Kearifan Lokal Dalam Pusaran Pembangunan Pariwisata Di NTT

Kearifan Lokal

Peserta Lomba: Boy Angga
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Nusa Cendana-Kupang – Nusa Tenggara Timur

Geliat pariwisata di Nusa Tenggara Timur saat ini menjadi tema sentral. Tema pariwisata menjadi semakin santer dalam berbagai ruang diskursus di Provinsi NTT. Pemerintah, pelaku industri, pelaku pariwisata, lembaga kemasyarakatan dan masyarakat pada umumnya menjadi semakin melek menyoal perkembangan sektor pariwisata. Perkembangan sektor pariwisata, dalam berbagai bentuk secara cepat dikonsumsi oleh masyarakat. Kebijakan pemerintah, destinasi pariwisata baru, fenomena di lokasi pariwisata sampai pada gelombang demonstrasi massa menyoal pariwisata menjadi menu harian bagi masyarakat NTT. Proses penyebaran informasinya berlangsung sangat cepat. Faktum ini paralel dengan pemanfaatan teknologi dalam jaringan.

Sentralitas tema pariwisata terus bergema ketika pemerintah mengusung sektor pariwisata sebagai prime mover bagi perekonomian di Nusa Tenggara Timur. Pariwisata dalam ekspektasi pemerintah NTT memiliki daya untuk menggerakan sektor perekonomian yang lain. Daya gerak ini tercitra melalui konektivitas yang terbangun dari sektor pariwisata. Dalam praksisnya, backward linkage dan fordward linkage menjadi syarat mutlak terciptanya konektivitas tersebut. Keterkaitan ke belakang dari sektor pariwisata terwujud melalui hubungan permintaan dengan sektor lain. Pengembangan pariwisata mampu meningkatkan permintaan terhadap sumber daya pendukung pariwisata. Misalnya permintaan tenaga kerja, dan bahan baku. Sedangkan keterkaitan ke depan tercipta melalui nilai jual sektor pariwisata.

Di Nusa Tenggara Timur beberapa tahun belakangan akselerasi perkembangan sektor pariwisata begitu cepat. Proses akseleratif ini  salah satunya dikonfirmasi oleh mobilitas wisatawan. Beberapa tahun terakhir ini, wisatawan yang berkunjung ke Nusa Tenggara Timur terus mengalami peningkatan. Data BPS menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2015 jumlah wisatawan mencapai 441.316 orang. Tahun 2016 jumlah wisatawan mengalami peningkatan menjadi 496.081. Jumlah ini terus meningkat hingga pada tahun 2017 tercatat 616.543 orang wisatawan berkunjung ke NTT. Setiap tahun, jumlah wisatawan domestik umumnya mendominasi. Misalnya pada tahun 2016 terdapat 430.582 wisatawan domestik dan pada  tahun 2017 terdapat 523.083 wisatawan domestik (Mongabay.co.id).

Faktum kuantitatif tersebut sangat potensial bagi pasar pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Dalam kaca mata ekonomi, mobilitas wisatawan ini memberikan dampak positif dalam proses pembangunan ekonomi di NTT. Masifnya kedatangan wisatawan memiliki efek domino terhadap perekonomian NTT secara khusus dan Indonesia pada tataran yang lebih luas. Bagi NTT, mobilitas wisatawan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, meluasnya kesempatan kerja, mendorong tumbuhnya industri kecil menengah dan berbagai sektor terkait lainnya. Efek positif inilah yang kemudian mendorong pemerintah NTT menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian NTT. Harapan besarnya adalah akselerasi pembangunan di sektor pariwisata mampu mendongkrak perekonomian di wilayah ini. Dengan demikian secara perlahan kelangggengan status kemiskinan Provinsi NTT secara perlahan dapat diputuskan.

