Atasi Banjir, Perlu Perawatan Gambut

Atasi Banjir, Perlu Perawatan Gambut

Dr.Monalisa saat meninjau gambut

Konfirmasitimes.com-Aceh (22/05/2020). Aceh diterjang banjir bandang tak lama ini. Dalam video yang dikirimkan Dr.Monalisa kepada awak media konfirmasitimes.com sesaat setelah banjir (13/05/2020).

“Itu milik teman saya, milik reje di Paya Tumpi,” tulis Monalisa malam itu kepada awak media konfirmasitimes.com.

Seperti kita tahu, banjir bandang memang akhir-akhir ini melanda beberapa tempat di Aceh. Banjir tak mengenal siapa pun, bahkan seorang reje pun ikut terdampak. Hingga kini, banjir masih potensial di Aceh.

Malah, sampai berita ini ditulis Jumat (22/05/2020), puluhan rumah di Kompleks Villa Buana Gardenia, Desa Lampasie Eungkieng, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar hingga kini masih terendam dengan ketinggian air rata-rata di dalam rumah semata kaki.

Menurut data yang kami himpun, hingga Kamis (21/05/2020), setidaknya ada 20-an rumah di Jalan Apel, Jalan Jambu, dan Jalan Pala yang masih terendam. Artinya, kini warga di lokasi ini menjalani minggu ketiga hidup dalam rendaman banjir.

Tak bisa ditampik, banjir merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim selain kurangnya perhatian kita terhadap lahan, salah satunya penyalahgunaan lahan gambut.

Dr.Monalisa, dosen pertanian di Unsyah, beberapa tahun ini sangat fokus pada lahan gambut. Menurutnya, gambut harus diperhatikan. Lebih-lebih, lahan gambut harus diperkenalkan kepada anak muda.

Atasi Banjir, Perlu Perawatan Gambut
Monalisa saat meninjau rawa di Kuala Seumayam

Maka, pada Rabu (20/05/2020), Monalisa ikut tergabung dalam kampanye lahan gambut bertajuk “Yang Muda Yang Bersuara: Kampanye Lahan Gambut dan Perubahan Iklim ke Anak Muda”.

Menurut Dr.Monalisa, Ketua Dewan Pakar Jaringan Masyarakat Gambut Sumatera (JMG – Sumatera) dan Pembina Jaringan Masyarakat Gambut Aceh (JMGA), serta Anggota Forum Danau Nusantara (FORMADAN), gambut sangat potensial.

Dan, Monalisa mengeluhkan, banjir sedikit banyak diakibatkan penyalahgunaan gambut.

“Untuk situasi banjir di wilayah gambut Aceh Selatan dan Aceh Singkil, benar, salah satunya karena gambut yang rusak,” tegasnya.

Monalisa juga menyebutkan, banjir merupakan dampak lain penumpukan kanal di perkebunan sawit sehingga saat hujan lebat, timbul luapan air.

“Dengan kata lain, tata kelola hidrologi gambutnya jadi tak seimbang,” jawab Dr.Monalisa dari sambungan telepon.

Karena itu, lanjut Monalisa lagi, seharusnya untuk wilayah yang banjir ke depannya dibuat sekat kanal.

“Itu untuk meminimalisasi terjadinya banjir dan fungsi hidrologis gambut jadi seimbang,” sambung Monalisa lagi.

Tanah Indonesia memang banyak mengandung gambut.

Aceh, misalnya, memiliki hutan rawa gambut sangat luas mencapai 179 ribu hektare. Tersebar di Kabupaten Aceh Singkil seluas 100.000 hektare,  Aceh Selatan (Kluet) seluas 18.000 hektare, dan Tripa (Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat Daya) seluas 61,803 hektare.

Kawasan hutan rawa gambut yang berada di Kabupaten Aceh Singkil dan Aceh Selatan telah ditetapkan menjadi kawasan lindung Suaka Margasatwa Rawa Singkil sehingga secara legal harus dilindungi.

Tapi generasi muda Aceh belum sepenuhnya memahami tentang tata cara pengelolaan ekosistem gambut. Lahan gambut masih dianggap sebagai lahan yang tidak produktif,” ujar Dr Monalisa SP MSi, Selasa (19/05/2020).

Potensi lahan gambut di Aceh belum dikelola dengan baik. Masih banyak lahan tidur, umumnya ditanami sawit. Masyarakat umum dan khususnya generasi muda di Aceh belum banyak yang memahami mengelola potensi lahan gambut,” ujar dosen Fakultas Pertanian Unsyiah yang lahir di Banda Aceh  1 Februari 1977 ini.

Hasil observasinya, generasi  yang berada di area hutan gambut, sebagian besar belum memahami fungsi dan manfaat gambut dan masih melihat lahan gambut sebagai lahan yang sulit untuk dikelola.

“Pemahaman ini terbentuk dari pengalaman orangtua mereka,” ujar  Dr Mona yang saat ini menjabat Kepala Divisi Riset dan Pengembangan Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh (PRPIA) UNSYIAH.

Menurutnya hanya sebahagian yang baru menyadari potensi besar lahan gambut dan karenanya harus dilindungi. Monalisa berpesan agar kita menjaga keanekaragaman hayati.

“Kebetulan 22 Mei adalah hari keanekaragaman hayati,” ingat Monalisa.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

Video Jadi Viral, PKS Jatim Sayangkan Tindakan Kekerasan Terhadap Habib Umar

Read Next

E-Learning Gratis Bagi 82 Ribu Madrasah dan 7 Juta Siswa di Indonesia