Kenormalan Baru untuk Pendidikan: Tantangan Mengejar Ketertinggalan

TK Pembina Negeri 3 Humbang Hasundutan

Konfirmasitimes.com-Sumut (29/05/2020). Sudah ramai beredar di media tentang protokol kesehatan untuk sistem pendidikan.

Kita tahu, karena pandemi Covid-19, sekolah diliburkan mendekati tiga bulan. Ini adalah “libur” terpanjang yang pernah ada dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Sekolah dan perguruan tinggi memang harus “diliburkan”. Pasalnya, sekolah sebagai locus adalah tempat berkumpul banyak orang. Pada saat yang sama, pandemi Covid-19 sangat potensial berkembang di kerumunan.

Mengutip data dari Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, per 19 Mei, ada 220.098 sekolah jenjang SD, SMP, SMA, SMK, SLB yang beroperasi di Indonesia. 

Jumlah siswa yang tertampung adalah 44.621.547 peserta didik, dengan 2.720.778 guru, dan 657.444 tenaga kependidikan.

Pada jenjang pendidikan tinggi, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi mencatat sebanyak 4.621 lembaga pendidikan tinggi pada 2019. Ini termasuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, akademi komunitas, dan politeknik.

Keseluruhan lembaga tersebut menampung sebanyak 2.130.481 mahasiswa baru, 8.314.120 mahasiswa terdaftar dan 308.607 dosen. Artinya, dunia pendidikan menyumbang jumlah masyarakat yang masif.

Secara global, menurut data yang kami himpun dari berbagai sumber, sudah lebih 1 miliar siswa proses pembelajarannya terganggu. Menurut UNESCO lagi, lebih dari 40 persen siswa tak punya akses ke internet. Padahal, di masa belajar dari rumah, kebutuhan internet adalah keharusan.

Maka, agar pembelajaran tetap berlangsung, sekolah memang harus dibuka. Sayang, mengikuti lajur berpikir pakar kesehatan, jalan terbaik untuk terhindar dari Covid-19 adalah benar-benar terhindar dari kerumunan. Artinya, sekolah memang harus tetap diliburkan.

Akan tetapi, kehidupan harus dilanjutkan. Apalagi, pendidikan kita sudah jauh tertinggal. Profesor Lant Prichett dalam tajuknya “ The Need for a Pivot to Learning: New Data on Adult Skills from Indonesian”, misalnya, menyebutkan, pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun!

“Saya masih takut ke sekolah,” tutur Winanda Vania Manullang, siswa asal Humbang Hasundutan, Rabu (27/05/2020).

Padahal, sejauh ini, Humbang Hasundutan masih bersih dari Covid-19.

Pengakuan Winanda ini seakan menunjukkan, masih ada keengganan untuk segera bersekolah. Tidak hanya siswa, guru pun masih ragu untuk sekolah, seperti R.Lumban Gaol.

“Jumlahnya makin banyak. Takut juga,” tutur guru SMP 2 Doloksanggul ini.

Meski begitu, banyak juga orang yang sudah berani dengan kenormalan baru. Apalagi, berbagai ahli menyebutkan, karena covid, maka berbagai bentuk kehidupan berubah. Pekerjaan-pekerjaan pun akan berubah.

Tak selamanya lagi harus ke kantor jika bekerja. Tak selamanya lagi toko harus dijaga banyak orang, apalagi karena toko-toko online sudah mulai diminati banyak orang.

Namun, ini berdampak pada masalah baru. Akan terjadi pengangguran besar-besaran.
Berkaitan dengan itu, sistem pendidikan kita pun belum bisa membaca, apalagi mempersiapkan masa depan generasi milenial. Padahal, pendidikan adalah jembatan masa depan.

Masalahnya, dalam data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) disebutkan, 4 persen kasus yang terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia dialami kelompok usia 0 sampai 14 tahun. Ini adalah usia sekolah.

Sementara itu, dari pendataan yang dilakukan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 129 anak meninggal dengan status PDP dan 14 anak meninggal dengan status terkonfirmasi positif. Artinya, bersekolah masih sangat rentan pada Covid-19.

Yang pasti, di atas itu semua, satu hal yang pasti, ada pelajaran dari Covid-19 untuk pendidikan.

Dalam hal terapan teknologi ke sistem pendidikan, misalnya, digital tak lagi bisa sekadar gincu. Digital justru harus menjadi pokok. Barangkali, dengan hal itu, Covid-19 menjadi cambuk bagi kita untuk tertantang mengejar ketertinggalan pendidikan.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Calon Wali Siswa Batam Jangan ke Sekolah Karena PPDB Sudah Online

Read Next

Polres Blora Minta Pemudik Jangan Dulu Pergi ke Jakarta