ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
22 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Dilema Pengojek Laut ‘jarangka’ : Mengais Nafkah Di Tengah Corona

Penumpang sedang memasukkan barangnya di dalam Jarangka (Dokumentasi pribadi)

Penumpang sedang memasukkan barangnya di dalam Jarangka (Dokumentasi pribadi)

Peserta Lomba: Suhardiyanto
Pekerjaan: Penulis
Alamat: Pulau Buton, Negeri 1001 Benteng

Konfirmasitimes.com-Jakarta (18/04/2020). Kita akan kehilangan pekerjaan, manakala kita belum meninggal duluan. Kehidupan jadi hal yang mewah, karena banyak yang tidak mampu. Ibarat kata, hanya yang berduit saja yang bisa bertahan hidup.

Yusrin Ansil bersama Jarangka miliknya (Dokumentasi pribadi)
Yusrin Ansil bersama Jarangka miliknya (Dokumentasi pribadi)

Petuah DJ Kyos di atas sepenuhnya dirasakan oleh Yusrin Ansil (30 tahun). Ia dirisak satu dilema. Di satu sisi, ia ingin mengikuti anjuran pemerintah untuk Social Distancing atau berdiam saja di rumah. Pilihan ini, selain menggenakkan, juga bisa menyelamatkan hidupnya. Lamun di sisi lain, asap dapur terus mengepul di kepalanya. Jika ia sekadar berdiam diri, kelaparan lindap mencekik keluarganya di rumah. Posisi ini serupa memamah buah Simalakama.

Satu pilihan berisiko akhirnya diputuskan : Yusrin mengambil opsi keluar rumah. Di tengah mengganasnya virus corona, ia keukeuh menarik Jarangka, membelah lautan guna mencari nafkah. Satu hal yang membenak di kedalaman hatinya : mati di tengah mencari nafkah, lebih terhormat ketimbang mati berdiam diri di rumah karena kelaparan.

Untuk diketahui, Jarangka adalah ojek laut khas kota Baubau. Merupakan perahu mesin tempel dengan dua cadik di sisi kiri dan kanannya. Jumlah penumpang dalam satu Jarangka berkisar 10-12 orang.  Yusrin adalah salah satu pengojek Jarangka yang biasa mangkal di Pantai Kamali. Ia melayani dua rute perjalanan. Yang pertama, Baubau menuju pelabuhan Wamingkoli dipatok harga 15 ribu rupiah. Kedua, Baubau ke pulau Makasar, harganya fluktuatif. Tergantung jumlah penumpang. Jika banyak yang naik, harganya bisa lima ribu rupiah. Jika penumpang sedikit, misalnya 2-3 orang saja, harganya dapat melonjak ke sepuluh ribu rupiah. Untuk pulau Makasar—yang  menjadi rute utama—dapat ditempuh oleh Jarangka selama 15-20 menit.

Eh iya, pulau Makasar yang dimaksud di sini, bukanlah Makassar ibu kota Sulawesi Selatan. Pulau Makasar adalah pulau kecil yang terletak di depan kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau ini memiliki luas 1,45 Km2 serta dihuni oleh 4.975 jiwa—sebagaimana  data dari BPS Kota Baubau.

Para pengojek laut sedang menunggu penumpang yang makin sepi (Dokumentasi pribadi)
Para pengojek laut sedang menunggu penumpang yang makin sepi (Dokumentasi pribadi)

Hampir seluruh pengojek Jarangka, berasal dari Pulau Makasar. Salah satunya adalah Yasrin yang berdomisili di lingkungan Bone Kelurahan Liwuto. Baru setahun lebih ia menjalani profesi itu. Di hari – hari biasa, Yusrin bisa mendapatkan penghasilan sehari sebesar 300 – 400 ribu. Namun setelah kabar pandemi corona menyebar, untung-untung ia bisa membawa pulang uang 60 ribu rupiah dalam sehari. Jumlah itu belum dikurangi 30 ribu rupiah untuk membeli bahan bakar.

“Ya…dengan penghasilan bersih 30 ribu itu, setidaknya keluargaku bisa hidup selama dua hari. Itu pun pas-pasan,” keluh Yusrin saat ditemui di tempat mangkalnya. “Biasanya  dalam sehari, saya hilir mudik mengantar penumpang tiga sampai empat kali. Setelah corona ini, penumpang sepi. Sehari hanya bisa mengantar satu kali. Bahkan pernah lari kosong.”

Menjadi pengojek laut, bukanlah satu-satunya profesi bagi Yusrin. Ia juga bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu sekolah di pulau Makasar. Namun bekerja sebagai guru honerer, honornya tak seberapa. Tak mencukupi kebutuhan hidup dasar manusia. Inilah yang membuat Yusrin menggantungkan penghasilan pada Jarangka. Sementara itu, istrinya magang di salah satu Puskesmas di pulau Makasar. Bahu-membahu mereka menjalani hidup, membesarkan Adam—anak semata wayang—yang butuh popok dan susu.

