Kisah dari Sionom Hudon: Tetap Berbagi Meski Berbeda Agama

Kisah dari Sionom Hudon: Tetap Berbagi Meski Berbeda Agama

Konfirmasitimes.com-Sumatera Utara (06/05/2020). Apakah ada orang baik yang peduli pada sesamanya, meski beda agama, bahkan kepada orang gangguan mental?

Kisah dari Sionom Hudon: Tetap Berbagi Meski Berbeda Agama

Tanyalah pada Almaidah Boru Sinaga asal Desa Sionom Hudon, Parlilitan ini. Wanita renta sebatangkara ini pasti menjawab masih ada.

Dialah Samudera Awil Condo Sihotang. Awil memang termasuk pria inspiratif yang pantas ditiru banyak orang.

Kisah dari Sionom Hudon: Tetap Berbagi Meski Berbeda Agama

Cerita Awil ke awak media konfirmasitimes.com, kebaikan itu juga menular. Karena itu, ia yakin bahwa banyak orang juga akan melakukan kebaikan.

Seperti pada hari Minggu (03/05/2020), Awil membantu Almaidah Boru Sinaga.

Kisah dari Sionom Hudon: Tetap Berbagi Meski Berbeda Agama

“Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Orangtuanya sudah meninggal. Saudaranya juga,” jelas Alwi Chondo Sihotang kepada awak media konfirmasitimes.com.

Menurut Alwi, perempuan tua yang belum menikah ini mempunyai gangguan mental.

“Namun, kalau kita berbicara langsung, Bu Almaidah seakan tak punya kelainan mental. Dia seperti biasa,” kata ayah dua anak ini menegaskan.

Kisah dari Sionom Hudon: Tetap Berbagi Meski Berbeda Agama

Almaidah Boru Sinaga adalah seorang muslim. Pekerjaannya sehari-hari bertani.

“Saya tak melihat perbedaan agama karena saya umat Kristen dan Bu Almaidah muslim, maka saya tak boleh membantu?” tanya Alwi menguji.

Menurut ayah dua anak lulusan dari Universitas Tapanuli ini, persaudaraan tak memandang batas.

“Justru karena saya seorang Kristen, maka saya membantu ibu itu,” tambah Alwi.

Sebab, kata Alwi, agama mengajarkan hal-hal baik.

”Haholongi ma dongan mu jolma dosson dirim, molo adong di ho dua lean dongan mu sada (kasihi sesamamu manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Jika kamu mempunyai dua, berikan pada orang lain satu),” begitu Alwi berprinsip.

Alwi juga menambahkan, orang tidak akan melupakan di saat kamu membantu dia dalam keadaan haus. Namun, bagi Alwi, ia membantu bukan untuk dikenang.

“Tak ada kebaikan yang gagal. Jika kamu menanam yang baik, bukan dari orang itu, tapi Tuhan akan memberikan kebaikan padamu,” lanjut Alwi.

Alwi mengaku tak memberi banyak. “Hanya sembako dan itu tak seberapa,” imbuh Alwi.

Alwi mengaku bukan orang kaya. “Memberi dari kekuranganmu, itu luar biasa,” tambah Alwi sambil mengutip Kitab Suci.

“Apalagi saat-saat seperti ini, mereka sedang puasa. Puasa tanpa makan, apalagi ekonomi sedang tak baik pada masa pandemi ini akan menyulitkan bagi mereka. Apa salahnya” masih kata Alwi. membantu sesama manusia?

Alwi berharap, semoga orang-orang berkecukupan berbagi di masa pandemi ini.

Sebab, kata Alwi, hanya rasa berbagi yang bisa menyelamatkan dari kemiskinan, apalagi di tempat-tempat terpencil, seperti Desa Sionom Hudon, Parlilitan, Humbang Hasundutan.

Dalam kesehariannya, Alwi bekerja sebagai penjaga Situs Sisingamangaraja XII di Sionom Hudon.

Desa Sionom Hudon memang sangat bersejarah. Di desa ini, tepatnya di Sibulbulon, Pahlawan dari Tanah Batak itu wafat setelah bertempur dengan bangsa penjajah. Sebut Raja Wasi Tunambunan, penulis buku Kisah Perjuangan Sisingamangaraja XII Di Sionom Hudon, cucu dari Aman Tumangas, salah satu Panglima Sisingamangaraja XII, Sionom Hudon merupakan nomenklatur yang diadopsi berdasarkan jumlah anak Tuan Nahodaraja. Si-onom artinya si- enam, sementara Hudon artinya periuk. Tuan Nahodaraja memiliki delapan anak. Anak pertama adalah si Buyakbuyak yang katanya pergi dengan misterinya kealam gaib lautan Hindia (kisah tersendiri). Anak kedua si Tambun, disusul si Tanggor, si Bittang Marria, si Raja, si Turut, si Payung dan paling bungsu si Ampun. Anak-anaknya yang memiliki keturunan hanyalah enam, sementara keturunan anak perempuan si Bittang Marria akan meneruskan marga atau klan suaminya, sesuai aturan adat Batak. Ketika terdesak, Sisingamangaraja pergi ke Sionom Hudon. Pahlawan dari Bakara itu tinggal di sana mulai 1884 sampai 1907. Kata Alwi, Sisingamangaraja menjadi panutannya.

“Beliau memantangkan rakyat terjajah sekalipun maut menantinya,” puji Alwi.

Berita seputar virus corona terbaru selengkapnya disini.

Laporan update virus corona seluruh provinsi Indonesia 06 Mei 2020 , selengkapnya

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Sambut Lebaran Ditengah Covid-19, Pemprov Jatim Luncurkan Pamor

Read Next

Didi Kempot Simbol Identitas Kultural Bangsa