Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw

isra miraj kisah, sejarah, cerita

Isra’ Mi’raj / Isra Mikraj / Isra Miraj (Arab: الإسراء والمعراج‎, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāj) pada tahun ini diketahui berdasarkan kalender hari libur Indonesia, Isra Mi’raj jatuh pada hari Minggu tanggal 27 Rajab 1441 H atau 22 Maret 2020. Saat Isra Miraj berlangsung tepatnya tahun ke 10 dari kenabian, tepatnya tahun 621M. Tahun ini disebut juga ta­hun kesedihan (‘am al-khazn) karena pada saat itu Nabi Muhammad Saw bertubi-tubi menerima cobaan, antara lain wafatnya isteri tercintanya Siti Khadijah, menyusul kepergian pamannya Abu Thalib. Selain itu masih ditahun yang sama, tekanan Nabi dari kaum kafir Quraisy semakin mening­kat. Bahkan sudah sampai kepada tingkat un­tuk dihabisi nyawanya.

Isra’ Mi’raj di Indonesia biasanya diadakan ceramah umum yang mengisahkan peristiwa Isra’ Mi’raj dan umumnya dibarengi dengan dzikir dan shalawa­tan. Peringatan Isra’ Mi’raj secara kenegaraan juga selalu diselenggarakan oleh Presiden di Istana Negara atau di Masjid Is­tiqlal.

Di Indonesia, di beberapa daerah memiliki tradisi unik saat memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad Saw. Indonesia sendiri dikenal sebagai negara mayoritas penduduknya beragama Islam, jadi tidak heran jika muslim Indonesia selalu mengistimewakan Isra Miraj.

Contoh muslim Cirebon merayakan Isra Miraj dengan Tradisi Rajaban, berziarah ke Plangon tempat 2 makam penyebar ajaran agama Islam. Selain itu diadakan pula pengajian di Keraton Kasepujan Cirebon.

Diluar Jawa ada Kampung Bukit ( Provinsi Bangka Belitung ) dan masyarakat di Bangka Selatan, memperingati Isra Miraj dengan Tradisi Nanggung. Masyarakat Kampung Bukit membawa makanan dari rumah masing-masing menggunakan rantang dengan isi yang bervariasi.

Masih diluar Jawa, tepatnya di Sebatik yaitu daerah perbatasan dengan Malaysia. Warga Sebatik memperingati Isra Miraj dengan Tradisi Mengumpulkan Kue-Kue di masjid dan dinikmati bersama setelah serangkaian acara selesai.

Tradisi unik lainnya dari Karo, Sumatera Utara. Muslim yang tinggal di Karo memperingati Isra Miraj dengan mempraktikkan Tradisi Kerja Tuhan (Pesta Panen). Tradisi ini bertujuan untuk wujud rasa syukur atas anugerah Yang Maha Kuasa.

Pembahasan Lengkap Perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw

Isra Miraj adalah perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, yang mana beliau menuju naik ke langit demi langit hingga sampai di sidratul muntaha dengan menempuh perjalanan yang super kilat.

Banyak kejadian yang dialami Rasulullah selama Isra Miraj dari awal hingga akhir perjalanan. Apa saja kah itu, bagaimana cerita lengkapnya dan apa hikmahnya? Berikut ini pembahasan lengkapnya.

Makna / Arti Isra Miraj

Secara bahasa Isra’ berasal dari Bahasa Arab berarti perjalanan, maksudnya adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Sedangkan Mi’raj berarti pendakian spiritual menuju Sidrah al-Muntaha, tempat atau maqam paling tinggi.

Selanjutnya Isra’ Mi’raj lebih dikenal sebagai perjalanan spiritual Rasulullah Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan diteruskan ke Sidrah al-Muntaha melalui langit pertama sampai langit ke tujuh.

Qur’an Surat Al-Isra’ Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sejarah Isra Miraj

Isra Miraj yang setiap tahun diperingati oleh umat Islam adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha yang berada di lapisan langit ketujuh.

Isra Miraj dilakukan hanya dalam kurun waktu semalam saja dengan mengendarai buraq, sejenis makhluk yang ditunggangi oleh Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril menuju ke Sidratul Muntaha dengan kecepatan yang luar biasa. Pertama, Nabi Muhammad mengendari Buraq dari Mekah menuju Jerusalem. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan beranjak menaiki tangga menuju langit pertama.

Pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Lainnya

Peristiwa atau Kisah Isra Miraj Nabi di Langit Pertama (Langit Dunia)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَانْطَلَقَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَاسْتَفْتَحَ، فَقِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ فَفَتَحَ

Kemudian Jibril beranjak bersamaku hingga kami tiba di langit dunia. Ia meminta dibukakan. Penjaga langit pertama bertanya, “Siapa?” “Jibril”, jawabnya. Ia kembali bertanya, “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.”

“Apakah ia diutus kepada-Nya”, tanyanya lagi. “Iya”, jawab Jibril. Malaikat itu berkata, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Ia pun membuka (pintu langit).

Untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban manusia seorang manusia, dalam keadaan hidup, berdiri di pintu-pintu langit. Menunggu pintu-pintu itu dibukakan untuknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memahami jika langit-langit itu mempunyai sebuah pintu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala;

Qur’an Surat Al A’raf ayat 40

لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

“Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit…”

Dan firman Allah ketika mengisahkan kebinasaan kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Qur’an Surat Al Qamar ayat 11

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”

Karena itu, ketika berdiri di depan pintu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“فَضَرَبَ -أي جبريل- بَابًا مِنْ أَبْوَابِهَا..”.

“Dia mengetuk -yaitu Jibril- pintu-pintu…”

Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengabarkan kepada kita tentang pintu tersebut. Bagaimana bentuknya. Warnanya. Dan sifat-sifatnya. Karena itu, kita pun tidak berkepentingan menerka-nerka dan membayangkan bagaimana bentuk pintu-pintu langit itu.

Penjaga pintu langit itu menanyakan siapa yang mengetuk. Hal ini menunjukkan yang di dalam langit tidak mengetahui siapa yang berada di luar. Atau penjaga langit itu tidak mengenal perwujudan Jibril dalam bentuk manusia ketika itu. Ketika Jibril menyebutkan dirinya, ia bertanya tentang siapa yang bersamanya. Dalam riwayat al-Bukhari dari Abu Dzar, penjaga langit itu bertanya,

هَلْ مَعَكَ أَحَدٌ؟

“Apakah engkau bersama seseorang?”

Dari riwayat ini, kita bisa memahami penjaga langit tidak melihat siapa yang di luar. Jibril pun menjawab,

نَعَمْ مَعِي مُحَمَّدٌ

“Iya, aku bersama Muhammad.”

Jawaban ini merupakan bentuk pengagungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ini menunjukkan bahwa penghuni langit mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebelum peristiwa ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada kita sifat langit dunia. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“إِذَا قَضَى اللهُ الأَمْرَ فِي السَّمَاءِ، ضَرَبَتِ المَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الحَقَّ، وَهُوَ العَلِيُّ الكَبِيرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ، وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ -وَوَصَفَ سُفْيَانُ (هو سفيان بن عيينة أحد رواة الحديث) بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا، وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الكَاهِنِ، فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ، فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا: كَذَا وَكَذَا. فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنَ السَّمَاءِ.

“Apabila Allah memutuskan sebuah perintah di langit, para malaikat menundukkan sayap-sayap mereka dengan penuh takut, bagaikan suara rantai yang ditarik di atas batu putih. Apabila telah hilang rasa takut dari hati mereka, mereka bertanya, ‘Apa yang dikatakakan oleh Tuhan kalian?’ Jibril menjawab, ‘Tentang kebenaran dan Ia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Lalu para pencuri berita langit (setan) mendengarnya. Mereka para pencuri berita langit itu sebagian mereka di atas sebagian yang lain.

Hadist Riwayat Al Bukhari, 4/1804 (4522)

-Sufyan (rawi hadits) mencontohkan dengan jari-jarinya- yang paling di atas mendengar sebuah kalimat lalu membisikannya kepada yang di bawahnya. Kemudian selanjutnya ia membisikan lagi kepada yang di bawahnya. Dan begitu seterusnya sampai ia membisikannya kepada tukang sihir atau dukun. Kadang-kadang ia disambar oleh bintang berapi sebelum menyampaikannya atau ia telah menyampaikannya sebelum ia disambar oleh bintang berapi. Kemudian setan mencampur berita tersebut dengan seratus kebohongan. Orang-orang berkomentar: bukankah ia telah berkata kepada kita pada hari ini dan ini… maka ia dipercaya karena satu kalimat yang pernah ia dengan langit tersebut’.”

