Pasapa dalam Rajutan Harmonisasi Agama

Peserta Lomba: Sunarto Natsir
Pekerjaan: Guru / Pendidik
Alamat: Majene

Konfirmasitimes.com-Jakarta (24/03/2020). Sebagai makhluk sosial tentunya manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok yang berbeda warna dengannya, salah satunya adalah perbedaan agama. Namun ironisnya, jika kita mencoba melihat fakta yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Seringkali kita menemukan perilaku yang intoleran. Setara Institute mencatat pada tahun 2017, terdapat 155 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan. Sebanyak 75 tindakan pelanggaran melibatkan aktor negara, 71 berbentuk tindakan aktif, 3 tindakan by rule, sementara 1 tindakan lainnya merupakan tindakan pembiaran.

Paling terbaru kita dihadapkan dengan konflik yang terjadi di berbagai penjuru dunia,  belum kering luka akibat tindakan pembunuhan brutal di salah satu masjid Australia, kini kita harus menyaksikan konflik uygur di China, di Myanmar ada konflik melibatkan warga Rohingya, dan yang terakhir di Negara India. Bahkan konflik antara Palestina dan Israil yang sampai saat ini belum menemui titik terang. Tentunya tiap konflik meminta korban jiwa. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran agama yang luhur.

Namun sedikit berbeda, jika kita menengok tradisi dan budaya di pelosok desa yang ada di Indonesia. Budaya toleransi antar beragama tumbuh subur. Mereka seolah tak terpengaruh dengan keadaan atau konflik yang ada di perkotaan atau bahkan konflik agama yang terjadi di dunia. Kehidupan desa mampu mengkolaborasikan perilaku agamis dengan adat istiadat yang berkembang. Sehingga tercipta norma-norma yang baik meskipun itu tidak tertulis.

 Salahsatunya di Desa Pasapa Kec. Budong-budong Kab. Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat. Desa yang berjarak 138 km dari ibukota Prov. Sulawesi Barat termasuk salah satu daerah terpencil. Kondisi yang sulit untuk menuju desa ini lantaran sangat jauh dari pusat kota. Jalanan yang mendaki ataupun menurun serta berkelok-kelok mengingat untuk menuju ke daerah tersebut kita harus melewati beberapa gunung dan hamparan kebun sawit.

Di sisi lain, banyak orang yang tak mengetahui bahwa di desa ini menawarkan sebuah kearifan lokal yang sudah terjadi secara turun temurun. Desa yang terdiri dari 7 dusun ini, terbagi ke dalam 3 dusun yang mayoritas islam sedangkan 4 dusun lainnya mayoritas beragama Kristen. Meskipun perbedaan agama ini sangat mencolok di tiap dusun,  toleransi yang sangat kuat menjadikan desa ini hidup harmonis.  Tingginya toleransi antarwarga dan kondusifitas kehidupan di tengah perbedaan keyakinan kehidupan sosial di sana sangat baik dan normal, perbedaan keyakinan tidak menghalangi kehangatan dan keakraban satu sama lain. Mereka tinggal berbaur tidak disekat-sekat oleh keyakinan yang berbeda. Toleransi beragama di sana benar-benar dijalankan dengan “sempurna”. Tak pernah ada dan terjadi penghadangan atau pelarangan terhadap mereka yang akan melaksanakan ibadah di tempat ibadah masing-masing yang berbeda misalnya. Juga tak pernah terjadi mereka saling mengganggu ibadah yang dijalankan oleh masing-masing.

