Membaca Qasidah Burdah Salah Satu Budaya Muslim Indonesia di desa desa

NGAJI KITAB QOSIDAH AL BURDAH BERSAMA KH SAID AQIL SIROJ

Sejarah Burdah

Qasidah burdah yg terkenal di indonesia, adalah burdah karangan syekh Abu Sa’id al-bushiri. Suatu ketika beliau sakit setruk sampai tidak bisa berdiri.

Pada suatu malam mimpi bertemu Rasulullah SAW. Kemudian (Abu Sa’id Al-bushiri) berkata “saya ingin membuat syair untuk memujimu ya Rasulullah” silahkan buat, jawab Rasulullah SAW

Seminggu kemudian mimpi bertemu Rasulullah lagi “sudah selesai 154 bait syair ya Rasulullah” coba bacakan saya ingin dengar kata Rasulullah SAW.

Setelah selesai mendengar nya Rasulullah SAW tersenyum dan senang, lalu tubuh Imam Al-bushiri di usap Rasulullah SAW dan besok nya langsung sembuh (setruknya).

Part 1

Part 2

Part 3

Part 4

Part 5

Part 6

Part 7

Part 8

Part 9

Part 10

Part 11

Part 12

Part 13

Qasidah Burdah ini merupakan al-mada’ih an-nabawiyah yang dikembangkan para sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan cinta, rindu dan kekaguman yang mendalam.

Qasidah ini terdiri dari 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa (uslub) yang menarik, lembut dan elegan.

Berisi ungkapan kecintaan, kerinduan dan kekaguman terhadap lahiriyah dan akhlak (budi pekerti) Rasulullah SAW, sebagaimana terungkap pada satu bait syair

Keanggunannya laksana bunga, dan kemuliaannya bagaikan purnama Kedermawanannya laksana samudera, cita-citanya bagai perjalanan masa juga ringkasan mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, pengendalian hawa nafsu, pujian terhadap Al-Qur’an, Isra’ Mi’raj, jihad, tawasul, dan doa.

Qoshidah Burdah telah banyak menarik simpati umat Islam, salah satu contohnya, Ibnu Khaldun pernah menghadiahkan Qosidah Burdah kepada Timur Lank. Raja Abdul Qadir al-Jazairi menulis satu bait burdah saat hendak berperang melawan Perancis.

Sebagai salah satu bentuk syi’ar Islam atau pribumisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Qosidah Burdah, umat Islam sering mengadakan pembacaan Burdah berikut uraian penjelasan dan keutamaannya di majelis-majelis ta’lim, hingga hampir di seluruh negara-negara Islam, seperti di Arab, Asia, juga Eropa dan Amerika. 

Di Hadramaut dan banyak daerah Yaman pembacaan Qoshidah Burdah dilakukan pada waktu Shubuh hari Jum’at dan Ashar pada hari Senin. Ulama’ Al-Azhar Mesir mengkhususkan hari Kamis untuk pembacaan Qoshidah Burdah dan mengadakan kajian penjelasan Qoshidah Burdah di masjid-masjid besar di Mesir, seperti masjid Husein dan Sayyidah Zainab. Begitupun di Syam, Siria, Palestina, Yordania, dan Libanon, majelis pembacaan Burdah sampai diadakan di rumah-rumah penduduk. 

Adapun di Maroko lebih spesial, pembacaan Qoshidah Burdah dengan lagu-lagu Andalus (Spanyol) dibacakan pada majelis majelis besar. 

Di Indonesia juga banyak lagu-lagu menarik yang secara khusus menggubah Qoshidah Burdah.

Antusiasme umat muslim terhadap Burdah, merupakan hal yang perlu dikembangkan. Ditengah hegemoni global, umat muslim harus mememgang kebudayaan islam sebagai jati diri. Ketika agama tidak memiliki budaya peradaban yang tinggi, ia akan semakin terpinggirkan dalam percaturan dunia.

Membumikan Burdah tentu saja tidak cukup, jika Burdah hanya dijadikan bacaan rutin dalam majelis-majelis, tanpa implementasi kongkret tindakan. Qasidah burdah merupakan ungkapan kekaguman, kerinduan, kecintaan terhadap sosok Nabi Muhammad SAW yang begitu mendalam didalamnya banyak mengandung pelajaran, tuntunan dan nilai niai moral.

