ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
20 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Peran Kelembagaan Petani dalam Pertanian Nasional

Peserta Lomba: Annisa Adelia Nur R,SP
Pekerjaan: PNS
Alamat: Yogyakarta

Konfirmasitimes.com-Jakarta (19/04/2020). Indonesia merupakan negara yang bercirikan agraris, dimana mata pencaharian penduduknya mayoritas sebagai petani. Petani Indonesia disebut juga sebagai petani “gurem”. Mengapa disebut petani gurem? Hal ini dikarenakan, umumnya kepemilikan lahan petani di Indonesia tidak lebih dari luasan 0,5 Ha. Lahan garapan tersebut ada yang merupakan hak milik pribadi, adapula yang sistem sewa (prinsip bagi hasil). Walaupun demikian, petani di Indonesia tetap semangat dalam melakukan budidaya tanaman, baik hortikultura, pangan, maupun perkebunan.

Petani di Indonesia pada umumnya tergabung dalam suatu wadah perkumpulan, yang biasa disebut Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, dan Asosiasi Pertanian (Asosiasi Produsen, Perkumpulan Petani Pengguna Air). Apa fungsinya mereka bergabung dalam wadah perkumpulan tersebut? Yakni, saling tukar informasi mengenai teknologi budidaya (on farm), penanganan pasca panen, maupun pemasarannya (off farm). Karena sejatinya wadah perkumpulan yang disebut kelembagaan petani, punya peran dalam penyebaran atau proses difusi teknologi produksi pertanian. Selain itu, sebagai ajang silaturahmi, yang nantinya akan memunculkan ide-gagasan baru, bagi kemajuan bersama. Yang terakhir, adanya kelembagaan petani ini, sebagai penguat dalam menentukan posisi tawar petani, dimana posisi tawar petani saat ini mayoritas masih lemah, sehingga menjadi penghambat untuk meningkatkan pendapatan/kesejahteraan.

Berdasarkan Permentan No 67/Permentan/SM 050/12/2016 tentang Pembinaan Kelembagaan Petani, kelembagaan petani ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani. Kelembagaan petani berdasarkan Permentan tersebut terdiri dari : Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, Asosiasi Komoditas Pertanian, dan Dewan Komoditas Pertanian Nasional. Pembinaan kelembagaan petani melibatkan penyuluh.

Dewasa ini, kita telah memasuki era perdagangan bebas, dimana produk luar negeri bersaing dengan produk dalam negeri. Persaingan tersebut meliputi, inovasi, harga, dan kualitas produk. Tak terkecuali produk pertanian. Petani sebagai produsen didorong untuk menerapkan Good Agriculture Practice (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) dalam kegiatan budidaya pertaniannya. Disinilah fungsi kelembagaan petani yang tak lepas dari pembinaan penyuluh, untuk terus mendorong petani anggota didalamnya menerapkan GAP -GHP, memperhatikan kualitas produk, dan memberikan jaminan mutu hasil pertanian. GAP dan GHP hendaknya diimani tidak hanya sebatas sebagai pedoman saja, melainkan penerapan sistem sertifikasi proses produksi dan pasca panen yang menekankan pada adopsi teknologi ramah lingkungan, menuju pada keamanan pangan, sistem produksi yang berkelanjutan, ekosistem terjaga, kesejahteraan dan keberlangsungan usahatani yang menguntungkan. Apalagi Kementerian Pertanian menggagas Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks), dimana semua petani dan eksportir diajak bekerja sama untuk memanfaatkan peluang ekspor. Produk pertanian harus berujung pada kebutuhan pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar dunia. Aksesibiltas petani yang tergabung dalam kelembagaan petani, akan lebih mudah untuk mengikuti peluang usaha berbasis ekspor tersebut. Hal tersebut dikarenakan kelembagaan petani juga mempunyai posisi dalam mengakses informasi pasar dengan eksportir, informasi untuk memfasilitasi usaha pertanian (dari lembaga keuangan) yang mana hal tersebut dapat di teruskan ke petani anggotanya.

Keberadaan kelembagaan petani sebagai wadah aspirasi petani, tempat transfer ilmu dan teknologi untuk petani, menunjukkan bahwa kelembagaan petani sangat esensi bagi petani. Kelembagaan petani yang efektif akan memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan petani.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Di Korea Selatan, Hanya 8 Kasus COVID-19 Terdaftar per hari

Read Next

China; Kritikan ke WHO Tidak Berdasar