ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 September 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Cultural Village Tourism: Kearifan Lokal Desa Wisata Dieng Kulon

Peserta Lomba: Karindanesia Citra Asri, S.T
Alamat: Kelurahan Kledung Karang Dalem, Banyuurip, Purworejo

Pariwisata Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki kekhasan budaya sebagai daya tarik yang tidak dimiliki oleh negara lain. Wisata Budaya di Desa Dieng Kulon merupakan salah satunya. Desa ini berada di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Desa Wisata Dieng Kulon berada di pegunungan dengan ketinggian 2000 mdpl, sering disebut “Negeri di Atas Awan”. Desa wisata ini juga memiliki corak budaya Hindu-Jawa yang kental sehingga dijuluki “Negeri Para Dewa”. Terdapat juga peradaban Islam yang berkembang disana. Proses akulturasi antara peradaban Hindu, Islam dan Jawa Kuno terjadi di desa tersebut. Dieng sendiri berasal dari kata Di dan Hyang, dalam bahasa jawa kuno berarti persemayaman para dewa. Dieng dianggap sebagai tempat suci Dewa Syiwa (Kailasa), pusat dunia, dan tempat bersemayamnya para arwah.

Kementerian Pariwisata menetapkan Dieng sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Perkembangan Desa Wisata Dieng Kulon bisa sangat cepat karena memiliki kultur budaya yang khas. Hal ini sesuai dengan yang telah diungkapkan UNWTO (2018); McKercher dan Du Cros (2002) bahwa wisata budaya (cultural tourism) sering terlihat sebagai salah satu sektor tercepat dalam industri pariwisata. Wisata budaya menggabungkan antara aspek sosio-kultural, ekonomi, lingkungan, tradisi masyarakat, dan elemen budaya yang bersifat intangible seperti bahasa, cerita rakyat, sejarah dan mitos, musik, lagu, tarian tradisional, ritual, serta adat kebiasaan (UNWTO, 2018).

Pesona Pariwisata Budaya Sarat Akan Kearifan Lokal

Desa Wisata Dieng Kulon menyimpan pesona eksotik baik sejarah, situs, kultur budaya, tradisi, dimensi spiritual-magis maupun keindahan alam khas daerah pegunungan. Kultur budaya yang mengakar di masyarakat yaitu tradisi cukur rambut gembel. Berdasarkan cerita rakyat, konon anak berambut gimbal dipercaya sebagai titisan dari Nini Ronce (perempuan) dan Ki Kolodete (laki-laki) yang sering disebut sebagai anak bajang. Menurut indigenous knowladge, Nini Ronce merupakan utusan penguasa ratu selatan (Nyi Roro Kidul) dan Ki Kolodete merupakan leluhur pendiri Dieng pada masa kerajaan Mataram Islam. Ki Kolodete konon dikisahkan memiliki rambut panjang yang gimbal dan telah bersumpah tidak akan memotong rambutnya sebelum dataran tinggi dieng makmur, jika azzamnya tidak terkabul maka akan menitiskan rohnya pada anak yang baru lahir atau belajar berjalan. Anak-anak bajang (indigenous people) tersebut merupakan warisan yang harus dijaga tradisinya sebagai kearifan lokal (local wisdom).

Pemotongan rambut harus melalui ritual pembacaan doa khusus (mantra) yang dipimpin oleh pemangku adat yang dilakukan di kawasan candi secara sakral dan harus memenuhi permintaan anak. Prosesi ini diawali dengan kirab budaya dari rumah pemangku adat, lalu dilanjutkan dengan prosesi siraman (jamasan) dari sumber mata air di Sendang Sedayu. Kemudian potongan rambut tersebut dilarung ke laut selatan, yang dipercaya sebagai tempat asal ibu mereka. Kepercayaan masyarakat (spiritualitas) dan tradisi cukur rambut gembel merupakan kearifan lokal yang dapat menjadi daya tarik wisata.

Anak Bajang (anak berambut gimbal)
Sumber: www.kemenparekraf.go.id

Festival Budaya Dieng Kulon (Dieng Culture Festival) merupakan event tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Agustus. Pada tahun 2020 ini merupakan penyelenggaraan ke-11 yang rencananya akan digelar pada 7-9 Agustus mendatang. Setiap tahunnya, festival ini mengusung tema yang berbeda. Pada tahun 2017 DCF mengangkat tema “The Spirit of Culture”, tahun 2018 mengusung tema “The Beauty of Culture” dan pada tahun 2019 bertema “The Inspiration of Culture”.

Festival ini menyuguhkan kemasan berbagai kearifan lokal seperti tarian tradisional (rampak yakso, kubro siswo, lengger, rodad), musik tradisional gamelan, kesenian tradisonal (wayang dan ketoprak), workshop membatik, festival domba batur, Java Coffe Festival dan tradisi ruwatan cukur rambut gimbal sebagai puncak acara. Selain itu, juga menyajikan berbagai acara modern seperti pagelaran musik Jazz Atas Awan, festival film, penerbangan lampion (sky lantern festival), dan pesta kembang api untuk memeriahkan acara. Ini merupakan sebuah proses komodifikasi budaya yang sedkit menggeser keaslian (authenticity) dari prosesi cukur rambut gembel sendiri untuk keperluan industri pariwisata.

