Tradisi Siat Sampian Pura Penataran Sasih Pejeng

Ritual Perang Sampian

Konfirmasitimes.com-Jakarta (15/03/2020). Tradisi Siat Sampian Pura Penataran Sasih Pejeng. Dalam menjalani kehidupan pasti ada persaingan, pertentangan tetapi dalam garis dharma negara  menuju  sebuah keharmonisan. Begitu juga menjelang Pilkada 2020 ini, semua parpol seyogyanya menjalani dharmanya. Seperti pada prosesi Siyat  Sampian, serangkaian upacara piodalan di Pura Penataran Sasih, Pejeng, Tampaksiring, Kamis (12/03/2020).

Dalam keterangannya Cok Gde Putra Pemayun selaku Bendesa Agung Jero Kuta Pejeng menyampaikan bahwa pertunjukan sakral itu adalah persembahan atas karunia Tuhan sekaligus tanda  keseriusan umat untuk berupaya melangkah di jalan dharma.

Menurutnya ritual ini memiliki pemaknaan yang luas dan  mendalam. Sama halnya cerminan kehidupan berdemokrasi tempo dulu, yang menggambarkan sebuah pertentangan namun menghasilkan keharmonisan, lantaran semua pihak menjalani dharmanya masing-masing.

Ritual ini juga merupakan persembahan atas karunia Tuhan sekaligus mewujudkan keseimbangan alam makro dan mikrokosmos

Cok Gde Putra Pemayun

Sebelum prosesi nedunang Ida Bethara rangkaian prosesi meliputi  

  • Ritual mabente-bentean,
  • Maombak-ombakan serta
  • Masiyat  sampian.

Ritual ini dilakukan pengayah Jero Sutri serta Juru Sirat yang selama Ida Bethara nyejer sibuk ngayah di pura setempat.

Para Jero Sutri dan Juru Sirat mengawali dengan ‘nampyog’ sebelum dilaksanakan siyat sampian. Nampyog yang dimana para sutri dan juru sirat menari mengelilingi areal Pura Penataran Sasih.

Kemudian diikuti dengan prosesi mabente-bentean (saling tarik). Ketika prosesi ini berlangsung para pengayah (Jero Sutri dan Juru Sirat) saling berpegangan tangan, kemudian saling tarik satu sama lain.

Berikutnya dilanjutkan dengan gerakan maju mundur sedemikian rupa, sehingga menyerupai gerakan ombak dengan iringan tetabuhan gamelan.

Prosesi pastinya menarik perhatian seluruh pemedek yang memadati areal Pura Penataran Sasih. Terlihat pula puluhan turis asyik mengabadikan prosesi unik ini menggunakan kameranya maupun handy cam-nya.

Semua prosesi ini dilakukan dengan mengelilingi areal Pura Penataran Sasih sebanyak tiga kali mengikuti arah mapurwa daksina.

Selanjutnya setelah mereka beristirahat, mereka lalu berteriak hysteria dan langsung sembahyang di hadapan pengaruman pura serta pelinggih Ratu Sanghyang.

Seusai sembahyang dan diperciki tirta, semua peserta terlihat seperti orang kerasukan. Mereka pun langsung mengambil sampyan yang sebelumnya telah disediakan di halaman pura.  Sampian tersebut sebelumnya diambil oleh prajuru dari ratusan dansil yang ada di areal pura.

Kemudian para sutri tampak saling serang menggunakan sampian dengan sejumlah sutra lainnya. Begitu pula ketika hal serupa dilakuan para juru sirat. Herannya, tak satupun dari mereka yang merasakan kesakitan setelah melaksanakan tradisi itu. Sejumlah jrusu sirat mengaku puas bisa ngayah siyat sampyan.

Tradisi Siyat Sampian ini memang harus selalu dilaksanakan setiap piodalan di Pura Penataran Sasih setiap tahunnya.

Tepatnya, sesaat sebelum prosesi Ida Bethara Manca-manca (dari luar desa pakraman Jero Kuta Pejeng)  budal/kembali ke stananya masing-masing.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

10 Tips Untuk Berperilaku Bijak Selama Wabah Virus Corona

Read Next

Ahli gizi; Cara Makan Saat Dikarantina

TOPIK BACAAN