Dimensi Kearifan Lokal

Faktum pariwisata di NTT hidup dan berkembang dalam ruang dan waktu yang sama dengan kearifan lokal masyarakat NTT.  Kearifan lokal di NTT sebagaimana produk kebudayaan pada umumnya telah lama berkembang. Tak dapat ditampik, bahwasannya sebelum dunia dijejali oleh peradaban teknologi seperti sekarang ini, kearifan lokal masyarakat menjadi ruh kehidupan. Kearifan lokal ini yang menciptakan harmonisasi dalam kehidupan sosial. Muatan yang terkandung di dalamnya adalah struktur, sistem dan aturan bermasyarakat sampai pada pola kerja untuk menunjang kehidupan secara fisik maupun psikis.

Dalam konteks kepariwisataan NTT, kearifan lokal masyarakat NTT sebenarnya menjadi salah satu basis daya tarik (attraction). Secara geografis, NTT adalah daerah kepulauan. Implikasi dari ciri geografis yang demikian adalah beragamnya kearifan lokal yang dimiliki masyarakat NTT. Bahkan dalam wilayah kepulauan yang sama, terdapat perbedaan yang mencolok. Ini sebenarnya menjadi sumber daya potensial bagi pengembangan pariwisata di NTT.

Kearifan Lokal

Namun pada kenyataannya, pretensi terhadap wisata budaya kurang mendapat tempat. Selama ini, potensi pariwisata ekologilah yang menjadi basis daya tarik bagi wisatawan. Diakui bahwa NTT memiliki banyak panorama alam yang memiliki nilai artistik tinggi. Selain itu, keberadaan Varanus Komodoensis di Taman Nasional Komodo memberikan andil yang besar dalam menarik banyak wisatawan ke NTT.

Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat NTT memiliki varian yang berbeda untuk setiap daerah. Upacara adat, sistem pembagian tanah, permainan tradisional, tenunan adat, dan struktur sosial kemasyarakatan berbeda di setiap wilayah. Masing-masing memiliki keunikan. Yang paling penting adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap unsur tersebut. Jika dikembangkan ini akan menjadi sumber daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Nusa Tenggara Timur.

Perhatian pada aspek kearifan lokal dalam proses pembangunan pariwisata di NTT selain untuk menambah daya tarik, esensi utamanya adalah memberi apresiasi dan melanggengkan sistem tersebut. Masifnya perkembangan teknologi dan disaat yang bersamaan mobilitas wisatawan asing berpotensi untuk mengancam aspek lokalitas di Nusa Tenggara Timur.

Dalam kacamata ekonomi, kearifan lokal di tengah masifnya pembangunan pariwisata NTT diberdayakan untuk memiliki nilai ekonomis. Pada tataran ini, pembangunan pariwisata di NTT akan menciptakan kedaulatan ekonomi masyarakat kecil. Konsep seperti ini secara nyata akan memberikan efek terhadap masyarakat. Disandingkan dengan terbatasnya sumber daya manusia, alternatif yang paling tepat untuk mendukung keterlibatan akar rumput adalah melalui pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal.

Meneropong fenomena kapitalisme dalam pembangunan pariwisata di NTT, rasa-rasanya sulit sekali bagi masyarakat kecil untuk mengakses peluang ekonomi dari popularitas pariwisata ini. Alih-alih mendorong ekonomi masyarakat kecil, pariwisata justru memarginalkan akar rumput.

Kearifan lokal sudah sepatutnya mendapat ruang dalam pembangunan pariwisata NTT. Wisata budaya menjadi alternatif yang paling tepat untuk memberdayakan ekonomi masyarakat kecil. Di tengah arus kapitalisme pariwisata, masyarakat kecil sulit untuk mendapatkan imbal hasil yang mencukupi. Untuk itu, masyarakat kecil akan berdaulat secara ekonomi jika wisata budaya dikembangkan seimbang dengan pengembangan wisata ekologi.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

Dokter Merekomendasikan Penggunaan Minyak Zaitun Dalam Perang Melawan Virus Corona

Read Next

Gejala Tanda-tanda Virus Corona, Jangan Abaikan!

TOPIK BACAAN