Prosesi Ruwatan Cukur Rambut Gimbal dalam Acara Dieng Culture Festival
Sumber: Samudranesia.id

Situs candi di sekitar Desa Dieng Kulon merupakan peninggalan peradaban Hindu di tanah jawa. Terdapat Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Skrikandi, Candi Dwarawati, Candi Puntadewa, Candi Sembada, Candi Setyaki, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca. Nama-nama candi tersebut diambil dari tokoh-tokoh pewayangan kisah pandawa, punakawan, dan bharatayuda. Di sekitar kawasan candi juga terdapat museum Kailasa, lokasinya persis di sebrang Candi Gatotkaca. Museum tersebut menyimpan sejarah masa lalu, kebudayaan, kehidupan masa lampau, artefak, film dokumenter, dan sistem kepercayaan masyarakat terdahulu. Menurut Robinson dan Picard (2006) wisata budaya memiliki kesempatan untuk mengakses dan menambah kesadaran suatu tempat dan kehidupan masa lalu.

Kawasan Wisata Candi Arjuna
Sumber: Dokumentasi

Keberhasilan Community Based Tourism dan Peran Tokoh Sentral

Desa Wisata Dieng Kulon telah sukses menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Bahkan omset penjualan tiket event Dieng Culture Festival mencapai angka milyaran dan terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal dan pemerintah daerah, mulai dari penjualan tiket masuk kawasan wisata, tiket event tahunan, makanan khas dan oleh-oleh (kentang, carica, melon dieng, purwaceng, mie ongklok), homestay, serta local tourgaide.

Berkembangnya desa wisata ini dapat menurunkan angka kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat lokal, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan membuka lapangan pekerjaan baru. Menurut Mbaiwa dan Sakuze (2009) bahwa wisata budaya dapat memberikan hubungan saling menguntungkan antara masyarakat lokal yang memberikan kepuasan pada wisatawan dan keberlanjutan kesejahteraan masyarakat lokal.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran sentral tokoh pemuda (Alif Fauzi) yang merupakan pemrakarsa berdirinya Kelompok Sadar Wisata “Pandawa”. Awalnya, dirinya merupakan ketua karang taruna di Desa Dieng Kulon, lalu munculah keperihatinan pada generasi muda yang enggan meneruskan bercocok tanam, begitupun sebenarnya pertanian kentang yang berada pada lereng-lereng menyebabkan kerusakan lingkungan akibat sedimentasi. Kemudian dia berinisiatif untuk mengembangkan sektor pariwisata dan mencari informasi seputar pariwisata untuk mendongkrak ekonomi masyarakat. Pada tahun 2006 dia menerapkan “Community Based Tourism” atau pariwisata berbasis masyarakat.  Kemudian dia mulai menyelenggarakan event-event seperti Pekan Budaya Dieng yang sekarang menjadi Dieng Culture Festival. Alif Fauzi juga berperan sebagai ketua panitia acara Dieng Culture Festival yang didukung oleh Dinas Pariwisata dan Kementerian Pariwisata.

Multiplier effect dari berkembangnya pariwisata berbasis masyarakat adalah pemberdayaan pemuda dan wanita sebagai local tourguide, pengelola kelompok sadar wisata, kegiatan home industry serta berkembangnya usaha homestay milik masyarakat. Dengan adanya pengelolaan ini, Alif Fauzi telah berhasil memberdayakan masyarakat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengangkat kearifan lokal menjadi nilai eksotik yang dapat ditawarkan dalam industri pariwisata.

Daftar Pustaka

Cohen, E. 1998. Authenticity and Comoditization in Tourism. Annals of Tourism  Research, 15, 371-386.

Cole, S. 2007. Beyond Authenticity and Commodification. Annals of Toursim Research, 34 (4), 943-960.

Mbaiwa, J.E., and Sakuze, L. K. 2009. Cultural tourism and livelihood diversification: The case of Gcwihaba Caves and XaiXai village in the Okavango Delta, Botswana. Journal of Tourism and Cultural Change 7(1): 61–75.

McKercher, B., and Du Cross, H. 2002. Cultural tourism: The partnership between tourism and cultural heritage. Binghamton, United States of America: The Haworth Press

Picard, D. & Robinson, M. 2006. Festivals, tourism and social change: Remaking worlds.

Richards, G. (ed.) 2007. Cultural tourism: Global and local perspectives. New York: Routledge Taylor & Francis Group.

UNWTO. 2018. Tourism and Culture Synergies. Madrid: World Tourism Organisation.

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/candi-dieng-harmonisasi-dua-budaya/ diakses pada 7 April 2020

https://nationalgeographic.grid.id/read/13300836/harmoni-di-negeri-para-dewa-2?page=all diakses pada 7 April 2020

https://jateng.antaranews.com/berita/202078/desa-wisata-bangkitkan-perekonomian-warga-dieng-kulon diakses pada 7 April 2020

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Kematian Karena Virus Corona Lebih Buruk dari Flu

Read Next

Niat Sholat Tarawih