Hai Bunda, Begini Caranya agar Anak tidak Kecanduan Gawai, Apalagi Sampai Tantrum

TK Pembina Negeri 3 Humbang Hasundutan

TK Pembina Negeri 3 Humbang Hasundutan

Konfirmasitimes.com-Sumatera Utara (09/05/2020). Bunda bingung menghadapi anak yang kecanduan gawai? apalagi sampai tantrum. Simak kisah dari Humbang Hasundutan, Sumatera Utara dibawah ini, bagaimana dengan bijak menyikapi masalah ini.

Mario, TK St. Maria
Mario, TK St. Maria

“Io kadang seperti mau tantrum. Dia marah ketika handphone diambil dari tangannya,” kata Ice Tumio Sianturi malam itu, Kamis (07/05/2020). Nama anak itu Mario Lumban Gaol. Ia dipanggil Io. Kata ibunya, Mario sering diberikan handphone.

“Semakin sering lagi ketika belajar di rumah diterapkan,” tegas ibunya.

Sang Ibu tak mau anaknya kecanduan handphone. Maka, meski marah, ibunya mengaku langsung menarik handphone itu saja. “Biar saja dia marah, daripada kecandua,” tegas ibunya.

Beda dengan Ice Tumio, Izzatun Nazila sudah memberikan pengertian sejak anaknya berumur 1,5 tahun. “Kita harus memberikan pengertian tentang media screen, apa itu TV, hp, dan sebagainya,”  jelas Nazila pagi itu, Jumat (08/05/2020).

Izatun Nazila dengan anaknya
Izatun Nazila dengan anaknya

Nazila sudah berhasil melakukannya. Maka, ia ingin ibu-ibu yang lain juga menerapkan. “Kita juga harus membuat kesepakatan, misal, hanya bisa main 2-3 jam per hari,” lanjut Nazila lagi.

Menurut Nazila, awalnya anak mungkin akan berontak. “Tapi, lama-lama akan terbias, kok,”tegas Nazila lagi. Nazila juga mengingatkan agar orang tua mengatur hp dengan google setting agar anak hanya bisa mengakses hal yang cocok untuk anak.

“Anak-anak mudah diatur, kok. Lama-lama dia akan bertanya, misalnya, begini: bunda, aku boleh nonton utobe kids?” jelas Nazila menirukan.

Hal yang sama juga dilakukan Ibu Kurniati. Agar anaknya disiplin, ia membuat kesepakatan dari awal. “Kita harus buat kesepakatan dengan anak,” jelas Kurniati, Jumat (08/05/2020).

Sementara itu menurut Silvya, bunda 3 anak ini, menegaskan, jika ada kesepakatan, anak akan sadar sendiri untuk tidak melanggar kesepakatan bersama. Kata Silvya yang juga sebagai guru PAUD ini, orangtua harus memberikan pengarahan jelas dari awal.

Sylvia Erlita bersama anak-anak
Sylvia Erlita bersama anak-anak

“Anak jadi tantrum karena keinginannya terpenuhi,” terang Silvia lagi.

Karena itu, menurutnya, orang tua harus memenuhi kebutuhan anaknya. “Namun, harus tetap dalam pengarahan kita,” tambah Silvia.

Melengkapi Silvya, Guru PAUD Tiurma Senny Silalahi pada Jumat (08/05/2020) juga menyebutkan bahwa kadang kita harus membiarkan anak terlebih dahulu.

“Jangan langsung dimarahi, dibiarkan saja dulu,” jelas Guru Paud yang sering dipanggil Senny ini.

TK Pembina Negeri 3 Humbang Hasundutan
TK Pembina Negeri 3 Humbang Hasundutan

Menurutnya, ada saatnya kita melihat kemauan anak. “Siapa tahu memang dia mau? Rasa penasaran anak itu tinggi,” tegas Senny. Memang, kata Senny, tidak sampai selamanya kita mengikuti keinginan anak.

TK Pembina
TK Pembina Negeri 3 Humbang Hasundutan

Katanya, kita mesti mengikuti anak sebelum menasihatinya kemudian. Mungkin, inilah terapan dari metode Quantum Teaching yang dipelopori Bobby de Potter. Menurut Boby de Porter dalam teorinya, kita harus masuk ke dunia anak sebelum membawanya ke dunia kita.

TK Pembina
TK Pembina Negeri 3 Humbang Hasundutan

Lebih lanjut, Senny juga mengatakan, jika anak tak mau disuruh, mungkin ada kemauannya yang lain. “Misalkan anak itu tak mau kita suruh di kursi ini, bisa aja karena memang ia ingin di kursi lain. Jadi, jika di kursi ini ia ribut, setelah kita pindahkan ke kursi lain, ia jadi nyaman,” masih terang Senny.

Pesan Senny kepada ibu-ibu muda, agar ibu-ibu muda tidak langsung terkejut melihat anaknya, apalagi perubahan sikapnya. “Bisa beda sikap anak di rumah dan di sekolah. Di rumah ia seorang diri, sementara di sekolah ia punya banyak teman,” tutup Senny.

Saat ini, handphone memang sudah hampir menjadi keseharian. Pemandangan anak memegang handphone ke mana-mana bukan hal ganjil lagi.

Pada 2019 lalu, misalnya, dikabarkan 11 orang anak di Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Koesnadi Kabupaten Bondowoso yang dirawat secara intensif karena adiksi gawai.

Dikisahkan, karena gawai, selama tiga hari dua malam anak itu tetap saja sibuk dengan gadget tanpa makan dan tidur. Jika dilarang orang tuanya, anak itu bisa marah, bahkan sampai membenturkan kepalanya ke tembok. Senny berharap, semoga di masa Covid ini, ibu-ibu lebih bijak menghadapi anaknya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Covid-19 di Riau Paling Banyak Menyerang Laki-laki Usia 18-60 Tahun

Read Next

Maluku Akan Buka Akses Transportasi 10 Mei 2020 Ditengah Pandemi Virus Corona