Peristiwa mendengar ini terjadi ketika diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Firman Allah Ta’ala:

Qur’an Surat Jin ayat 9

فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

“Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”

Dan firman Allah Ta’ala:

Quran Surat Ash Shaffat ayat 6 – 10

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (6) وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ (7) لاَ يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلإِ الأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ (8) دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ (9) إِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.”

Berangkatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke langit merupakan peristiwa istimewa. Karena itu, penjaga pintu langit menyambut beliau dengan bahagia dan mengucapkan, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”

Namun demikian, rasa bahagia penyambutan Nabi ini tidak membuat mereka luput dari amanah dalam menjaga pintu langit. Mereka tetap bertanya, “Apakah dia diutus kepada-Nya?” Padahal Jibril adalah pemimpin mereka. Pemimpin mereka membawa manusia yang mereka kenal sebagai manusia mulia. Yang tidak mungkin kedatangan manusia sampai ke pintu langit dan didampingi Jibril, pasti atas izin Allah. Tapi mereka tetap menanyakan hal itu. Hal ini menunjukkan betapa malaikat tidak memaksiati Allah dalam tugas-tugas yang Allah berikan pada mereka.

Quran Surat An-Nahl ayat 50

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”

Kemudian penjaga pintu langit pun membukakan pintu. Jibril memasuki langit pertama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sini, Nabi Muhammad berjumpa dengan bapak manusia, Adam ‘alaihissalam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan:

Hadist Riwayat Al Bukhari dalam Kitab ash-Shalah (342)

فَلَمَّا فَتَحَ عَلَينَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَإِذَا رَجُلٌ قَاعِدٌ عَلَى يَمِينِهِ أَسْوِدَةٌ، وَعَلَى يَسَارِهِ أَسْوِدَةٌ، إِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَمِينِهِ ضَحِكَ، وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَسَارِهِ بَكَى، فَقَالَ: مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالاِبْنِ الصَّالِحِ. قُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا آدَمُ، وَهَذِهِ الأَسْوِدَةُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ نَسَمُ بَنِيهِ، فَأَهْلُ اليَمِينِ مِنْهُمْ أَهْلُ الجَنَّةِ، وَالأَسْوِدَةُ الَّتِي عَنْ شِمَالِهِ أَهْلُ النَّارِ، فَإِذَا نَظَرَ عَنْ يَمِينِهِ ضَحِكَ، وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ شِمَالِهِ بَكَى

Ketika pintu langit dibukakan untuk kami, ternyata ada seseorang yang sedang duduk. Di sebelah kananya terdapat sekelompok besar orang. Demikian juga di sebelah kirinya. Apabila ia menoleh ke sebelah kanan, ia tersenyum. Saat menoleh ke sebelah kiri, ia menangis.

Lalu orang itu berkata, ‘Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia?’ Jibril menjawab, Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.’

Pertemuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Nabi Adam ‘alaihissalam di langit pertama merupakan penggambaran yang jelas. Adam adalah manusia pertama. Ia adalah ayah dari semua manusia. Termasuk para nabi. Ia berjumpa dengan putranya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk orang yang paling berbahagia dengan kemuliaan keturunannya ini. Kegembiraan itu terlihat dari ucapan beliau:

مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالاِبْنِ الصَّالِحِ

“Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

Hadist Riwayat Al Bukhari dalam Kitab At Tauhid (7079)

مَرْحَبًا وَأَهْلاً بِابْنِي، نِعْمَ الاِبْنُ أَنْتَ

“Selamat datang wahai anakku. Engkau adalah sebaik-baik anak.”

Peristiwa yang menjadi perhatian dalam pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Adam adalah berkumpulnya semua ruh manusia di sekitar Nabi Adam. Ruh-ruh penghuni surga berkumpul di sebelah kanan beliau. Sedangkan ruh-ruh penghuni neraka berada di sisi kirinya. Beliau tersenyum dan menangis. Senyuman beliau adalah ekspresi kebahagiaan. Sedang tangis beliau adalah wujud kasih sayang beliau terhadap anak-anaknya yang akan menemui tempat kembali yang buruk.