Qasidah Burdah yang sangat populer di kalangan umat Islam adalah karya Imam Syafaruddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri (610-695H/1213-1296 M). 

Al-Bushiri adalah keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Dia murid seorang Sufi Besar, Imam Abu Hasan As-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abdul Abbas Al-Mursi, pengikut Tarekat Syadziliya.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammand bin Sa’id bin Hammad bin Abdillah bin Alshonhaji Albushiry Almishry, asal keturunan dari Maghrib (Moroko) dari Qal’ah Hammad, dari suku yang dikenal dengan bani Habnun. Ia dilahirkan di daerah Dallas pada hari selasa tanggal 01 Syawwal 608 H, dan wafat di Iskandariyah pada tahun 696 H. Dimakamkan di Iskandariyah, tidak begitu jauh dari makam gurunya imam Abul Abbas Almursy dan bersambung dengan masjid Jami’.

Dinding makamnya diukir dengan beberapa bait syair Burdah dalam bentuk kaligrafi yang begitu indah. Ayah beliau berasal dari Mesir daerah Bushir, salah satu desa Mesir Atas (Mesir pedesaan).

Susunan qasida burdah nya begitu memukau karena susunan sastra dari sya’ir-sya’irnya yang bagaikan untaian mutu manikam.

Para Mutaakhirin (Sahabat Generasi Akhir) berpandangan bahwa memuji serta mengagungkan Rasulullah saw berikut sifat-sifatnya yang terpuji serta mulia merupakan salah satu upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, juga sebagai bentuk kecintaan sekaligus kepatuhan kepadanya. 

Maka para penyair berlomba-lomba membuat sya’ir yang berisikan pujian-pujian serta sanjungan-sanjungan kepada Nabi Muhammad saw.

Imam al-Bushiri mengisahkan kehidupan Nabi di dalam Qasidahnya. Sebelum menceritakan sirah Nabi, di dalam pasal kedua, Imam Bushiri mengingatkan mengenai bahaya hawa nafsu. 

فَإِنّ أَمّارَتِ بِالسّـوءِ مَا اتّعَظَتْ ۞ مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشّيْبِ وَالَهَرَمِ

Sungguh nafsu amarahku tak dapat menerima nasihat, karena ketidaktahuannya. 

Akan peringatan berupa uban di kepala, dan ketidakberdayaan tubuh akibat umur senja.

Dalam bait ini, al-Bushiri menegaskan bahwa hampir saja semua manusia tidak sadar akan hawa nafsu yang mengelabuinya sepanjang hidup. Bahkan di usia senja, tak dapat dijamin hidayah akan datang kecuali melalui ‘inayah Allah ﷻ kepadanya. Padahal tanda-tanda maut bakal menjemput sudah ada, yaitu uban yang tumbuh pada rambutnya.

مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَا ۞ كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الَخَيْلِ بِاللُّجُمِ

Siapakah gerangan yang sanggup mengendalikan nafsuku dari kesesatan
Sebagaimana kuda liar yang terkendalikan dengan tali kekangan

Teringat dengan kisah pasca-Rasulullah ﷺ pulang dari perang Badar, beliau ﷺ berujar, “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar”
Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Jihad (memerangi) hawa nafsu.”
Artinya, betapa besarnya kekuatan hawa nafsu, hingga Rasulullah pun menggambarkannya sedemikian rupa.

فَلاَ تَرُمْ بِالْمَعَاصِيْ كَسْرَ شَهْوَتِهَا ۞ إِنّ الطَّعَامَ يُقَوِّيْ شَهْوَةَ النَّهِمِ
Jangan kau berharap, dapat mematahkan nafsu dengan maksiat. Karena makanan justru bisa perkuat bagi si rakus makanan lezat.

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap suka menyusu. Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri

Sebagian orang menganggap, dengan mengikuti hawa nafsunya, rasa itu akan menghilang karena habis dilampiaskan.

Namun ternyata tidak begitu, hawa nafsu akan menjadi-jadi ketika dituruti, bak orang yang rakus jika diberi makanan maka ia malah bertambah kerakusannya.

Imam al-Bushiri menyerupakan nafsu dengan seorang anak bayi. Apabila seorang anak bayi tidak disapih, maka sampai besar ia akan hobby menyusu pada ibunya, dan tentunya itu amat membahayakan.

