Pekan Laudato Si, Sebagai Konsistensi Untuk Menjaga Bumi

P. Harold Harianja OFMCap (Direktur JPIC Medan).

P. Harold Harianja OFMCap (Direktur JPIC Medan).

Konfirmasitimes.com-Sumut (23/05/2020). Pada tanggal 16-24 Mei 2020 diperingati secara khusus sebagai pekan laudato si oleh umat Katolik seluruh dunia. Hal ini dilakukan sebagai peringatan lima tahun dikeluarkanya Ensiklik : Laudato si’.mi Signoreoleh Paus Fransiskus.

“Judul dari Ensiklik Laudato si’.mi Signore berasal dari madah yang disampaikan St.Fransiskus dari Asisi sebelum hari kematiannya. Dalam bahasa Indonesia madah ini disebut Gita Sang Surya. Dalam madah ini Fransiskus sungguh mau memuji Allah bersama dengan seluruh ciptaan dibumi ini, semua ciptaan  dianggapnya sebagai saudara/i nya mengagungkan Allah.” demikian kata Pastor Harold Harianja OFM.Cap selaku Direktur JPIC Medan kepada awak media konfirmasitimes.com, Jum’at (22/05/2020).

Lebih lanjut P Harold menyatakan: “Dari isi madah ini Bapa Paus Fransiskus mengatakan bahwa Bumi ini adalah rumah kita bersama dan bumi ini benar seperti seorang saudari yang berbagi hidup dengan yang lain dan seperti seorang ibu yang menyambut kita dengan tangan terbuka.”

Sebagai bentuk memperingati pekan laudato si tersebut, JPIC sebagai salah  satu wadah yang konsisten berjuang dalam menjaga lingkungan hidup turut ambil bagian  memperingatinya. Akan tetapi berhubung dalam situasi  pendemi covid 19,  JPIC Medan hanya dapat melakukan diskusi pekan laudao si lewat radio Maria. Kegiatan  ini diharapkan dapat megedukasi serta mengajak masyarakat agar lebih peduli lagi dengan lingkunganya sehingga turut ambil bagian dalam menjaga bumi yang merupakan rumah kita bersama.

Dari pantauan awak media konfirmasitimec.com, kegiatan diskusi laudato si lewat radio ini disambuat antusias oleh para masyarakat. Hal ini dapat  terlihat dari  banyaknya pesan dan telepon yang masuk saat diskusi tersebut berlangsung. Seperti keperihatinan dari pak Peranginangin akan air danau Toba yang tidak lagi layak dikonsumsi. Begitu juga dengan kegelisahan Ibu Beatus akan pemberian izin kerambah di danau Toba yang turut memperburuk kualitas air.

Pada hari pertama pekan laudato si, materi diskusi dibawakan P.  Harold Harianja OFM.Cap (Direktur JPIC Medan) dengan tema: “Mengenal Ensiklik Laudato Si”. Pada diskusi ini difokuskan pada apa itu isi ensiklik laudato si.

Menurut P. Harold dalam Ensiklik ini Paus Fransiskus menyatakan keadaan Bumi sekarang ini menjerit karena adanya kerusakan. Penyebab bumi rusak adalah karena kelakuan manusia yang merasa diri menjadi tuan dan pemilik bumi sehingga mereka berbuat sesuka hati atas bumi. Banyak orang menjadi miskin karena sikap manusia yang diskriminatif, yang egois, yang tidak melihat manusia lain sebagai saudara dan juga karena bumi yang rusak tadi.

Menutup diskusi hari pertama ini P Harold menyimpulkan: “Ensiklik kiranya bukan hanya sebuah dokumen yang tersimpan atau hanya dibuka kalau ada satu hal yang mau diketahui tetapi kiranya menjadi way of life umat. Ensiklik ini juga terbuka untuk semua orang karena nilai-nilai didalamnya bersifat universal.”

Pada hari kedua  pembicara  utama dibawakan oleh  Shelpy Sihaloho dengan tema: Polusi. Pada sesi ini materi lebih menekankan banyaknya polusi yang timbul dikarenakan gaya hidup kita yang terlalu komsumtif. 

“ Masyarakat pada umumnya belum berhasil membatasi penggunaan sumber daya tak terbarukan dan penggunaan yang belum efesien. Dan hal itu berakar adalah asumsi kita yang salah dimana kita tetap konsumtif walau kita sebetulnya tidak terlalu membutuhkanya. Sehingga budaya membuang menjadi sahabat kita. Budaya membuang kita inilah yang dapat mengakibatkan   air tercemar, udara tercemar, tanah tercemar, cahaya tercemar, suara tercemar” kata Shelpy aktifis lingkungan JPIC Medan yang juga merupakan Lulusan Geografi UNIMED ini.

Shelphy Sihaloho saat menyampaikan materi diskusi.
Shelphy Sihaloho saat menyampaikan materi diskusi.

Ketika ditanya bagaimana Cara mengurangi limbah ?. Shelpy menjawabnya dengan melakukan 6 R. Reduce (kurangi pemakaian), Reuse (pemakaian kembali), Recycle (mendaur ulang), Repair (memperbaiki barang yang rusak), Refuse (menolak membeli/mengkonsumsi yang tidak perlu), Rethink (memikirkan kembali dampaknya).

“Perubahan kesadaran, bukan lagi pada sebatas buanglah sampah pada tempatnya tetapi mengurangi sampah sejak dari sumbernya” demikian ditegaskan Shepy pada akhir sesi diskusi yang dibawakanya.

Hari ketiga pembicara utama adalah Frater Mario dengan tema : Perubahan Iklim. Pada Pada diskusi ini Fr Mario memaparkan dengan lugas mengapa terjadi perubahan iklim, siapa para pelaku utama perubahan iklim, dampak perubahan iklim pada bumi kita, serta bagaimana usaha dan tantangan dalam mengatasi perubahan iklim tersebut.

Fr Mario didamping P. Harold Harianja OFM.Cap pada diskusi hari ketiga.
Fr Mario didamping P. Harold Harianja OFM.Cap pada diskusi hari ketiga.

“Perubahan iklim merupakan akibat dari polusi. Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan dan perambahan hutan secara besar-besaran meningkatkan laju polusi dan kerusakan ozon. Apabila terus berlanjut, kehidupan seluruh makhluk hidup akan terancam. Oleh sebab itu, perlu usaha untuk mengubah pola hidup menjadi lebih peduli lingkungan dan bukan mencari keuntungan atau kenikmatan sebesar-besarnya” demikian disimpulkan Fr Mario aktifis bidang lingkungan di JPIC Medan.

Demikianlas semangat para aktifis lingkungan JPIC Medan, sekalipun karena kondisi covid banyak agenda mereka yang harusnya terjun ke lapangan dan membaur dengan masyarakat tidak terlaksana, mereka mencoba menggaungkan semangat konsistensi menjaga bumi lewat diskusi dari radio.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

Tambah Dua Pasien Positif Covid-19 di Sumbar Menjadi 438 Orang

Read Next

Polres Bontang Akan Patroli Terkait Ditiadakannya Takbir Keliling