Bisa jadi juga beliau merasa bersalah karena beliau menjadi lantaran manusia turun ke bumi. Sehingga manusia berhadapan dengan ujian. Dan mereka gagal menghadapi ujian tersebut. Makna inilah yang beliau ungkapkan ketika berhadapan dengan manusia di Padang Mahsyar kelak. Beliau berkata,

Hadist Riwayat Muslim dalam Kitab Al Iman (195)

وَهَلْ أَخْرَجَكُمْ مِنَ الجَنَّةِ إِلاَّ خَطِيئَةُ أَبِيكُمْ آدَمَ، لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ..

“Bukankah yang mengeluarkan kalian dari surga adalah kesalahan ayah kalian Adam. Aku tak layak memberi syafaat untuk kalian…”

Melihat 3 Sungai Surga

Di antara hal lainnya yang dilihat Nabi shallallahu antara langit pertama dan langit kedua adalah tiga sungai besar. Ketiga sungai itu adalah Sungai Nil, Sungai Eufrat, dan al-Kautsar.

Hadist Riwayat Al Bukhari dalam Kitab At Tauhid (7079)

فَإِذَا هُوَ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا بِنَهَرَيْنِ يَطَّرِدَانِ، فَقَالَ: مَا هَذَانِ النَّهَرَانِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا النِّيلُ وَالْفُرَاتُ عُنْصُرُهُمَا. ثُمَّ مَضَى بِهِ فِي السَّمَاءِ، فَإِذَا هُوَ بِنَهَرٍ آخَرَ عَلَيْهِ قَصْرٌ مِنْ لُؤْلُؤٍ وَزَبَرْجَدٍ، فَضَرَبَ يَدَهُ فَإِذَا هُوَ مِسْكٌ أَذْفَرُ، قَالَ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ الَّذِي خَبَأَ لَكَ رَبُّكَ

“Ternyata di langit dunia ada dua sungai yang mengalir, Nabi Muhammad bertanya, ‘Dua sungai apa ini wahai Jibril? ‘ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Nil dan Eufrat.’ Kemudian Jibril terus membawa Nabi ke langit, tiba-tiba ada sungai lain yang di atasnya ada istana dari mutiara dan intan, Nabi memukulnya dengan tangannya, tiba-tiba baunya seperti minyak wangi adlfar. Nabi bertanya, ‘Ini apa wahai Jibril? ‘ Jibril menjawab, ‘Ini adalah telaga al Kautsar yang sengaja disimpan oleh Tuhanmu untukmu’.”

Rasulullah SAW tidak hanya melihat pintu-pintu langit saja, tetapi diantara hal itu Nabi Muhammad juga melihat sungai-sungai surga yang indah. Sungai-sungai itu adalah Sungai Nil, Sungai Eufrat dan Telaga Al-kausar.

Dalam perjalanan ini, Nabi Muhamamd Saw melihat 3 sungai yakni Sungai Eufrat, Sungai Nil dan Telaga Al-Kautsar. Sungai Nil dan Eufrat akan beliau lihat lagi di langit ketujuh. Ada pun Sungai atau telaga Al-Kautsar adalah sungai yang sangat istimewa yang akan Allah Swt hadiahkan kepada Rasul-Nya. 

Diriwayatkan dari al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hadist Riwayat Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, 6210

بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِنَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ. فَإِذَا طِينُهُ -أَوْ طِيبُهُ- مِسْكٌ أَذْفَ

Ketika kami berjalan di surga, tiba-tiba ada sungai yang pinggirnya berupa kubah dari mutiara berongga. Aku bertanya, ‘Apa ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Inilah al-kautsar yang Allah Ta’ala berikan untukmu.’ Ternyata tanahnya atau bau wanginya terbuat dari minyak misk adzfar.

Peristiwa atau Kisah Isra Miraj Nabi di Langit Kedua

. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ فَفَتَحَ..”.

Penjaga pintu langit kedua bertanya, “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.”

“Apakah ia diutus kepada-Nya?” tanyanya lagi. “Iya”, jawab Jibril. Penjaga pintu langit kedua mengatakan, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Ia pun membukakan pintu.

Setiap langit terpisah dari langit lainnya. Setiap langit memiliki pintu-pintu dan penjaga masing-masing. Dan juga setiap langit memiliki penghuninya masing-masing. Hal ini bisa kita pahami dari firman Allah Ta’ala:

Quran Surat Fushshilat ayat 12

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.”

