Bangkitkan Perekonomian Di Tengah Pandemi Covid-19,Pemerintah Disebut Harus Berani Turunkan Harga Solar

Bangkitkan Perekonomian Di Tengah Pandemi Covid-19,Pemerintah Disebut Harus Berani Turunkan Harga Solar

Konfirmasitimes.com-Surabaya (03/05/2020). Untuk menghindari lumpuhnya ekonomi di Indonesia sebagai dampak Pandemi Covid-19,  Presiden Joko Widodo (Jokowi) diharapkan segera mengeluarkan kebijakan dengan menurunkan harga bahan bakar solar dimana dengan kebijakan tersebut dapat mendongkrak kinerja sektor industri, transportasi, dan UMKM.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jatim Bambang Haryo Soekartono saat dikonfirmasi di Surabaya, Minggu (03/05/2020) mengatakan harga solar termasuk solar subsidi idealnya harus disesuaikan dengan harga minyak mentah dunia yang saat ini sedang anjlok ketitik terendah sepanjang sejarah.

Sekedar diketahui, sekarang ini  harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juni berada sekitar US$20 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) US$12 per barel. Harga minyak WTI bahkan sempat di bawah 0 dollar AS per barel pada perdagangan pekan lalu.

“Solar adalah bahan bakar pokok bagi industry, transportasi dan UMKM. Tentunya jika harga sesuai dengan harga minyak dunia yang sangat murah saat ini pastinya dunia usaha di Indonesia akan tetap hidup. Hal ini perlu dilakukan agar tak ada PHK massal dan menggerakkan Kembali ekonomi yang saat ini lumpuh karena Pandemi Covid-19,” kata Bambang Haryo.

Untuk realisasinya, lanjut Bambang, Presiden Jokowi harus bisa menekan pihak Pertamina agar transparan dan segera menurunkan harga solar. “Saya kira Langkah ini harus segera dilakukan oleh Presiden untuk menyelamatkan rakyat yang saat ini sedang kelaparan dan kehilangan pekerjaan gara-gara Covid-19,” sambung Bambang Haryo Soekartono.

Dengan keberanian menurunkan harga solar, sambungnya, tentunya merupakan kesempatan bagi Presiden Jokowi untuk membuktikan bahwa kebijakannya benar-benar pro rakyat. ”Jika harga solar turun sesuai dengan harga sebenarnya, ini menunjukkan bahwa Presiden telah berani menyikat kartel energi yang menjadi penyebab harga BBM mahal. Jadi turunnya harga solar sudah menjadi harga mati untuk membangkitkan ekonomi saat ini,” jelas Bambang Haryo Soekartono anggota DPR RI Periode 2014-2019 ini.

Dikatakan olehnya harga solar di Indonesia sejak Februari 2020 masih dipatok sebesar RpRp9.400 per liter untuk Bio Solar dan Rp9.500 untuk Dexlite.  Lalu Bambang Haryo membandingkan dengan Malaysia yang merupakan negara produsen minyak seperti Indonesia menjual diesel atau solar hanya RM1,43 (Rp5.028 per liter). Bahkan di sejumlah negara produsen minyak lainnya, solar dijual di bawah Rp2.000 per liter.

“Jika saja harga solar turun paling tidak separuhnya, tentunya dunia usaha di dalam negeri tidak akan kesulitan seperti saat ini. Sektor transportasi akan mampu bertahan hidup dimana biaya turun drastis. Beban industri termasuk tarif hotel dan restoran akan berkurang signifikan. Tentunya hal ini akan mempengaruhi daya beli masyarakat yang secara otomatis akan meningkat dan dampaknya perekonomian akan tumbuh,” papar Bambang Haryo Soekartono.

Selain itu, sektor lainnya yang dapat dipengaruhi dengan turunnya harga solar, kata Bambang Haryo adalah mampu untuk memangkas biaya pembangkit listrik yang saat ini masih menggunakan bahan bakar sekitar 20 persen. “Jika ditambah dengan penurunan harga batu bara dan gas yang mencapai 50 persen, tentunya dengan biaya pembangkit listrik juga akan turun dan berdampak pada tarif listrik menjadi murah,”,sambung Bambang Haryo Soekartono.

Selain tarif listrik, lanjut Bambang Haryo, harga gas yang merosot hingga di bawah US$2 per MMBtu seharusnya membuat harga pupuk juga turun lebih dari 50%, mengingat pabrik pupuk di dalam negeri masih membeli gas pada harga US$7 per MMBtu.

“Penurunan harga solar, tarif listrik dan gas ini akan menjadi insentif yang sangat efektif bagi pelaku usaha dan masyarakat di tengah kesulitan ekonomi akibat corona. Dampaknya sangat besar bagi perekonomian dan stabilitas keamanan nasional,” ujar Bambang Haryo Soekartono.

Bambang Haryo kemudian  mengingatkan ketika  Presiden SBY menjelang akhir masa pemerintahannya pernah menahan kenaikan harga BBM meskipun harga minyak dunia sempat mencapai level tertinggi, yakni di atas US$100 per barel (Februari 2014).

“Pemerintah di era pak SBY  telah mengeluarkan kebijakan dengan menggelontorkan subsidi BBM sekitar Rp190 triliun agar harga BBM subsidi stabil, yakni premium Rp6.500 per liter dan solar Rp5.500 per liter. Hasilnya, ekonomi bisa tetap tumbuh sekitar 5% pada 2014 karena dunia usaha, terutama UMKM, bisa bertahan dari ancaman krisis.

Bambang Haryo kembali mengingatkan pemerintah, untuk segera menurunkan harga solar tidak segera diturunkan bisa menghancurkan sektor transportasi beserta sistem konektivitas nasional yang sangat kompleks dan dibangun dengan susah payah.

“Kalau transportasi sampai kolaps, untuk menghidupkannya lagi akan susah. Sebagai negara kepulauan, apabila konektivitas hancur maka NKRI terancam bubar sebab distribusi barang menjadi mandeg,” tutup Bambang Haryo Soekartono. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Tarif PDAM Diskon Hingga 50 Persen di Purbalingga

Read Next

Info Virus Corona DKI Jakarta 3 Mei Korban Meninggal 410 Orang