Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

Konfirmasitimes.com-Sumatera Utara (10/05/2020). Guru semakin diburu sebagai profesi karena menjanjikan. Namun, banyak guru memilih berkarya di perkotaan. Tak banyak yang memilih mengabdi di daerah. Beda dengan Maruntung Sihombing. Dengan tegas, ia memilih ke Papua.

“Jujur, saya dulunya sangat takut ditempatkan di Papua,” aku Maruntung ke awak media konfirmasitimes.com (09/05/2020). “Namun, saya pengen melihat langsung Papua itu gimana,” sambung lelaki kelahiran Tapanuli Utara, Sumatera Utara ini.

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

Maruntung mengaku, kini ia semakin nyaman di Papua. Meski begitu, ia tak memilih ke Papua. “Saya ditempatkan ke Papua secara tak sengaja. Tapi aku sadar, ini cara Tuhan menjadikanku sebagai saluran berkat,” tegas Maruntung. 

Maruntung sempat menjadi Sekretaris Senat Mahasiswa di Universitas Negeri Medan. Banyak peluang baginya bekerja di perkotaan. Namun, kata Maruntung ke awak media konfirmasitimes.com, ia lebih tertantang untuk mengabdi di tempat terpencil.

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

Walau begitu, Maruntung tetap berharap agar fasilitas di Papua semakin diperhatikan. “Banyak sekolah loh belum dialiri listrik, perpustakaan masih minim, bahkan buku masih minim,” kata Maruntung menjelaskan. 

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

Maruntung bukan tanpa tantangan di sana. “Pertama, ongkos hidup mahal kali. Di tempat saya, beras 10 kg harganya Rp250 ribu. Gula sekilo Rp30 ribu,” rinci Maruntung. 

Menurut amatan Maruntung, perekonomian masyarakat Papua masih rendah. “Mereka hanya mengandalkan pertanian saja,” jelas Maruntung. 

Memang, kata Maruntung, selama ia berkarya di sana, sudah banyak kemajuan.

“Jalan-jalan yang dulunya rusak sudah diaspal, terutama di Kabupaten Lany Jaya,” tutur pria yang mengaku tak pernah ingin menjadi guru sejak kecil. 

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

Di samping mengajar, Maruntung juga mendirikan Taman Bacaan Masyarakat di Lany Jaya, Papua. Bahkan, Maruntung menulis buku “Papua Tanah Surga” dan “Merajut Asa di Tanah Papua”.

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

“Namun, buku yang kedua ini saya kerjakan secara keroyokan dengan teman,” tambah Maruntung yang sempat bercita-cita jadi dokter sejak kecil.

Ketika ditanya Maruntung tak mencoba jadi dokter, “Tahulah dari kampung kita, miskin. Padahal, jadi dokter butuh banyak biaya,” sambung Maruntung.

Maruntung juga membuat komunitas menulis bernama Komen dan sudah membuat majalah pendidikan bernama majalah Pintar. 

Kata Maruntung, ia masih betah di Papua. Ia belum puas meski mereka sudah pernah mendapat rekor MURI dengan gerakan bertajuk “Gerakan Membaca 1000 Anak Lany Jaya”. Di samping itu, aku Maruntung, orang Papua sangat baik. 

“Bayangkan, murid sering mendermakan sayur, ubi, kelinci, bahkan babi untuk saya. Apalagi pas kelulusan,” cerita Maruntung sambil tertawa bahagia. 

Pada hari Pendidikan Nasional tahun 2020, Maruntung membuat surat terbuka kepada Mendikbud tentang tidak hanya tiadanya jaringan internet, bahkan jaringan listrik pun belum ada. Surat terbuka itu sempat viral dan sudah dikutip banyak media.

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

“Jangankan listrik, buta huruf saja masih tinggi. Tidak hanya SD, bahkan SMA pernah saya ajari membaca,” kenang Maruntung. Pada masa Covid ini, Maruntung bahkan mengaku akan door to door jika dilengkapi APD.

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

“Pendidikan adalah alat untuk mengangkat martabat,” tegas Maruntung. Walau begitu, sambung Maruntung, pendidikan di Papua tetap harus disesuaikan dengan adat istiadat Papua. “Jadi, buku pelajaran Papua mestinya harus berkontekstual Papua,” sahut Maruntung lagi. 

Maruntung Sihombing: Guru 3T Milenial di Papua dari Tanah Batak

Anak bungsu dari enam bersaudara ini sangat berharap pemerintah lebih memperhatikan tanah Papua. Ia juga bermimpi, Papua akan sama dengan kota kota lainnya kelak. “Tapi, tetap saja saya rindu sekali kampung kita itu, Lae,” tutup Maruntung dari sambungan telepon.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Tak Turunkan Harga Solar, Bambang Haryo: Pemerintah Sia-siakan Kesempatan Bantu Rakyat

Read Next

Aneka Resep Kue Lebaran Enak Manis dan Legit