Salah satu bukti sikap toleransi di Desa Pasapa adalah dengan adanya rumah to matoa (orangtua) yang menjadi tempat bagi warga muslim untuk berkumpul dan menginap jika ada hajatan di dusun yang mayoritas kristen. Di rumah ini, masyarakat muslim melakukan aktifitas memasak untuk memenuhi kebutuhannya selama acara hajatan itu berlangsung. Rumah ini disedikan oleh warga setempat sebagai wujud rasa toleransi untuk masyarakat yang beragama islam. Sehingga jika ada kegiatan di dusun kristen, orang muslim dapat leluasa untuk melakukan aktifitas. Bukan hanya itu, perlengkapan dapur yang ada di rumah ini disediakan langsung oleh umat kristian dan alat-alat dapur itu tidak digunakan oleh umat kristian, tapi hanya bisa digunakan khusus oleh warga muslim saja. Sehingga alat dapur tersebut tetap bersih sesuai keyakinan umat muslim. Ini dilakukan untuk menghargai keyakinan umat islam. Sehingga tidak ada keraguan terkait masalah halal dan haram makanan yang selama ini menjadi polemik di daerah lain.

Rumah to matoa ini terbilang sederhana layaknya rumah-rumah lainnya. Luasnya hanya berkisar 10 x 12 m2 . berdindinkan papan yang dipasang secara bersusun dan beratapkan seng. Tak ada kesan mewah, namun keberadaan rumah ini sangat berharga bagi kedua umat ini. Bagi umat kristian rumah ini sebagai bukti persaudaraan dan keakraban mereka kepada masyarakat muslim di Desa Pasapa. Di sisi lain, bagi umat islam, sebagai tempat untuk memberikan rasa solidaritas dan menunjukkan simpati jika ada kegiatan di dusun tersebut seperti upacara adat, pernikahan ataupun upacara kematian. Maka tak heran jika di rumah ini setiap harinya ramai dikunjungi oleh orang dari kedua umat ini, entah itu mengadakan pertemuan ataupun sekedar bercengkrama.

Keunikan yang lain lagi di desa ini, Jika ada upacara kematian di salah satu dusun, maka dusun yang terdekat baik yang muslim maupun kristian tak akan ke sawah  dan kebun atau dengan kata lain warga dusun terdekat meliburkan diri meskipun tanpa diberi perintah, mereka berbondong-bondong untuk membersamai saudara mereka yang lagi ditimpa musibah. Tentunya dengan masing-masing membawa hasil bumi sebagai bantuan untuk meringankan beban orang yang berduka., maka dusun yang terdekat akan mengunjungi. Sungguh pemandangan yang sangat indah tatkala mereka berjalan rapi melalui jalan desa yang kecil untuk menuju dusun tetangga. Karena secara geografis letak antara dusun yang satu dengan dusun yang lain kurang lebih ditempuh dengan berjalan kaki sekira 20-30 menit.

Meskipun mereka tinggal di pelosok desa. Kehidupan desa identik dengan kehidupan yang tenang, tenteram, hangat, dan akrab. Seperti itulah suasana hidup rukun antara penduduk muslim dan kristen di Desa Pasapa. Gambaran ini secara nyata tertuang dari bait lagu pemersatu mereka yaitu salama-salama adapun lirik lagunya sebagai berikut :

Salama salama salama

Sitammu tammuki’ indetemo

Inde temo na Allo

Mapia mapia

Mapia dengan kada

mesa kada mesa dipotua masannang

mambela lalan ta ola

ullewan buntu lewak pasapa

ullewan buntu lewak pasapa

merio rio dio tondok tau

ullewan buntu lewak pasapa

merio rio dio tondok tau Tentunya belajar dari keharmonisan agama di desa Pasapa. Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak suku dan adat yang tumbuh subur di desa. Harusnya menjadi contoh dari berbagai Negara di dunia dalam mewujudkan sikap toleransi beragama. menurut data BPS pada tahun 2017 ada 89.931 desa di Indonesia. Tentunya dari jumlah desa ini terdapat ratusan budaya dan bahasa, serta agama dan kepercayaan yang beragam. Maka toleransi aktif yang akan kita kembangkan juga adalah bagaimana kita di Indonesia mengedepankan keberagamaan yang manusiawi itulah Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Dimana Pancasila berperan sebagai platform dan integrating force dari keberagaman yang dimiliki Indonesia (Azyumardi Azra : 2018).  

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

Sebagian Besar Bisnis Komersial Ditutup di Maryland Karena Virus Corona

Read Next

Video; Pasien COVID-19 Merekam Kondisinya Ketika Sakit

TOPIK BACAAN