Didi Kempot Simbol Identitas Kultural Bangsa

Didi Kempot Simbol Identitas Kultural Bangsa

Konfirmasitimes.com-Jakarta (06/05/2020). The Godfather of Broken Heart adalah simbol penguat identitas kultur bangsa di zaman penuh pengkultusan elitisme budaya dari luar negeri. Apalagi saat masyarakat harus #dirumahsaja, masyarakat dipaksa merenungi kembali jati dirinya. Kini simbol kecintaan akan identitas budaya dan bahasa ibu itu telah berpulang kehadirat sang Khaliq.

Beberapa tahun belakangan ini, anak muda mulai gandrung dengan sosok bapak berambut gondrong yang identik dengan senandung patah hatinya. Didi Kempot, sang maestro campursari itu berhasil menghipnotis sad boy and sad girl untuk tetap bergoyang walaupun hatinya sedang ambyar.

Senandung patah hati yang identik dengan destinasi nama sebuah tempat ini begitu mengilhami para anak muda. Sebagai lagu yang berbahasa Jawa. Lagu Didi Kempot tak hanya digandrungi hanya dari Suku Jawa. Namun, juga dari multi etnis yang menikmatinya. Meskipun tak begitu tau artinya.

Lahir di Surakarta pada tanggal 31 Desember 1966, Didi Prasetyo atau lebih tenar dengan Didi Kempot adalah anak dari seniman Jawa bernama Ranto Edi Gudel. Adik dari seniman Mamik Prakosa ini begitu melegenda dibelantika lagu Jawa. Lagu Stasiun Balapan, Cidro, Ketaman asmara, Sarangan dan Tanjungmas Ninggal Janji  menjadi lagu yang begitu mengenang pun digandrungi berbagai kalangan. Hingga ada lagu“katalog nama daerah” dari lagu-lagu Didi Kempot.

Dikenal sebagai sosok yang bersahaja, begitu kenang Gopar Hilman setelah bertemu dengan Didi Kempot. Gopar Hilman begitu tersanjung dengan sikap orang tersohor ini. Sampai-sampai Gopar pun mengungkapkan “Didi Kempot adalah legenda yang tak mengetahui bahwa dirinya (Didi Kempot) adalah legenda” kata Gopar Hilman dalam sebuah wawancara.

Terbukti dari konsistensinya saat proses merekam lagu-lagu yang tembus sekitar 700 lagu. Didi Kempot konsisten untuk merekam karyanya disetudio rekaman yang tak terkenal. Studio rekaman yang berada dipelosok-pelosok kota. Jauh dari pusat-pusat kota. Konsistensi ini dengan alasan untuk mengangkat dan memberikan rejeki kepada studio-studio rekaman yang tergolong kecil.

Maklum, Didi Kempot meniti karirnya dari pengamin trotoar yang berjalan dari kota ke kota. Bukan seniman yang lekas begitu saja terkenal dari event kompetisi menyanyi. Beliau benar-benar dari bawah meniti karir hingga seperti saat ini. Perjuangan panjang yang membuahkan hasil gemilang tanpa melupakan daratan dari mana beliau berasal.

Sisi kemanusiaan Didi Kempot pun diuji saat Pandemi virus Korona menyerang Negeri. Seorang Didi Kempot peka melihat apa yang nanti dibutuhkan. Beliau pun membuat konser amal dari rumah. Kegiatan yang diliput Kompas ini pun berhasil mengumpulkan dana donasi 7,6 Milyar untuk membantu penuntasan virus Korona. Begitu pula apresiasi dari orang nomer satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo.

Dory Harsa tukang kendangnya yang kemudian beliau orbitkan sebagai penyanyi. Membuktikan jiwa kemanusiaannya yang tinggi. Tanpa berpikir Dory akan menjadi pesaingnya, malah Dory dibuatkan beberapa lagu untuk dinyanyikan. Begitu pula masalah kehidupan Dory yang terhitung banyak mendapatkan wejangan  dari Didi Kempot. Untuk terus bangkit dari keterpurukannya.

Selasa pagi (05 Mei 2020) setelah merevisi lagu ojo mudik di sebuah hotel bersama Lilik Subagyo kabar duka datang. Didi Kempot dikabarkan meninggal di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo karena gagal jantung. Sangat mendadak, membuat banyak sobat ambyar,kerabat, keluarga, pejabat dan sesama penyanyi kaget tak percaya mendengar kabar tersebut.

Seluruh media sosial, televisi dan surat kabar memberitakan kabar duka ini. Hampir seharian penuh televisi menyiarkan kabar duka yang begitu menyanyat hati. Hashtag #sobatambyarberduka dan #didikempot pun trending di twitter. Sang legenda yang bersinar itu pun kini redup. Melanjutkan perjalanannya ke kehidupan lain.

Selain masalah patah hati, lagu berjudul Bapak sangat menarik peristiwa yang melatarbelakangi proses kreatifnya. Lagu Bapak adalah lagu yang diperuntukkan untuk mendiang Ranto Edi Gudel atau dikenal dengan mbah Gudel. Mbah Ranto Gudel kala itu berwasiat kepada Didi Kempot. Sebagai seniman yang telah membuat ratusan lagu untuk orang lain, supaya membuatkan lagu untuk dirinya. Terciptalah lagu Bapak wujud cintanya kepada sanga Bapak. berikut penggalan liriknya.

Bapak… bapak… tekadmu kuwi tak puji         (Bapak tekadmu itu yang ku puja)
Bapak… bapak… kowe koyo senopati            
(Bapak laksana Senopati)
Bapak… bapak… panasmu ngungkuli geni    
(Bapak nafasmu melebihi api)
Bapak… bapak… keno angin soyo ndadi       
(Bapak tersapu angin semakin menjadi-jadi)
Senajan uwis tuwo nekat mempeng kerjo      
(Meskipun tua tetap nekat giat bekerja)
Nyambut gawe kanggo nguripi kluargo        
(Berkerja untuk menghidupi keluarga)

Sebuah lagu yang terselip sebuah pesan makna penghormatan kepada orangtua terkhusus untuk Bapak.

Keinginan umroh, berduet dengan Habib Syech seorag ulama dan pecinta Sholawat dan menyanyikan lagu qosidah Jawa yang tak sempat beliau gaungkan. Sebuah dimensi agama seorang Didi Kempot yang terlupakan.

Para kaum muda yang kini hanya fokus mengagumi sisi patah hati dari sang maestro Didi Kempot, selayaknya lebih menghayati berbagai pesan dimensi keseluruhan kata hati dari seluruh katalog karyanya. Totalitas pengaguman sang legenda dengan ribuan pesan tauladan, seperti sebutan terkahirnya godfather of broken heart yang tak hanya broken heart. Tapi benar-benar real Godfather bagi anak-anak millenial saat ini.

Sang legenda dan maestro kini hanya meninggalkan pesan yang harus direnungi setiap orang. Pesan kebersahajaan, kemanusian, religiusiatas dan kepedulian terhadap identitas bangsa yang hanya tertinggal dunia. Sebuah dimensi identitas bangsa kita.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Kisah dari Sionom Hudon: Tetap Berbagi Meski Berbeda Agama

Read Next

Manfaatkan Belanja Online, Transaksi Lumbung Pangan Jatim Tembus Rp 1,96 M