Ayo Belajar Menulis dari Guru-Penulis Asal Sumatera Utara Ini

Ayo Belajar Menulis dari Guru-Penulis Asal Sumatera Utara Ini

Andil Siregar dengan Siswa-Siswanya

Konfirmasitimes.com-Sumatera Utara (14/05/2020). Sedikit sekali guru yang hobi, apalagi terampil menulis, tidak terkecuali guru Bahasa Indonesia. Dalam esainya yang terangkum di Guru Gokil Murid Unyu, Johannes Sumardinata, misalnya, mengisahkan, dari ribuan guru bahasa Indonesia, tak sampai 0,5 persen yang pernah membaca tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Mereka bahkan tidak mengenali buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Senada dengan itu, menurut penelitian Anita Lie, hampir separuh sampel guru bahasa Indonesia tak bisa menulis 3 paragraf esai. Bahkan, masih ada guru yang tak mengerti apa itu “paragraf”. 

Beda dengan Andil Siregar, guru Fisika di SMA Budi Murni 3 Medan, Sumatera Utara ini sangat gemar menulis. Memang, kata Andil, ia tak pernah bercita-cita jadi guru.

“Namun, saya bercita-cita jadi penulis lho,” katanya kepada awak media konfirmasitimes.com, Rabu (13/05/2020).

Ayo Belajar Menulis dari Guru-Penulis Asal Sumatera Utara Ini
Andil Siregar dengan Siswa-Siswanya

Kata Andil, ia bercita-cita jadi penulis sejak masa kuliah. Ketika ditanya mengapa ia berniat menulis, Andil mempunyai alasan sederhana. “Ingin melihat dunia, membacalah. Ingin dilihat dunia, menulislah,” tantang pemuda asal Humbang Hasundutan ini.

Menurut Andil, sungguh sulit menuangkan ide. “Berbicara mudah, tetapi kalau pas mau menulis, di situlah kita kesusahan,” tambahnya.

“Tapi, jangan menyerah, lanjutkan saja entah menulis apa pun,” lanjut pria yang mengidolakan Stephen Hawking ini.

Andil sangat berharap, guru dan siswa termotivasi menulis. “Namun, sebaiknya tetaplah mereka menyukai hobinya. Tugas gurulah mengarahkan siswa ke hobi itu, seperti menulis,” imbuhnya.

Kata Andil, “jika ingin menulis, maka rumus gampang adalah mau mencoba,” sambung guru muda yang sudah menerbitkan puluhan tulisan di media-media nasional ini.
Guru-Penulis lain bernama Putrina Sidabutar. Guru kimia di Sekolah Bodhicita Medan ini mengaku sudah bercita-cita jadi guru sejak kecil. “Sejak berbicara, aku sudah disebut pemberontak,” kata wanita yang pernah menjadi ketua di salah satu UKM di Unimed ini.

Ayo Belajar Menulis dari Guru-Penulis Asal Sumatera Utara Ini
Putrina Sidabutar dan Siswa-Siswanya

Memang, menulis bagi Putrina sangat sulit. Namun, menjadi mudah jika dilakukan dengan cinta. “Menulis adalah salah satu seni untuk berterus terang tentang cinta ini universal,” tutur guru yang sudah menerbitkan artikel-artikelnya di media lokal Sumatera Utara.

Nama penulis satu lagi Maruntung Sihombing, guru 3T. Dia sudah menerbitkan dua buku. Namun, kata Maruntung, ia termotivasi menulis sejak kuliah. “Terinspirasi dari dosenku, Pak Majda El Muhtaj jadi pengen dikenal banyak orang,” tutur pemuda asal Sumatera Utara ini.

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak
Maruntung Sihombing sedang mengajar siswa

Maruntung tak menampik, adanya honor di samping supaya abadi dan menginspirasi adalah motivasi lainnya. Namun, kata Maruntung, karena menulis, ia pernah hampir bernasib apes. “Itu karena saya menulis  surat kaleng berjudul ‘Sensitivitas Mahasiswa Masa Kini’ pas kuliah,” kenang Maruntung.

Bagi Maruntung, satu hal yang paling ia kenang dalam menulis adalah ketika tulisannya berjudul “KPK: Bertahan atau Bubar”. “Sampai saya baca berkali-kali, Lae,” akunya ke konfirmasitimes.com.

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak
Maruntung memberi buku pada dosennya

Menurut Maruntung, menulis sebenarnya gampang. “Semua orang bisa menulis. Yang penting, banyak latihan dan baca buku saja,” katanya memberi tips. Karena itu, ia selalu memotivasi siswanya di Papua. “Memang belum ada karya nyata, kecuali puisi,” kisahnya.

Namun, Maruntung tetap bahagia karena guru-guru di sana sudah menulis. “Bahkan guru asli Papua,” katanya lagi dengan bangga. Ketika ditanya bagaimana menulis, Maruntung tak bertele-tele. “Menulislah. Itu saja,” katanya sambil mengaku, sedikit sekali guru mau menulis.

Ayo Belajar Menulis dari Guru-Penulis Asal Sumatera Utara Ini
Freddy Nababan dengan salah satu siswa bimbingannya

Freddy Nababan, guru di Candra Kusuma School, Medan ini juga memberi tips yang sama. Baginya, menulis itu tergantung mood. “Kalau lagi mood, gampang. Begitu sebaliknya,” kata pria yang sudah pernah keliling Eropa karena prestasi.
Kata Freddy, guru memang harus menulis.

“Semua guru pasti tahu, kok, menulis. Kemalasan, insentif, dan motivasi saja yang kurang,” tuturnya. Freddy juga mengaku, kadang sedih ketika tulisan ditolak.

Ayo Belajar Menulis dari Guru-Penulis Asal Sumatera Utara Ini
Freddy Nababan saat diskusi menulis

Namun, kata Freddy, ia tetap tak berhenti. “Siswa saya juga beberapa termotivasi menulis. Salah satunya karena gurunya menulis,” tegasnya seakan menyindir guru yang menyuruh siswa menulis sementara sang guru tak menulis.

Begitu kisah sebagian guru-penulis. Kamu tertarik jadi penulis juga?

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Lebaran dengan Bunga Aglonema

Read Next

Tantangan Pelajar Indonesia di Inggris saat Masa Covid-19