Thompson Hs: Seniman Tradisi Lisan dari Tipang, Humbang Hasundutan

Thompson Hs: Seniman Tradisi Lisan dari Tipang, Humbang Hasundutan

Konfirmasitimes.com-Jakarta (07/05/2020). Sangat sedikit orang yang setia memperjuangkan tradisi lisan lokal. Apalagi, berkegiatan di bidang ini tak menjanjikan kelimpahan materi. Dari yang sedikit itu, Thompson Hs masuk di dalamnya. Pria gondrong ini lahir di Pearaja, Tarutung. Asalnya dari Tipang, Humbang Hasundutan.

Thompson Hs: Seniman Tradisi Lisan dari Tipang, Humbang Hasundutan

“Tak mudah berkegiatan di kesenian,” ujar Thompson Hs, pria yang pernah kuliah di USU ini.

Menurut Thompson, meski setia bekesenian tradisi lisan, materi berkelimpahan tak akan didapat.

Thompson Hs: Seniman Tradisi Lisan dari Tipang, Humbang Hasundutan

“Jadi, jika fokusnya materi, sebaiknya jangan di kesenian, apalagi tradisi lisan,” tantang Thompson.

Namun, kata Thompson, kesetiaannya berkarya bukan demi materi. Materi baginya bukan hal utama.

“Saya tak mau mengotori pikiran saya dengan kerakusan dan menumpuk uang,” kata Thompson menegaskan.

Baginya yang penting konsisten dan setia menjaga tradisi lisan. Kesetiaan Thompson sudah teruji. Terhitung, ia sudah mulai melakukan program revitalisasi Opera Batak sejak tahun 2002.

Thompson Hs: Seniman Tradisi Lisan dari Tipang, Humbang Hasundutan

“Semula proposal revitalisasi Opera Batak ditolak Kabupaten Toba Samosir (kini Kabupaten Toba). Namun, seiring perjalanan, Thompson Hs tak menyerah. “Dari Tarutunglah dimulai revitalisasi yang diprogram Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) melalui kolega di Medan, terutama Prof.H.Ahmad Samin Siregar dan Prof. Dr. Robert Sibarani,” kisah Thompson.

Cerita Thompson, program revitalisasi diawali dengan seminar dan pelatihan di pusat kota Tapanuli Utara.

“Bupati R.E.Nainggolan sangat berjasa dalam program revitalisasi ini,” kenang Thompson. Menurut Thompson juga, sedikit birokrat yang peduli dengan tradisi masyarakatnya, apalagi merevitalisasi.

Thompson Hs: Seniman Tradisi Lisan dari Tipang, Humbang Hasundutan

Ketika ditanya tentang teknis awal pelatihan Opera Batak, Thompson mengaku, sebanyak 20 pemuda anggota pelatihan tidak ada basis keseniannya.

“Saya sendiri diberikan porsi melatih sebanyak 80 persen,” imbuh Thompson. 

Meski basis keilmuan Thompson tentang teater ada, namun Thompson tetap mengaku kesulitan.

“Saya tidak paham betul tentang Opera Batak. Memang, saya pernah menonton Opera Batak Guru Saman dan cerita percintaan Si Tiomina, namun itu belum cukup,” kenang Thompson.

Namun, Thompson tetap nekat. Dengan bekal pengetahuan teater modern, ia tertantang merevitalisasi Opera Batak yang memang sebelumnya pernah jaya, bahkan sampai diundang ke Istana oleh Bung Karno.

Kata Thompson, melalui simulasi pertunjukan pada program revitalisasi itu, muncullah Grup Opera Silindung. Lanjut Thompson, GOS sudah tampil di beberapa tempat, mulai Tarutung, Medan, Jakarta, Sipoholon, Laguboti, dan Siantar. 

Namun, dalam perjalanan mendampingi GOS, Thompson harus berjibaku karena tidak ada dana mobilisasi bolak-balik Medan-Tarurung.

“Saya terkadang menginap di sekretariat GOS, kadang pulang tanpa sepeser uang. Bahkan, untuk menikmati becak di Tarutung, saya harus meminjam uang,” kenang Thompson.

Menurut Thompson, ia meminjam uang selama mobilisasi pendampingan GOS dari ibunya. “GOS terbilang aman hanya 3 tahun,” tambah Tompson lagi. Setelah tiga tahun dengan GOS, Thompson Hs bersama Sastrawan Asal Sumut, Sitor Situmorang, juga Lena Simanjuntak bersama suaminya, Karl Mertes mendirikan PLOt pada 2005 yang silam.

“Awal operasional PLOt dimulai setelah salah satu anggota GOS bersedia tinggal sekretariat yang per tiga tahun dikontrak di Siantar. Dukungan dana awalnya dari Lena-Mertes dan istri Sitor Situmorang asal Belanda,  Barbara Brouwer,” masih kata Thompson.

“Dari PLOt-lah Opera Batak kembali makin dikenal. Kolaburasi dan volume tampil meningkat. Pada 2011, kita bahkan berkesempatan tampil di Jerman, tapi baru terwujud pada 2013,” kenang Thompson.

Kata Thompson, naskah andalan mereka adalah Perempuan di Pinggir Danau karangan Lena Simanjuntak. “Naskah ini sudah diterjemahkan ke 5 bahasa, seperti bahasa Jerman, Inggris, Spanyol, Prancis,” tutur Thompson lagi. Menurut Thompson, setidaknya, hingga saat ini, Opera Batak Perempuan di Pinggir Danau sudah ditonton lebih dari 10.000 orang, baik di Indonesia maupun Jerman. 

Sampai saat ini, PLOt sudah tour pentas di sekeliling Danau Toba dan sudah dua kali ke Eropa. Tak ada kesetiaan yang sia-sia, begitu prinsip Thompson. Maka, wajar ketika 2016 lalu, Thompson menerima Penghargaan Kebudayaan dari Kemdikbud RI karena melestarikan Opera Batak.

Thompson juga dilibatkan dalam Program Belajar Bersama Maestro oleh BPNB Aceh, dan melalui UPT Kemensikbud melatih siswa siswa dari 6 sekolah di Tarutung.

Kata Thompson juga, setelah setia berproses merevitalisasi Opera Batak, banyak kepercayaan untuk kerjaH kebudayaan kepadanya. Namun, ia tetap berprinsip untuk tidak mengotori pikirannya meski sangat berharap, kehidupan para pegiat tradisi lisan diperhatikan. “Satu mimpiku yang belum terwujud, membuat Gedung Opera Batak di Sumatera Utara,” tutup Thompson HS.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

PSBB Sumatera Barat Diperpanjang hingga 29 Mei 2020

Read Next

Positif Covid-19 Total Jadi 10 Orang di Batang