Catatan Etnografi Ngebel dalam Manuskrip Kuno

Peserta Lomba: Frengki Nur Pratama
Pekerjaan: Mahasiswa

Konfirmasitimes.com-Jakarta (24/04/2020). Pariwisata menjadi daya tarik yang begitu diharapkan dalam menambah income pendapatan daerah. Terlebih jika wisata yang dimiliki daerah itu mempunyai daya tarik dari berbagai dimensi. Mutlak, dapat meningkatkan potensi wisata daerah dengan kreatifitas kegiatan yang dapat dibuat.

Salah satunya melihat sebuah komplek wisata dari manuskrip kuno. Cara ini dapat dimanfaatkan sebagai langkah membuat kegiatan field trip sejarah sekaligus membumikan keagungan daerah wisata yang tercatat di sebuah manuskrip kuno.

Sekian tahun berlalu, belum ada yang mencoba mencari potensi wisata Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur dari sudut pandang manuskrip. Terlebih sayang lagi, manuskrip yang mencatat Telaga Ngebel itu bernama Serat Centhini yang telah terakui sebagai karya sastra Jawa termasyhur dan didaku sebagai ensiklopedi budaya Jawa.

Mengimajinasikan Telaga Ngebel lewat Serat Centhini ibarat menemukan secuil ingatan kelestarian alam sekitar Ngebel di masa lalu. Kita pun digiring untuk tapak demi tapak menelusuri keindahan Telaga Ngebel. Tak Hanya berhenti untuk menikmati riak air telaga yang mungkin belum maksimal menambah wawasan terhadap komplek wisata yang dikunjungi.

Serat Centhini menawarkan destinasi lain yang selama ini tak terjamah oleh wisatawan. Mulai dari Bale Batur, Sumber Bethara, Bendungan zaman Belanda, Sumber Padusan dan berbagai kekayaan flora khas pegunungan Ngaliman, Lereng Gunung Wilis.

Sebuah Perkenalan Awal

Serat Centhini merupakan jenis karya sastra Jawa yang ditulis menggunakan aksara Jawa dan berbahasa Jawa. Menurut Sri Margana (2004: 216) Serat Centhini ditulis atas prakarsa KGPAA Hamengkunagara III (Sunan Pakubuwana V) dibantu oleh R.Ng. Ranggasutrasna, R. T. Sastranagara dan R.Ng. Sastradipura serta dibantu pula oleh Pangeran Junggut Mandurareja, Ulama Besar Ponorogo Kiai Kasan Besari dan Kiai Mohammad Minhad dengan candra sengkala Paksi Suci Sabda Ji jika dikonversikan dalam angka menjadi 1742 Jawa atau 1814 M.

Karya sastra yang tergolong tua ini memuat berbagai kebudayaan yang tersebar di seluruh tanah Jawa. Menggunakan bentuk tembang dan disajikan berpupuh-pupuh[1], Serat Centhini menyimpan kekayaan catatan budaya Jawa yang berbalut cerita. Saya menyebutnya sebagai catatan etnografis, yang dalam studi ilmu filologi modern dikenal dengan studi filologi-antropologi.

Pijaran budaya Jawa itu terbingkai dalam cerita pengembaraan berbagai tokohnya. Seperti Jayengresmi, Jayengsari, Rancangkapti serta Mas Cabolang yang mengembara dari ujung barat sampai ujung timur pulau Jawa. Sehingga perlu pembacaan mendalam untuk mengupas warisan budaya di dalamnya. Yang sebenarnya sangat perlu di zaman sekarang untuk pengetahuan masyarakat luas.

Destinasi yang tercatat dalam Serat Centhini itu dapat dikembangkan menjadi alternatif dalam mengelola tempat wisata. Untuk kemudian mengemasnya sebagai kegiatan edukatif yang menarik bagi wisatawan. Siswa sekolah, mahasiswa, wisatawan domestik maupun mancanegara dapat dijadikan target pasarnya.

Tentunya, dibutuhkan riset yang lebih mendalam dan kerja yang lebih keras dari para pemangku kepentingan. Agar, mendapatkan formula yang integratif untuk mewujudkan tempat wisata yang terpadu. Sinergisitas menjadi mutlak ada dalam konsep pengembangan tempat wisata.

Ngebel Dalam Serat Centhini

Catatan mengenai daerah Ngebel termuat dalam Serat Centhini Jilid jilid VII pupuh 394 Wirangrong sampai pupuh 398 Girisa |marang gunung Wilis | tanah ing Pranaraga | (pupuh Wirangrong pada 19) dan |mring têlaga Bêl kinaot | samining têlaga tan kadyèku | (pupuh 394 Wirangrong pada 26)[2]”.