Setiap langit memiliki urusannya sendiri-sendiri. Demikianlah Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya membuat pengaturan. Sehingga langit itu terjaga dengan penjagaan yang sempurna. Dan memiliki tatanan yang luar biasa.

Memasuki Langit Kedua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يَحْيَى وَعِيسَى، وَهُمَا ابْنَا الخَالَةِ، قَالَ: هَذَا يَحْيَى وَعِيسَى فَسَلِّمْ عَلَيْهِمَا، فَسَلَّمْتُ فَرَدَّا، ثُمَّ قَالاَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ

“Ketika aku telah memasuki pintunya, ternyata ada Yahya dan Isa. Keduanya adalah saudara sepupu. Jibril berkata, ‘Ini Yahya dan Isa. Ucapkanlah salam kepada keduanya’. Aku pun mengucapkan salam dan keduanya membalas salamku. Kemudian keduanya berkata, ‘Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh’.”

Kedua nabi yang bersaudara ini berada di langit yang sama. Sewaktu di dunia, keduanya pun sempat hidup bersama. Allah kumpulkan keduanya di dunia, di lanigt, dan di akhirat kelak. Tentu kita jadi teringat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.”

Karena itu, cintailah orang-orang shaleh.

Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa pertemuan ini hanya terjadi antara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Nabi Isa ‘alaihissalam saja. Dalam sebuah hadits dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hadist Riwayat Al Bukhari dalam Kitab ash-Shalah (342) dan Muslim dalam Kitab al-Iman (163)

“ثُمَّ مَرَرْتُ بِعِيسَى فَقَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ. قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا عِيسَى

“Kemudian aku bertemu dengan Isa. Ia berkata, ‘Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh’.” Aku bertanya (pada Jibril), ‘Siapa ini?’ ‘Ini adalah Isa’, jawab Jibril.”

Nabi Muhammad Menyebutkan Ciri Fisik Nabi Isa

Dalam beberapa hadits, terdapat keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ciri fisik Nabi Isa ‘alaihissalam. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Anbiya (3254) dan Muslim dalam Kitab al-Iman (168)

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ لَقِيْتُ مُوْسَى… (فَنَعَتَهُ إِلَى أَنْ قَالَ:) وَلَقِيْتُ عِيْسَى… (فَنَعَتَهُ فَقَالَ:) رَبْعَةٌ، أَحْمَرُ، كَأَنَّمَا خَرَجَ مِنْ دِيْمَاسٍ (يَعْنِي: الْحَمَّامَ).

“Aku berjumpa dengan Musa ketika aku di-isra’-kan… (lalu beliau menyebutkan sifatnya hingga beliau berkata): dan aku berjumpa dengan Isa… (lalu beliau mensifatinya dengan berkata,) bertubuh sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), merah, seakan-akan dia keluar dari pemandian’.”

Beliau menyifatinya Nabi Isa seolah-olah keluar dari pemandian, karena rambut beliau basah. Masih meneteskan air. Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

HR. Muslim no. 2937

إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قَطَرَ، وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ

“Bila ia menundukkan kepala, meneteslah air. Bila ia angkat kepalanya, air bercucuran seperti mutiara.”

Masih dalam hadits tentang mi’raj, beliau bersabda,

HR. al-Bukhari dalam Kitab Bad-ul Khalqi (3067)

وَرَأَيْتُ عِيسَى رَجُلاً مَرْبُوعًا، مَرْبُوعَ الخَلْقِ إِلَى الحُمْرَةِ وَالبَيَاضِ، سَبِطَ الرَّأْسِ

“Aku nielihat Isa. Orangnya sedang tidak tinggi dan tidak pendek. Sedang bentuk badannya. Berkulit putih kemerah-merahan dan lurus rambutnya.”

Saat perjalanan isra’, beliau juga menyifati Nabi Isa yang sedang shalat di Masjid al-Aqsha:

HR. Muslim dalam Kitab al-Iman (172)

وَإِذَا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَائِمٌ يُصَلِّي، أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ الثَّقَفِيُّ

“Di sana terdapat Isa bin Maryam alaihissalam. Ia sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi.”

