Seluruh Pos Pantau Covid-19 Ponorogo, Dihentikan Operasinya

Seluruh Pos Pantau Covid-19 Ponorogo, Dihentikan Operasinya

Konfirmasitimes.com-Ponorogo (13/05/2020). 7 titik pos pantau di kabupaten Ponorogo mulai hari Selasa tanggal 12 Mei 2020 dihentikan. Penghentian pos penjagaan disetiap pintu masuk Kabupaten Ponorogo ini bukan tanpa sebab. Mulai efektifnya Desa dalam menjalankan prosedur pencegahan Covid-19 menjadi pertimbangan utama. Sehingga posko penjagaan dinilai sudah tidak terlalu efektif.

Seiring dengan satgas yang telah aktif di Desa-Desa, pos penjagaan yang berada di 7 titik pintu masuk Ponorogo pun ditiadakan. Posko penjagaan guna antisipasi pada awal virus Covid-19 terdeteksi di Ponorogo digunakan untuk cek suhu tubuh bagi masyarakat yang keluar-masuk Ponorogo. Pembentukan Posko ini dulu bertujuan memberikan efek psikologis bagi masyarakat yang keluar-masuk Ponorogo.

“Keberadaan pos pantau pada saat itu untuk memberikan efek psikologis pada setiap orang yang akan masuk Ponorog.” Tutur Bupati Inpong.

Selain itu, pendirian posko pantau ini dulu dimaksudkan sebagai tindak lanjut kebijakan pelarangan pedagang sayur yang datang dari Magetan “dan sebagai tindakan lanjutan pelarangan pedagang sayur dari Magetan” Bupati Ipong menambahkan.

Kebijakan pendirian pos pantau ini sebelum adanya satgas yang dibentuk di masing-masing Desa. Setelah satgas aktif terbentuk di desa, posko pantau ini dirasa kurang efektif keberadaannya kata Bupati Ipong. Berbeda dengan kisaran 1 bulanan lalu, pos-pos pantau ini masih efektif.

“Sampai 1 bulan, pos-pos tersebut cukup efektif. Berjalannya satgas-satgas desa, pos-pos tersebut menjadi kurang efektif.” Katanya.

Sependapat dengan Ipong, salah satu relwan yang ikut menjaga posko pantau inipun mengungkapkan “Sesuai perintah, kami hanya melakukan cek suhu tubuh. Selebihnya kami tidak mempunyai kewenangan. Kami tidak bisa melakukan tindakan penolakan. Lebih efektif satgas yang ada di desa. Mereka dengan cakupan wilayah lebih sempit leluasa melakukan memantauan.” ujar Ilham salah satu Relawan.

Kewenangan satgas pencegahan yang ada di desa memang lebih luas. Desa dapat melakukan tindakan-tindakan seperti isolasi, pengecekan kesehatan, bahkan bisa melakukan penolakan. Hal ini dikarenakan desa memiliki kelengkapan baik petugas dan peralatan yang lebih lengkap. Cakupan wilayahnya pun lebih sempit, sehingga pencegahan akan lebih efektif memaksimalkan satgas yang berada di desa.

Sebagai informasi, pos-pos pantau tersebut pun membutuhkan biaya yang cukup besar. Kisaran 1,2 sampai 1,5 miliar per-bulan untuk biaya makan, uang transportasi, bahan-bahan kesehatan dan lain-lain. Sehingga besarnya dana yang di keluarkan dengan fungsi yang dijalankan dirasa kurang efektif. Pos-pos inipun sebenarnya tidak memiliki regulasi hukum. Dalam operasinya pun memiliki banyak keterbatasan.

Keputusan penutupan posko pantau ini telah melewati kajian yang mendalam dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan satgas Covid-19 Ponorogo. Untuk memaksimalkan fungsi dan anggaran, satgas yang berada di desa dimaksimalkan peranannya dalam pencegahan virus Covid-19.

“Maka diputuskan untuk memaksimalkan peran di wilayah desa dan kelurahan, yang memang lebih dekat dengan masyarakat. Akan ada seleksi lebih ketat langsung di tingkat desa dan kelurahan di Ponorogo ini,” terang Kasatgas Covid-19 Ponorogo Agus Pramono.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

WFH ASN Diperpanjang Hingga 29 Mei 2020

Read Next

Di Kutai Timur; Wartawan dan Tim Gugus Tugas Jalani Rapid Test Sebagai Antisipasi Terpapar Virus Corona