Partisipasi Seniman-seniman Indonesia dalam Asia Topa 2020

Komang Rosie Clynes

Konfirmasitimes.com-Jakarta (13/03/2020). Indonesia turut berpartisipasi dalam festival bergengsi yang diselenggarakan tiga tahun sekali di Melbourne yang biasa dikenal dengan Asia-Pacific Triennial of Performing Arts (ASIA TOPA).

Para seniman dari berbagai negara di Asia dan Pasifik menampilkan karya seni mereka termasuk dari seniman-seniman dari Indonesia.

Seniman Indonesia, pertama kali menampilkan karya Kamila Andini pada tanggal 20 – 29 Februari, menampilkan The Seen and Unseen, sebuah karya yang diadaptasi dari film terkenal dengan nama yang sama (Bahasa Indonesia: Sekala Niskala).

Pagelaran ini menggabungkan karya koreografer Indonesia, Ida Ayu Wayan Satyani dengan seniman teater Australia, Adena Jacobs, Eugyeene Teh dan Jenny Hector serta melibatkan penampilan anak-anak dari Bali (Komunitas Bumi Bajra) yang juga merupakan aktor pada film tersebut.

Selain itu, selama 11 hari (20 Februari – 1 Maret), kolaborasi seniman dari Indonesia (Yogyakarta dan Bandung), Malaysia, Timor Leste, Singapura dan Australia menampilkan “Huru-Hara” yang menampilkan tentang tabrakan budaya antara budaya lama dan baru, ragam sudut pandang dan hal-hal tabu. Penampilan ini juga akan menampilkan beragam halusinasi yang penuh warna.

The Planet – A Lament

Kemudian di tanggal 21 Februari, Garin Nugroho salah satu sutradara ternama asal Indonesia beserta tim turut melengkapi peran karya seni dalam menyuarakan pesan alam.

Garin menyuguhkan The Planet – A Lament, sebuah drama yang bertujuan untuk menyadarkan manusia tentang kondisi alam. Sebelumnya Garin adalah satu-satunya seniman Indonesia yang tampil pada Asia TOPA 2017 dengan karya seni “Setan Jawa”.

ASIA TOPA 2020 semakin menarik dengan adanya grup paduan suara aliran metal underground asal Bandung, Tikoro Heavy Metal, yang berkolaborasi dengan Lucy Guerin inc.

Kolaborasi ini menyuguhkan seni musik kontemporer yang tampil dengan nama METAL.

Baca Juga:  Ada Unsur Spritual di Pertunjukan Kuda Lumping

Dalam keterangannya saat sambutan pada Business Networking Event yang diselenggarakan pada tanggal 26 Februari untuk merayakan kolaborasi seni Bandung-Melbourne, Konjen RI Melbourne, Spica A. Tutuhatunewa menyampaikan

“Kolaborasi antara Tikoro Heavy Metal dan Lucy Guerin inc adalah pengakuan dan apresiasi atas seni kontemporer Indonesia”

Mainteater

Kemudian pada tanggal 27 Februari – 1 Maret 2020 Mainteater dari Bandung berkolaborasi dengan Sandra Fiona Long dan sejumlah artis asal Melbourne menampilkan Hades Memudar. Hades Memudar berhasil mencuri perhatian para penonton dengan pesan-pesan mengenai mitologi pasca apokaliptik yang berlatar mitos dunia Hades. Hades Memudar menggambarkan ingatan, media, kepercayaan, dan potensi bencana yang mengintai manusia.

Lalu pada 28 Februari 2020, Komang Rosie Clynes, penari berdarah Indonesia, semakin menambah karya Indonesia dengan merilis karyanya berjudul Mythologies yaitu sebuah rekaman musik naratif yang terinspirasi oleh sampel suara dan gamelan yang diambil dari pulau Bali.

Komang Rosie Clynes

Enam dari tujuh karya seniman Indonesia telah belangsung, namun pesona Indonesia dalam ASIA Topa 2020 belum berakhir. Eko Supriyanto, salah satu koreografer ternama dari Indonesia akan melengkapi warna Indonesia melalui karyanya berjudul “Ibu-ibu Belu” pada tanggal 27 – 28 Maret 2020 berlokasi di Dancehouse, 150 Princes St, Carlton North.

Penampilan seniman Indonesia didukung penuh oleh KJRI Melbourne karena secara langsung telah memperkuat citra Indonesia (nation branding) dan memperkuat jejaring kerja sama (networking) serta membangun kesinambungan kerja sama (sustainability).

ASIA Topa 2020 menjadi salah satu peluang kerja sama di bidang budaya antara pemerintah Indonesia dan Australia.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

Tampak Preseden Pemberantasan Identitas Palestina Oleh Amerika

Read Next

Advokat Palestina Dilarang Masuk Jerman Karena Dianggap Anti-Semitisme

TOPIK BACAAN