Respon Guru 3T Terhadap Kagetnya Mendikbud

Konfirmasitimes.com-Jakarta (06/05/2020). Sejumlah guru di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T) menyayangkan sikap mendikbud Nadiem Makarim yang terkejut mengetahui bahwa masih banyak wilayah Indonesia yang belum dialiri listrik.

Salah seorang guru di Kabupaten Lanny Jaya, Maruntung Sihombing, mengungkapkan rasa kecewanya terhadap respon Mendikbud yang baru sadar bahwa di Indonesia masih banyak wilayah yang belum menikmati layanan listrik.

“Namun setelah baca berita bahwa bapak ‘shock’ mendengar adanya sekolah yang belum ada listrik dan sinyal, jadi pengen rasanya saya menceritakan kondisi tempat pengabdian saya di Papua. Yang saya tidak habis pikir lagi, kok bisa-bisanya bapak tidak tahu persoalan itu. Bukankah setelah menjadi menteri harusnya bapak bisa memetakan persoalan pendidikan dari Sabang sampe Merauke? Terutama kitong yang ada di Timur Indonesia ini.” Ungkap Maruntung Selasa (05/05/2020).

guru honorer  ini menambahkan bahwa tidak ada alasan bahwa seorang menteri tidak mengetahui setiap kebijakan-kebijakan strategis yang diambilnya.

“Oke, mungkin bapak masih baru menjadi menteri, tapi kan bisa bapak tanya dari bawahan bapak toh? Atau jangan-jangan mereka hanya melapor yang mulus-mulus saja ke bapak ya, yang penting bapak senang ya,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa selama tahun 2013 pengabdiannya di daerah terpencil di Papua. Kondisi proses belajar mengajar sangat lamban. Ia mengakui sudah terbiasa hidup tanpa listrik dan jaringan.

“Padahal ini bukan persoalan baru loh Pak. Sudah persoalan lama yang semua orang sudah sama2 tahu. Masalahnya, persoalan ini seperti didiamkan selama ini tanpa ada penyelesaian yg konkrit,” Katanya.

Maruntung menerangkan  bahwa setelah penyeberan pandemik virus corona, proses beljar mengajar yang ia lakukan bersama teman-temannya semakin sulit. Ia mengibaratkan seperti mati suri. Karena sekolah diliburkan sedangkan tidak ada pembelajaran daring yang bisa dilakukan seperti yang ada di sekolah perkotaan.

 “Bayangkan hampir 54 persen di Papua dari 608.000 murid tidak menerapkan belajar daring seperti layaknya di perkotaan. Ini memang tanggung jawab kita semua, terlebih kami guru yg ada di Papua. Namun kami di daerah terpencil betul-betul sangat terbebani dengan kondisi ini,” pungkasnya.

Ia mengakui bahwa dulunya ia sangat kagum dengan menteri baru yang masih muda tentunya aka nada perubahan terutama perbaikan pendidikan di daerah terpencil.

“Padahal sejujurnya, setelah saya tahu bapak dilantik menjadi menteri pendidikan di waktu silam, hati saya senang sekali karena baru kali ini menteri pendidikan diisi generasi milenial. Pasti akan banyak terobosan pikirku dalam hati. Namun kemarin saya menjadi ragu dan seperti kehilangan harapan,” Imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang guru di Nusa Tenggara Timur, Fidel. Ia menyampaikan bahwa corona ini membuka mata kita akan permasalahan kita yang sebenarnya. Proses pembelajaran secara online yang dibangga-banggakan hanya bisa dinikmati sebagian kalangan.

“Kita yang berada di daerah pedalaman hanya bisa gigit jari melihat pembelajaran online yang digalakkan oleh mendikbud,” Ungkap Fidel.

Ia mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh melalui jaringan internet memang sangat mustahil untuk diterapkan di daerah pedalaman saat ini.

“semoga covid ini segera berlalu, agar kita kembali dapat melakukan pembelajaran di sekolah. Karena pembelajaran melalui sistim online masih belum bisa dilakukan di daerah pelosok,” ungkapnya.

Sebelumnya menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim merasa kaget lantaran mengetahui beberapa daerah di Indonesia masih belum dialiri listrik. Hal ini diungkapkan ketika melakukan pertemuan evaluasi pembelajaran jarak jauh  (PJJ) yang telah diterapkan selama masa pandemic virus corona

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Terjadi Kenaikan! Kasus Pasien Positif COVID-19 di Kepri Bertambah 5 Orang

Read Next

Film Pariwisata Indonesia Raih Penghargaan di ITFF Bulgaria