Kampung Misteri Hanya Dihuni 7 Keluarga di Gunungkidul

Kampung Misteri Hanya Dihuni 7 Keluarga di Gunung Kidul s

Konfirmasitimes.com-Jakarta (05/05/2020). Yogyakarta, selain dikenal sebagai daerah yang berbudaya untuk menempuh pendidikan Jogja juga dikenal akan kisah-kisah mistis yang menyelimutinya, seperti di kawasan Sleman ada Gunung Merapi, di Bantul ada Pantai Selatan, di Kulon Progo ada misteri makam Waduk Sermo, dan di Gunungkidul ada Kampung Pitu. Sejarah munculnya misteri-misteri tersebut ada yang melalui kisah rakyat ataupun dari mitos menjadi legenda, namun berbeda dengan Kampung Pitu. Kampung ini telah ada sejak tahun 1400-an dan hanya diisi oleh tujuh orang keluarga yang tidak boleh berkurang ataupun bertambah.

Kampung Misteri Hanya Dihuni 7 Keluarga di Gunung Kidul

Terletak di puncak timur gunung api purba Nglanggeran, Yogyakarta yang ada di ketinggian 740 meter di atas permukaan laut. Kampung Pitu atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai desa tujuh ini begitu terpencil dan berbahaya, hingga cuma ada tujuh keluarga yang mendiami desa itu. Aktivitas harian seperti bersekolah, bekerja, ataupun nongkrong bersama teman-teman pun harus ditempuh dengan medan yang cukup susah.

Kendati hanya dihuni oleh tujuh orang keluarga tanah di Kampung Pitu ini cukup luas, yaitu berkisar hingga tujuh hektar. Walaupun banyak orang yang ingin menetap di sana dan menjadi keluarga ke delapan tetap saja tidak diperbolehkan, mereka yang ingin menetap atau tinggal bisa dengan cara menikahi salah satu warga dari Kampung Pitu tersebut. Dilansir dari sang juru kunci, Redjo Dimulyo, bahwa apabila pantangan tujuh keluarga dilanggar maka akan ada hal buruk yang terjadi bagi si pelanggar.

Apabila kita melihat dari nama kampung ini hampir sama dengan desa-desa yang umum berada di Jogja, rumah tinggal di sini pun juga mengikuti perkembangan zaman namun mayoritas adalah joglo. Hanya saja letaknya yang berjauh-jauhan karena topografi kondisi tanah dari gunung purba yang tidak merata. Tak luput juga tempat ibadah yaitu mushala juga didirikan di Kampung Pitu ini, yang terletak di sisi perempatan jalan utama di belakangnya ada juga pendopo kayu untuk kegiatan warga yang berdiri dengan kokoh.

Kampung pitu merupakan desa yang telah berdiri sejak ribuan tahun lalu, banyak tradisi dan budaya yang lahir dari tempat itu. Namun para warganya tetap kompak menjalankan apa yang diwajibkan dan menghindari setiap pantangan atau larangan yang ada. Salah satu kewajiban yang harus dilakukan adalah Aksara 4, Aksara 5, dan Aksara 7. Secara umum tiga Aksara yang dimaksud tersebut adalah pedoman-pedoman tentang bagaimana manusia bertingkah laku di alam. Aksara 4 berarti suci, jujur, langgeng, dan lestari. Di sisi lain, Aksara 7 lebih menekankan tradisi mencari waktu yang pas untuk melakukan sesuatu, misalnya saat ingin membangun rumah atau menikah yang sepatuhnya dicari hari yang bagus dan sesuai. Dan ketiga Aksara ini pun perlu dilakukan oleh warga Kampung Pitu, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk siapapun untuk menerapkannya karena kita hidup di masyarakat yang berdampingan dengan alam.

Untuk keperluan mandi dan kebutuhan air warga Kampung sendiri menggunakan bantuan Telaga Guyangan atau Telaga Pelanggaran. Telaga inipun juga dianggap sakral oleh warga desa karena mereka percaya telaga ini biasa digunakan para dewa dan bidadari untuk membasuh kuda sembrani atau kuda bersayap kendaraan mereka. Saat ini telaga sudah ditanami padi dan diganti dengan sebuah sumur, namun jejak yang dipercaya warga sebagai taplak kudu masih berbekas di sekitar tanah telaga.

Meski perkembangan zaman telah maju para warga Kampung Pitu tetap setiap untuk terus menjalankan tradisi leluhur yang telah dibangun ribuan tahun lalu, mereka ada untuk menjaga dan menyelaraskan alam agar nantinya bumi yang mereka pijak tetap asri dan lestari.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Zakat Fitrah di Bone Bolango Rp.30.000 Per Jiwa

Read Next

Tembak Mati Dua Orang, Polda Jatim Buru Penjahat Kambuhan Curanmor Antar Kota