Kampung Proklim Terus Perkaya Ide dengan Konsep Pasar Sehat

Kampung Proklim Desa Blederan Kec. Mojotengah Kab. Wonosobo

Terus Perkaya Ide dengan Konsep Pasar Sehat

WONOSOBO. Bagi masyarakat perkotaan yang sudah jenuh dengan rutinitas macet dan selalu berada dalam ruangan bisa disegarkan lewat wisata alam yang ada disekitar anda. Atau bisa memanjakan mata anda ke kampung proklim yang ada di Desa Blenderan kec.mojotengah kab. Wonosobo.
Anda akan disuguhi hamparan sayur menghijau dipinggir jalan. Tertata rapih. Gradasi warna yang mencolok. Tampak setiap mata tak pernah bosan untuk berlama lama memandangnya.

Hal itu terjadi saat kita masuk di Desa blederan Kecamatan Mojotengah. Tidak kurang ada 10 ribu ploybac berisi tanaman sayuran. Tersebar di setiap sudut halaman warga. Namun bukan hanya sebagai penghias. Ribuan tanaman sayuran organik itu ternyata berkontirbusi terhadap penyerapan karbon.

Letak desa yang berada tepat di kaki gunung sindoro itu, diganjar penghargaan proklim oleh kementerian LHK tahun 2018. Namun itu bukan menjadi titik akhir, mereka bersiap dengan kegiatan baru yang berbasis tanaman sayur. Sektor wisata.

Jalanan kampung yang bersih dan tertata rapi  itu, kanan kirinya dipenuhi berbagai jenis sayuran. Nampak hijau  dan sejuk. Air jernih  di saluran kecil pinggir jalan serta kolam ikan milik warga menambah suasana nyaman.

“Pada Tahun 2018 kami terima penghargaan kampung proklim dari kementerian LHK, tapi sejatinya itu bukan tujuan kami, masih ada agenda lain yang perlu ditingkatkan,” ungkap Sekdes Blederan Ida Indriawati.

Menurutnya, berawal dari  pertanian ramah lingkungan dengan sayur organik di pekarangan, hal ini karena melihat masih banyak lahan yang kurang dimanfaatkan di sekitar pemukiman. Perkembangannya positif, tahun 2018   sebanyak 500 KK yang bergabung dari awalnya yang hanya 30 orang.

“Kekuatan dimulai dari  menggerakkan Kelompok Wanita Tani (KWT). Mereka ajak serta para suami yang sebagian besar petani sayur, pemuda dan anak-anak untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong di pemukiman menjadi kebun sayur organik,” katanya.

Rupanya, menanam sayuran dengan media polybag merupakan hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh warga setempat yang mayoritas petani sayur. Hasilnya pun secara ekonomi sangat membantu keseharian ibu-ibu.

“Utuh waktu dan proses lama hingga masyarakat sukacita berlomba-lomba budidaya sayur di pekarangan,”sambungnya.

Kegiatan warga tersebut rupanya mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, sebab selain mengelola pekarangan,  desa Blederan juga mengelola mata air sebagai sumber air bersih, menanam pohon agar  tetap lestari. Dari peternakan, dimanfaatkan biogasnya, aktifitas itu  secara kongkret mengurangi emisi gas rumah kaca.  Air melimpah juga  dimanfaatkan untuk budidaya perikanan.

Setelah penghargaan itu, Desa Blederan tidak lantas bersuka cita dan mandhek. Bahkan sejumlah agenda telah disiapkan dengan bersinergi bersama pemerintah desa setempat. Kepala desa blederan, Mutaqin mengemukakan bahwa, pihaknya berkomitmen menjaga desa blederan tetap sebagai kampung proklim dan memajukan lagi dengan kegiatan lain.

“Kita masih punya pekerjaan rumah untuk menyempurnakan program lingkungan bersih, yaitu menekan ODF,  pengelolaan sampah, peternakan dan wisata sayur,”bebernya.

Menurutnya, desa blederan sejatinya tidak di dorong menjadi desa wisata, namuan belakangan tingginya minat wisatwan dari berbagai daerah di indonesia yang datang ke desa tersebut menjadikan warga dan pemerintah desa memperbaiki pola pengelolaan wisata kampung sayur.

“Lokasi kami di jalan dieng, banyak wisatawan ke dieng mampir ke kampung kami melihat dan memetik sayuran, di sisi lain warga belum sepenuhnya siap menerima wisatawan, utamnya fasilitas serta masalah sampah,  itu yang akan kami perbaiki,” pungkasnya.

Kepala Diskominfo Wonosobo, Eko Suryantoro mengemukakan bahwa banyak apresiasi dan penghargaan terhadap kreativitas dan inovasi  bagi masyarakat  wonosobo, baik itu level provinsi maupun nasional.

“kami berharap, apa yang sudah diraih bisa dikembangkan dan dimajukan, bukan kemudian berhenti,” katanya.

Sebagai kabupaten yang berada di kawasan pegunungan, kesadaran warga untuk menjaga lingkungan dan memperoleh hasil secara  ekonomi perlu terus di perluas, baik melalui pengembangan wisata maupaun pertanian.

Sementara itu, Bupati Wonosobo Eko Purnomo dalam kesempatannya sangat mendukung kegiatan yang diinisiasi oleh Desa Blederan. Dimana dengan adanya brand kampung sayur sehat itu membuat desanya terangkat. Dari sisi ekonomi maupun budayanya. Utama, budaya berperilaku hidup sehat.

Menurutnya hal ini menyakut soal lingkungan yang sehat. Sebab saat ini Permasalahan kesehatan menjadi prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Wonosobo.

Bupati menegaskan, kesadaran terhadap hidup sehat harus dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga masing-masing. Lalu bisa dimplementasikan atau ditularkan ke masyarakat di lingkungan sekitarnya.

“Pola hidup sehat itu harus dimulai dari diri kita, keluarga kita, lalu diimplementasikan ke masyarakat lingkungan kita”, katanya.

Bupati mencontohkan pola hidup yang tidak sehat yang masih banyak ditemukan di masyarakat yaitu perlakuan terhadap sampah dengan membuang sampah sembarangan ataupun membuang sampah di sungai. Hal tersebut merupakan kebiasan perilaku yang tidak sehat, yang akan menyebabkan lingkungan tercemar dan tidak sehat, sehingga akan berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan menjadi buruk baik bagi tumbuhan, hewan maupun manusia itu sendiri.

Ahmad Latif/Konfirmasi Times

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 

Read Previous

KASAL Laksamana TNI SIWI Sukma Adji Pimpin Langsung Peringatan HUT Korps Marinir ke 74

Read Next

Konservasi Bundengan Ajak Millenial Kenal Tradisi

TOPIK BACAAN