan seperti catatan, pada posisi siswa tersebut mempunyai fasilitas yang lengkap, maka sekolah berhak meninggalkelaskan siswa tersebut. Sebab, siswa tersebut sudah sengaja untuk tidak taat aturan. 

Jadi, bagi kamu yang punya akses internet dan grup belajar, jika gurumu memberi tugas, segera kumpulkan sebelum penyesalan datang terlambat. Sementara bagi kamu yang jauh dari akses internet, bahkan tanpa handphone, toleransi dari gurumu selalu ada.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Menuju New Normal Life, Gorontalo Masuk Masa Transisi

Read Next

Warga Riau Wajib Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan