IGI Menyarankan Awal Tahun Ajaran Dimulai Januari

Masuk Sekolah

Konfirmasitimes.com-Jakarta (29/05/2020). Tahun ajaran baru akan segera dimulai, simpang siur pendapat pun terjadi, kapan sekolah dibuka kembali, hingga mendikbud Nadiem Makarim membantahnya bahwa tahun ajaran baru akan dimulai berdasarkan petunjuk Gugus Tugas Covid-19. 

Namun demikian pernyataan Nadiem Makarim ini justru menimbulkan ketidakpastian kapan sekolah akan dimulai dan mengakibatkan pemerintah daerah gamang dalam mengambil kebijakan, mereka memiliki persepsi masing-masing terkait kapan sekolah dimulai lagi.

Ketua IGI
Ketua IGI

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menuntut kemendikbud memberikan kepastian agar tahun ajaran baru digeser ke bulan Januari. Ia memberikan beberapa alasan mengapa hal itu diusulkan

Pertama, hal itu memberikan kepastian tahun ajaran baru bergeser ke Januari akan membuat dunia pendidikan memiliki langkah-angkah yang jelas terutama terkait minimnya jumlah guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam menjalankan PJJ Online. 

“Kemdikbud harus membuka mata bahwa realitas pembelajaran jarak jauh kita masih bermasalah dan inilah yang selama ini dikerjakan kawan-kawan IGI yang justru tak kami lihat adanya upaya kemdikbud menuntaskan masalah rendahnya kemampuan guru melaksanakan PJJ. Dan karena itu IGI siap mengambil tanggungjawab itu dengan syarat kemdikbud memberikan tanggungjawab itu secara resmi ke IGI.” ungkapnya, Jakarta, Kamis (28/05/2020)

Ia melanjutkan, bahwa hal kedua yaitu, Menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dan orang tua dari stress berkepanjangan. Jika tatap muka dipaksakan, orang tua akan stress, mengapa, anaknya tak ke sekolah takut dihukum oleh sekolah, jika anaknya ke sekolah, takut tertular virus maka sepanjang hari orang tua akan stress memikirkan anak mereka.

Alasan yang ketiga, menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dari penularan Covid-19. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) seperti yang kami uraikan di awal menunjukkan anak didik tak kebal Virus dan juga tetap rentan tertular virus bahkan berpotensi meninggal.

“Jika pun protokol kesehatan dijalankan sekolah, sebesar apa kemampuan sekolah mengontrol siswa ketika sudah berada diluar ruang kelas? Apalagi tugas itu akan diserahkan oleh negara kepada guru-guru yang berstatus non PNS yang dibayar murah oleh negara.” lanjutnya

Ketua IGI juga mengklaim bahwa media RRI dan TVRI tak mampu menggantikan guru, dengan tetap mengandalkan RRI dan TVRI berarti memaksa siswa menjalani satu semester belajar dalam kerugian yang nyata.

Selanjutnya, Ramli menyatakan bahwa portal layanan pendidikan tak mampu menggantikan guru. Portal layanan pendidikan baik yang berbayar punya swasta ataupun yang gratis punya kemdikbud faktanya tak mampu menggantikan guru karena nilai-nilai pendidikan tak terlayani dengan baik, yang ada hanya mengambil sedikit bagian dari layanan pengajaran. Portal-Portal pendidikan ini hanya disiapkan untuk menghadapi ujian atau seleksi tertentu, bukan memenuhi capaian kurikulum.

“Jika disebut darurat, bolehlah digunakan selama 3 bulan awal Covid-19 tapi jika terus dilakukan ini justru bentuk lepas tanggungjawab kemdikbud terhadap guru dan siswa dan kemudian sangat layak jika tagline “Indonesia Terserah” layak disematkan ke kemdikbud.” tegasnya

Di sisi lain, Ramli menambahkan, bahwa usulan menggeser tahun ajaran menjadikan tahun anggaran selaras dengan tahun ajaran. Fakta lapangan menunjukkan berbedanya tahun anggaran dan tahun ajaran mengakibatkan kepsek harus berutang kemana-mana agar bisa menyelenggarakan ujian nasional karena dana Bos belum cair. Meskipun tahun ini sudah mulai diperbaiki tetapi akan jauh lebih baik jika tahun anggaran dan ajaran disemarakkan seperti bidang-bidang lain diluar pendidikan.

Ia juga melihat dari segi ekonomi, menurut Ramli, ekonomi keluarga akan terbebani dengan anak didik kembali ke sekolah dalam kondisi saat ini, mulai dari biaya transportasi, biaya jajan dan biaya lainnya. Sementara kondisi ekonomi mayoritas rakyat indonesia sedang terpuruk

Selain beberapa alasan yang telah disebutkan sebelumnya, Ketua IGI juga membeberkan beberapa alasan lain, seperti, Perlunya pemerintah dalam hal ini kemendikbud mendorong ide-ide kreatifitas para siswa selama masa 6 bulan kedepan, memastikan upaya semaksimal mungkin seluruh sekolah di Indonesia terlayani jaringan internet apapun caranya.

“Kemdikbud segera menjalankan program digitalisasi sekolah dengan membagikan tablet terutama bagi sekolah yang paling banyak siswanya tak memiliki gadget” tutupnya

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Bukan Akibat Pasokan Terhambat, Kenaikan Harga Ayam Ulah Spekulan

Read Next

Calon Wali Siswa Batam Jangan ke Sekolah Karena PPDB Sudah Online