Berdasarkan Serat Centhini dapat ditemukan beberapa tempat yang secara nyata dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata daerah Ngebel, Di antaranya: Bale Batur merupakan nama sebuah tempat yang berada di desa Ngebel. Berada di jalan akses ke Ngebel melalui Madiun, tepatnya di jalan desa Sahang. Sekarang, tempat ini

1. Bale Batur

Bale Batur merupakan nama sebuah tempat yang berada di desa Ngebel. Berada di jalan akses ke Ngebel melalui Madiun, tepatnya di jalan desa Sahang. Sekarang, tempat ini menjadi pasar yang bernama pasar Bale Batur. Di tempat ini terdapat pohon Beringin besar dan bangunan yang di catat dalam Serat Centhini disebut lir panti (pupuh 394. Wirangrong pada 27).

Foto Pohon Beringin Bale Batur
Foto Pohon Beringin Bale Batur
Sumber: Dokumentasi Pribadi
 Foto Bangunan di Bale Batur
Foto Bangunan di Bale Batur
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tempat ini menjadi tempat yang disakralkan oleh masyarakat Ngebel. Dipercaya oleh masyarakat sebagai makam Nyai Latung, tokoh sakral yang terkait dengan legenda terbentuknya Telaga Ngebel. Dia adalah nenek tua yang di nasehati Baruklinthing untuk membuat perahu sebelum Baruklinthing mencabut lidi yang ia tancapkannya.

2. Sumber Padusan

Sumber Padusan di sebutkan dalam Serat Centhini Pada pupuh 395. Girisa pada 15 sebagai sumber kabuyutan di Ngebel. Sumber dalam catatan Serat Centhini menyebutkan bahwa Sumber Padusan merupakan tempat mandinya bidadari Suralaya. Tempat ini sangat detail di jelaskan di Serat Centhini pada pupuh 395.Girisa pada 24.

Foto Sumber Padusan
Sumber: www.asliponorogo.com
Foto Sumber Padusan yang berganti nama Tirta Husada
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber yang berada di dusun Pandusan desa Wagir Lor kecamatan Ngebel merupakan sumber air panas alami. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai sumber Pandusan yang sekarang berubah nama menjadi Tirta Husada.

3. Sumber Bethara

Sumber Bethara disebut di Serat Centhini pada pupuh 396. Mijil pada 29 sebagai patokan kedalaman telaga Ngebel dalam cerita Serat Centhini. Sumber Bethara ini di Ngebel dikenal sebagai Kucur Betoro.

Foto Sumber Bethara
Dokumentasi Pribadi

Sumber Betoro ini dipergunakan sebagai salah satu sumber air yang dipergunakan untuk jamasan pusaka di bulan Suro oleh pemerintah Ponorogo. Jamasan ini sebagai ritual agenda tahunan kabupaten Ponorogo untuk memperingati hari berdirinya kabupaten Ponorogo. Cerita yang beredar, sumber ini digunakan sebagai tempat bersucinya Raden Bathara Katong sebelum mensyiarkan agama Islam di tanah Wengker.

4. Telaga Ngebel

Telaga Ngebel merupakan telaga yang dikelilingi gunung-gunung mengitari telaga. Berada di daerah yang geografisnya pegunungan menjadi daya tarik wisatawan. Nama-nama gunung ini disebutkan dalam Serat Centhini pada pupuh 395. Girisa pada 11-13. Nama gunung yang berada di sekitar telaga Ngebel beberapa masih dikenali oleh masyarakat Ngebel. Nama-nama yang masih dikenali masyarakat diantaranya Tambak, Calam Agung, Patukan, Pathokan yang sekarang menjadi Bathokan, peragak dan Kumambang yang sekarang dikenal Kemambang.

Foto Telaga dari Kemlaka Sewu
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Hasil penelusuran dari catatan Serat Centhini itu dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak program kreatif (semisal field trip sejarah) yang terpadu. Sekaligus menjadi wahana melestarikan kembali alam Ngebel yang namanya diabadikan dalam karya sastra termasyhur bernama Serat Centhini. Serta langkah memaksimalkan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dari sudut pandang manuskrip atau naskah kuno sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan Indonesia.


[1] Pupuh adalah pengelompokkan pada berdasarkan nama tembang. Sedangkan pada adalah bait-bait di dalam pupuh.

[2] …| menuju Gunung Wilis| tanah Pranaraga | (pupuh Wirangrong pada 19) dan ..|Telaga Ngebel terlewati | nampak telaga terlihat samar | (pupuh 394 Wirangrong pada 26)

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Larangan Mudik Lebaran, Polda Jatim Gelar Operasi Semeru 2020

Read Next

Pemuda Siaga COVID-19, Upaya Cegah Wabah Corona di Dusun Sedongan