Peristiwa atau Kisah Isra Miraj Nabi di Langit Ketiga

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

HR. Muslim dalam Kitab al-Iman No.162

“ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَفُتِحَ، فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يُوسُفُ، قَالَ: هَذَا يُوسُفُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ”. وفي رواية مسلم زاد: “إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ

“Kemudian aku dinaikkan menuju langit ketiga. Jibril meminta dibukakan. Ada yang bertanya, “Siapa itu?” Ia berkata, “Jibril.” Ditanyakan lagi, “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muammad.” Penjaga bertanya lagi, “Apa ia diutus kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Iya.” Penjaga berkata, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”Pintu langit dibukakan.

Ketika aku melewati pintu, ternyata ada Yusuf. Jibril berkata, “Ini adalah Yusuf. Ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Dan ia membalas salamku. Kemudian ia berkata, “Selamat datang wahai saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.” Dalam riwayat lain ada tambahan, “Ia (Yusuf) dianugerahi setengah ketampanan.”

Pujian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam merupakan bentuk ketakjuban beliau akan kekuasaan (kemampuan) Allah Ta’ala dalam menciptakan Yusuf. Sehingga beliau mengekspresikan apa yang beliau lihat dengan mengatakan, “Ia (Yusuf) memiliki setengah ketampanan.” Jika seluruh manusia dari zaman Nabi Adam hingga yang terakhir, kebagusan rupa mereka dikumpulkan, nah Nabi Yusuf memiliki setengah dari kadar semua ketampanan itu. Mungkin inilah di antara hikmah pertemuan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Untuk menyampaikan kepada kita tentang kehebatan dan keluar-biasaan kekuasaan Allah dalam mencipta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita tentang kedudukan Nabi Yusuf. Karena keindahan fisik beliau sebagaimana keindahan penciptaan malaikat. Hal itu sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya, ketika menceritakan kesan pertama mereka melihat Nabi Yusuf:

Quran Surat Yusuf ayat 31

مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيمٌ

“Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi kenikmatan dengan kenikmatan memandang seseorang yang indah. Sebagaimana kita bahagia melihat ciptaan-ciptaan Allah yang indah. Baik berupa alam ataupun berjumpa dengan seseorang yang baik penampilannya. Dan kita pun dimotivasi dengan keindahan-keindahan manusia penghuni surga. Yang menunjukkan, bertemu dengan yang demikian merupakan kebahagiaan.

Peristiwa ini juga menunjukkan kejujuran dan ketulusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendudukkan Nabi Yusuf sebagaimana yang Allah dudukkan. Beliau juga pernah memuji silsilah mulia nasab Nabi Yusuf. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Anbiya No. 3210

الكَرِيمُ، ابْنُ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ

“Seorang yang mulia. Putra dari seorang yang mulia. Cucu dari seorang yang mulia. Dan cicit dari seorang yang mulia. Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimussalam.”

Peristiwa atau Kisah Isra’ Miraj Nabi di Langit Keempat

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dinaikkan menuju langit keempat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: أَوَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَفُتِحَ، فَلَمَّا خَلَصْتُ إِلَى إِدْرِيسَ، قَالَ: هَذَا إِدْرِيسُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ”. وفي رواية مسلم زاد: قَالَ اللهُ تعالى: {وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا} [مريم: 57] .

Kemudian aku dinaikkan ke langit keempat. Jibril meminta pintu dibukakan. Penjaga langit keempat bertanya, “Siapa?” “Jibril”, jawabnya. “Siapa yang bersamamu?”, tanyanya lagi. “Muhammad”, jawab Jibril. Ia kembali bertanya, “Apakah ia diutus kepada-Nya?” “Iya”, jawab Jibril. Malaikat itu menjawab, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”

Quran Surat Maryam ayat 57

Kemudian dibukakan pintu. Ketika aku telah melewati pintu, di sana terdapat Idris. Jibril mengatakan, “Ini Idris. Ucapkanlah salam padanya.” Aku pun memberi salam padanya. Dan ia membalas salamku. Idris berkata, “Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.” Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

Quran Surat Maryam ayat 57

Sedikit sekali kabar yang sampai kepada kita tentang Rasulullah Idris ‘alaihissalam. Meskipun demikian, pertemuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beliau menunjukkan kedudukan beliau yang tinggi. Ditambah lagi ketika Rasulullah membacakan ayat “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

Seolah-olah beliau hendak menafsirkan kepada kita alasan Allah mempertemukan beliau berdua.