Yusrin bukannya abai dengan imbauan pemerintah untuk berdiam di rumah. Ia sadar bahwa profesinya yang mengharuskan berhubungan dengan khalayak, sangat berisiko terpapar corona. Apalagi, saat penumpangnya berasal dari penumpang lanjutan kapal Pelni yang notabene berasal dari luar daerah, kadang terbesit ketakutan.

Seperti tempo hari, tersiar satu kabar di media sosial bahwa ada satu kapal Pelni yang membawa penumpang positif Covid 19 dari Nunukan. Yusrin panik. Teman-teman seprofesi dengannya pun tak kalah paniknya. Hampir-hampir ia tak melaut. Namun begitu melihat binar mata si kecil Adam serta wajah istrinya di rumah, bergegas ia tarik kembali Jarangka menyongsong lautan. Keluarga adalah segala-galanya bagi lelaki bertubuh kurus itu.  Keluarga nomor satu, bahkan di atas keselamatan dirinya sendiri.

“Ini memang risiko pekerjaan. Tapi sebelum melaut, saya sudah siapkan dua tameng. Yang pertama, masker kain. Yang kedua, doa dari anak istri saya,” tutur Yusrin sembari menunjukan masker yang dibuatkan oleh istrinya.

Untung saja berita penumpang positif di kapal Pelni itu hoax semata. Yusrin bisa bernapas lega. Namun, melihat perkembangan virus corona di Sulawesi Tenggara, kecemasan-kecemasan itu lindap berdegup di dadanya. Dari data yang diwarta CNN Indonesia (11/4/2020), ada 16 kasus virus corona di Sulawesi Tenggara. Sebanyak 14 orang tengah dirawat di ruang isolasi, satu dinyatakan sembuh, dan satu orang meninggal dunia. Selain itu, terdapat 78 orang tanpa gejala (OTG), 427 orang dalam pengawasan (ODP), serta 18 pasien dalam pengawasan (PDP).

Untuk orang-orang senasib Yusrin, pemerintah sebenarnya telah mengucurkan bantuan sosial untuk menanggulangi efek merebakanya Covid 19. Sebagaimana dilansir Detik.Com (8/4/2020), bantuan sosial itu ada lima model. Pertama, Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 10 Juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Penyaluran PKH yang sedianya dilakukan per tiga bulan, diubah menjadi per bulan mulai April. KPM akan menerima PKH sebanyak dua kali (Untuk bulan April dan Juni).

Kedua, program Kartu Sembako untuk 20 Juta penerima. Masing-masing penerima mendapat bantuan sebesar Rp 200 ribu per bulan. Mulai Maret hingga Desember 2020.

Ketiga, program Kartu Pra Kerja untuk 5,6 juta peserta. Setiap peserta akan menerima biaya pelatihan, insentif bulanan dan survei dengan total bantuan sebesar Rp 3,55 juta. Saat ini, pemerintah sedang melakukan pendataan pekerja terdampak COVID-19 baik yang ter-PHK, dirumahkan dengan Unpaid Leave, maupun yang mengalami penurunan Income, yang kemudian akan diprioritaskan.

Keempat, pemerintah memberikan pembebasan biaya listrik bagi pelanggan 450 VA dan keringanan biaya listrik sebesar 50% bagi pelanggan 900 VA Subsidi. Masa berlaku keringanan ini adalah untuk Bulan April-Juni 2020.

Kelima, stimulus Kredit Usaha Rakyat (KUR) guna meringankan beban UMKM. Skema kebijakan adalah melalui relaksasi kebijakan penyaluran KUR.  Melalui penundaan angsuran dan pembebasan bunga selama enam bulan.

Dari lima model bantuan sosial di atas, Yusrin baru merasakan nomor empat. Listrik 450 VA, yang ia nebeng dari mertuanya, akhirnya gratis untuk beberapa bulan ke depan. Empat yang lain, belum ia rasakan. Memang, baru-baru ini sudah ada pendataan ulang dari pemerintah kelurahan. Ia masih sabar menunggu. Entah sampai kapan, belum ada kepastian.

Satu-satunya yang pasti ia ikrarkan dalam hati adalah menjaga keluarga dari lapar dan bahaya corona. Untuk menjaga amanah Tuhan itu, hal paling rasional yang terlintas di kepalanya adalah mengais nafkah dengan tetap melautkan Jarangka.

Entah sampai kapan, belum ada kepastian.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Usul Pemerintah Daerah Kembali Tidak Diterima Pemerintah Pusat

Read Next

Apa itu WHO? Apa kerjanya? Kenapa Trump Akan Menghentikan Pendanaan ke WHO