Kande Kandea dan Pingitan Buton

Peserta Lomba: Sani
Alamat: Bau bau, Buton tengah

Kande Kandea dan Pingitan Buton

Buton adalah suatu daerah yang terletak di provinsi sulawesi tenggara kota Baubau dengan jumlah penduduk 257,159 pada tahun 2019. Buton terbagi menjadi menjadi beberapa kabupaten yaitu Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Buton Utara, dan Wakatobi.Buton sering dijuluki daerah seribu gowa dan daearah seribu satu bahasa karena memiliki ragam bahasa disetiap daerahnya.

Selain memiliki seribu gowa dan seribu satu bahasa buton juga memiliki benteng terluas didunia yaitu benteng keraton Buton dengan luas 23.357 hektar dan memiliki tiang bendera yang tertua serta terpanjang yang berumur 300 tahun dan tinggi 21 meter dari permukaan tanah.

Disamping itu daerah buton memiliki beragam budaya disetiap daerahnya. Kande kandea ( makan makan bahasa indonesianya) salah satu budaya Buton yang masih di lestarikan sampai sekararang.

Budaya ini diadakan setiap setahun sekali setelah lebaran idul fitri, budaya ini dipercayai oleh masyarakat setempat untuk mencari jodo h. jadi, budaya ini dilakukan oleh perempuan dan laki laki yang masih jomblo.

Cara pelaksanaanya sangat mudah wanita dan laki laki jomblo duduk berhadapan lalu perempuan menyuapi sekepal nasi kepada laki laki yang jomblo tadi.

Yang lebih serunya lagi budaya ini tidak hanya di hadiri oleh masyarakat setempat tapi banyak dari luar daerah berbondong-bondong datang untuk menyaksikan keseruan budaya kande kandea, bahkan ada pula yang berpatisipasi dalam budaya itu.

Selain budaya kande kandea ada juga budaya pingitan (karia,a bahasa buton)lain halnya dengan kande kandea budaya satu ini juga tidak kalah seru.

Tapi budaya ini di khususkan untuk perempuan yang beranjak dewasa tujuannya untuk mengetahui keperawaan wanita remaja tersebut dan seberapa besar dosa wanita remaja itu kepada ortunya.

Jika selama budaya ini berlangsung ada gendang yang pecah maka diantara wanita remaja yang mengikuti budaya itu ada yang sudah tidak perawan atau berdosa pada orang tuanya.

Budaya ini dilakukan selamam 3 tahun sekali. Pelaksanaanya pun cukup rumit dan membebankan.

Mengapa? Karena wanita remaja tadi dikurung secara masal selama 6 hari 6 malam dengan ketentuan tidak bisa buang air kecil,air besar,makan sekali sehari itupun hanya satu sendok nasi, minum tidak boleh banyak hanya setengah gelas perhari dan tidak boleh dilihat laki laki selama dalam kurungan.budaya ini disertai dengan pemukulan 3 gong dan 4 gendang disetiap harinya.

Selama dalam kurungan wanita remaja wajib memakai kunyit diseluruh tubuh mereka. Supaya ketika mereka keluar nanti mereka terlihat bening dan makin cantik. Sehari sebelum wanita remaja tadi keluar dari kurungan dilakukan pemotongan ayam betina yang muda dan harus warana hitam.

Tujuan dari pemotongan ayam ini adalah untuk mengetahui jodoh para wanita remaja yang dipingit tadi. Jika ayamnya kearah selatan, barat, timur, dan utara maka jodohnya di bagian itu ,jika ayamnya terbang jauh berarti jodohnya jauh bahkan bisa dari luar daerah, dan kalau ayamnya diam ditempat berarti jodohnya di daerah itu. Setealah 6 hari 6 malam tibalah waktunya para wanita itu keluar dari kurungan.

Sebelum mereka keluar mereka didandan secantik mungkin dengan mengunakan pakayan adat buton dan perhiasan lainnya. Sambil menunggu wanita remaja tadi dihiasi dengan pakaiyan buton, diadakan lagi budaya kangkilo budaya ini di ikuti anak laki laki yang berumur 4 sampai 7 tahun. Mereka dibawa kesuatu tempat dengan digendong sejauh satu kilo. Anak laki laki itu dihiasi dengan sarung dan selendang tanpa pakaiyan. Selesai kangkilo tibalah pengeluaran wanita- wanita remaja tadi, pengeluaran mereka disambut bak seorang ratu dengan pengawal masing masing.

Sang pengawal ditugaskan untuk memegang lilin yang sudah dibakar, mereka berjalan diatas karpet atau kain putihsambil menuju kursi yang sudah disediakan sambil dikuti alunan gong yang dipukul tanpa henti.

Setelah itu tibalah waktunya para masyarkat untuk menyawer mereka dengan uang, bentuk sawerannya pun berbeda beda ada yang langsung kasih ada juga yang duluan menampar kepipi wanita remaja tadi.setelah proses penyaweran selesai wanita wanita remaja tadi kembali ke ruangan khusus untuk menikmati makanan yang sudah disediakan karena selama 6 hari 6 malam mereka tidak makan dan minum. Sesudah makan mereka istrahat dan akan langsung mengatar tabib ( bhisa bahasa butonnya) mereka kerumahnya dengan berjalan kaki dan berbalis satu barisan sesuai urutan.

Budaya ini belum berakhir meskipun mereka sudah keluar dari kurungan tapi mreka harus melakukan satu budaya lagi yaitu tari linda. Selama mereka menari mereka disawer tarian linda ini berlansung 2 malam setelah tari linda paginya di adakan loncat dengan satu kaki( kansedhe sedhe bahasa butonya) untuk anak laki laki yang kangkilo tadi selama loncat mereka disawer oleh masyarakat juga.

Sore harinya dilanjutkan dengan silat ( mansa bahasa butonnya) mansa ini dilakukan oleh tokoh adat dan dan pemuda buton dan berlansung 2 hari setiap sore.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

Doa Agar Terhindar dari Penyakit Menular

Read Next

Kabid Humas Polda Jabar; Waspada Perampokan Modus Penyemprotan Virus Corona

TOPIK BACAAN