Sultan HB X; Rapid Test Massal Wujud Upaya Pencegahan Dini Pandemi COVID-19 di Yogyakarta

Konfirmasitimes.com-Yogyakarta (12/05/2020). Kasus pertama infkesi virus corona COVID-19 di Yogyakarta terjadi pada balita berumur tiga tahun, yang saat ini telah ditetapkan sudah sembuh, dan sejak saat itu banyak kasus-kasus baru yang muncul di kawasan Yogyakarta (Jogja).

Berdasarkan data pada hari Senin (11/05/2020), jumlah total kasus positif wabah virus corona berjumlah 159 kasus, yang mana 91 diantaranya masih menjalani perawatan penangganan penyakit ini dan jumlah pasien yang sembuh ada sebanyak 61 orang. Sedangkan kasus positif corona yang meninggal dunia, yaitu sebanyak 7 orang.

Sementara itu untuk kasus Pasien Dalam Pengwasan (PDP) di Yogyakarta sendiri sebanyak 807 orang yang telah terkonfirmasi negatif, serta 11 orang berstatus PDP meninggal dunia.Dan sebanyak 136 kasus yang masih menunggu hasil uji laboratorium. Hal ini pun dapat menunjukan bahwa jumlah angka negatif PDP lebih banyak daripada PDP yang meninggal.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan bahwa rapid test massal sudah seharusnya dilakukan, mengingat terdapat empat daerah ada di DIY dan perkembangan jumlah pasien positif virus corona yang dari hari ke hari masih bertambah.

“Iya memang. Lebih banyak (dilakukan rapid test) lebih baik” ujar Beliau di Kepatihan pada Selasa (12/05/2020).

Beliau juga menyebutkan bahwa alasan untuk melakukan rapid test massal ini di wiliyah yang jumlah kasus positifnya tergolong tinggi di Kota Jogja adalah untuk mengantisipasi penularan ke generasi berikutnya secara tepat dan cepat sehingga mampu menormalkan keadaan seperti sedia kala baik untuk daerah Yogyakarta maupun untuk Indonesia.

“Ya kalau nanti positif kan terus ada pengobatan karenakan tanpa gejala jadi susah. Begitu rapid test kan akan kelihatan.” Lanjut Beliau.

Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar, dimana seluruh anak muda Indonesia berlomba untuk dapat menempuh pendidikan di sini, maka dari itu dapat dipastikan ada banyak perantau yang ada yang tinggal di yogyakarta.

Belum lagi adanya larangan mudik ketika lebaran tahun ini, sehingga ada warga non-Jogja yang tetap tinggal di kota Gudeg ini hingga masa pandemi selesai. Oleh karena itu untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 dilakukan kegiatan rapid test untuk seluruh masyarakat kota Jogja.

Di lain pihak kasus penyebaran COVID-19 pun juga menyerang sejumlah warga klaster Indogrosir. Dilansir dari Gugus Tugas yang merilis penambahan enam kasus positif virus corona di daerah Sleman dan tergolong dalam kategori Orang Tanpa Gejala (OTG).

Enam kasus itu masing-masing adalah Kasus 156, laki-laki 25 tahun warga Bantul; Kasus 157, laki-laki 32 tahun warga Bantul; Kasus 158, perempuan 20 tahun warga Bantul; Kasus 159, laki-laki 25 tahun warga Bantul; Kasus 160, perempuan 33 tahun warga Kulon Progo; dan Kasus 161, laki-laki 33 tahun warga Kota Yogyakarta.

Maka dari itu sebanyak empat kabupaten atau kota di Jogja, yaitu Sleman, Gunung Kidul, Bantul, dan Kota Yogyakarta melaksanakan kegiatan rapid test massal, baik yang digelar untuk tracing contact kasus positif virus corona maupun untuk warga umum.

Selain dilakukan untuk memutus mata rantai rapid test ini juga dilakukan untuk mendeteksi sejak dini orang-orang yang dicurigai terinfeksi COVID-19, bertujuan untuk menanggulangi penyebaran virus corona dari pasien tanpa gejala. Maka dari itu diharapkan dengan adanya kegiatan ini mampu mendeteksi virus agar mampu segera ditanggani.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Rapid Test COVID-19 Syarat Dapat Pelayanan Kesehatan, BPJS Ingatkan Faskes Itu Melanggar Kontrak

Read Next

Wapres RI; Perbanyak Kebaikan Untuk Raih Keutamaan Lailatul Qadar