Para ahli berbeda pendapat tentang ucapan Nabi Idris ketika menyebut Nabi Muhammad dengan “Saudara shaleh”. Bukan dengan ucapan “Anakku yang shaleh” seperti ucapan Nabi Adam dan Nabi Ibrahim. Karena menurut sebagian sejarawan Idris juga merupakan rasul setelah Nabi Adam. Mereka berdalil dengan sebuah isra-iliyat yang menyebutkan silsilah nasab Nabi Ibrahim:

Injil Luke: 3: 34-38

Ibrahim bin Tarih bin Nahur bin Ar’uwa bin Syarikh bin Falikh bin ‘Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh bin Lamka bin Mitusyalkh bin Akhnukh bin Burda bin Mihla-ibala bin Qam’an bin Qausy bin Syits bin Adam.

Menurut mereka Akhnukh adalah Nabi Idris. Ucapan beliau “Saudara yang shaleh” adalah bentuk ketawadhu-an beliau. Namun pendapat ini bisa kita katakan lemah dari beberapa sisi.

Pertama: Tidak seharusnya kita mengambil silsilah nasab dari Taurat atau Injil. Siapa yang bisa menjamin bagian tersebut tidak diubah oleh Bani Israil?

Kedua: Karena ini merupakan peristiwa gaib tentang umat-umat terdahulu, kita butuh penjelasan nash syar’i. Sementara tidak ada dalil dari syariat kita yang menyatakan bahwa Akhnukh adalah Idris. Ditambah lagi, Nabi Idris keluar dari silsilah nasab Nabi Muhammad.

Ketiga: Tidak tepat mengkhususkan sifat tawadhu kepada Nabi Idris dalam permasalahan ini. Sementara Nabi Adam dan Ibrahim tidak.

Dalam Syarah Arba’in an-Nawawi, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menjelaskan bahwa Idris adalah nabi dari bani Israil. Artinya beliau dari keturunan Ishaq ‘alaihissalam bukan Ismail ‘alaihissalam. Karena itu, Nabi Idris bukan ‘ayah’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Adam dan Ibrahim. Beliau adalah ‘pamannya’ sebagaimana nabi-nabi bani Israil lainnya.

Peristiwa atau Kisah Isra’ Miraj Nabi di Langit Kelima

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“ثُمَّ صَعِدَ بِي، حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الخَامِسَةَ فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا هَارُونُ، قَالَ: هَذَا هَارُونُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ”.

Kemudian aku dinaikkan ke langit kelima. Jibril meminta pintu langit kelima dibukakan. Penjaga pintu langit berkata, “Siapa itu?” “Jibril”, jawabnya. “Siapa yang bersamamu?”, tanya penjaga. “Muhammad”, jawab Jibril. Penjaga kembali bertanya, “Apakah ia diutus kepada-Nya?” “Iya”, jawab Jibril. Penjaga itu berkata, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”

Ketika aku telah melewati pintu, aku berjumpa dengan Harun. Jirbil berkata, “Ini adalah Harun. Ucapkanlah salam padanya.” Aku pun mengucapkan salam, kemudian ia membalas salamku. Ia berkata, “Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.”

Di langit kelima ini, Nabi Muhammad berjumpa dengan saudaranya Nabi Musa, yaitu Nabi Harun. Pertemuan dengan Nabi Harun ini, merupakan bentuk pemuliaan juga terhadap Nabi Musa. Kehadiran Nabi Harun memberikan kegembiraan yang luar biasa bagi Nabi Musa. Harun bukan hanya seorang saudara. Tapi ia juga merupakan hadiah dan rahmat Allah kepadanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Quran Surat Maryam ayat 53

وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا

“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi.”

Dalam firman-Nya yang lain, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia mengabulkan permintaan Nabi Musa yang memohon keteguhan dengan mengangkat saudaranya sebagai temannya berdakwah.

Quran Surat Thaha ayat 36-37

قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَى (36) وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَى

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa”. Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain.”

bersambung

Sumber: dari berbagai referensi

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

Virus Corona; WHO Menyatakan Darurat Kesehatan Internasional

Read Next

Orang Sukses VS Orang Gagal Bag. 1

TOPIK BACAAN