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ ۞ إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ
Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasai-nya Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ ۞ وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ
Dan gembalakanlah nafsu, karena dalam amal nafsu bagaikan hewan ternak. Jika nafsu merasa nyaman dalam kebaikan, maka tetap jaga dan jangan kau lengah

Dalam dua bait diatas, Imam al-Bushiri menghimbau kita untuk mengolah hawa nafsu supaya menjadi teratur dan tidak liar.

Kemudian beliau mengingatkan kita bahwa tidak semua sesuatu yang kita anggap indah, hakikatnya juga indah. Bisa jadi ia adalah racun yang terkandung di dalam makanan yang lezat, sebagaimana dalam syairnya:

كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً ۞ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ السَّمَّ فِي الدَّسَمِ
Betapa banyak kelezatan, justru membawa kematian bagi seseorang Karena tanpa diketahui, adanya racun tersimpan dalam makanan

Kemudian, setelah merenungi nafsu yang menjangkiti kita. Kita dianjurkan pula untuk meminta ampunan pada Allah SWT dari perkataan kita yang tidak disertai dengan ucapan. Tentunya ini menjadi cerminan bagi kita, bahwa selama ini amal perbuatan kita tidak sebaik dari perkataan yang terlontar dari lisan kita

أَسْتَغْفِرُ الَّلهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَعَمَــلٍ ۞ لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلً لِذِي عُقُمِ
Aku mohon ampun kepada Allah dari ucapan tanpa disertai amal # Aku telah menasabkan diriku dengan perkataan itu, bagaikan seorang yang mandul……mengharap keturunan

Sebagaimana kebiasaan para penyair terdahulu dalam membuat sya’ir mereka seringkali menggunakan metode ‘TAJRIED’, sang penyair ini pun menggunakannya.

Ia membagi dirinya seolah-olah menjadi dua orang, sedang pada hakekatnya hanya satu orang, yaitu diri penyair sendiri. Satu memuji dan yang lain mencela, satu bertanya dan yang lain menjawab. Hal ini sebenarnya mencerminkan lambang-lambang cinta, sebuah imajinasi seakan-akan ia tidak punya banyak teman.

Berikut ini syair-sya’ir mana saja yang merupakan bentuk pertanyaan dan mana saja yang merupakan jawaban:

Pada bait pertama sampai yang kedelapan yakni dari:

أمن تذكر جيران – وأثبت الوجد
adalah bentuk-bentuk pertanyaan dari al Bushiri selaku penanya. Selebihnya adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh pihak penanya.

Pada bagian syair-sya’ir yang berbentuk pertanyaan sang penyair selaku penanya berusaha mendapat jawaban atas berbagai pertanyaan mengenai hebatnya cinta yang dialami oleh al Bushiri selaku pihak yang akan menjawab pertanyaan si penanya.

Penyair selaku penanya, ia mempertanyakan banyak hal terkait cintanya yang tak bisa dipungkiri akibat tanda-tanda dan bukti-bukti yang begitu nyata yang terlihat pada dirinya.

Dan pada bagian syair-sya’ir yang berbentuk jawaban penyair selaku penjawab berusaha gigih pula menjawab pertanyaan-pertanyaan si penanya dengan jawaban yang begitu memukau.

Di samping itu ia juga berharap itu merupakan nasehat bagi kaum muslim secara umum. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti dengan seksama perluasan dari sya’ir-sya’ir beliau yang indah ini.

Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti dengan seksama perluasan dari sya’ir-sya’ir beliau yang indah ini.

أمن تذكـر جيرانٍ بذى سـلم مزجت دمعا جَرَى من مقلةٍ بدم
Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam, Kau campurkan air mata (di pipimu) dengan darah?

(شرح) هنا قد جرد المصنف من نفسه شخصا مزج دمعه الجاري من مقلته بدم. وهذا كناية عن شدة البكاء وخاطبه مستفهما عن سبب مزج الدمع الجاري من المقلة بالدم. ما هو؟ هل هو من تذكر الجيران؟ وهو المحبوبون المقيمون بذي سلم. تمهيد القراء لفهم معاني البردة الغراء
Penjelasan: Di sini penyair telah membagi dirinya menjadi dua, dan satu dari keduanya yakni ia selaku pihak yang ditanyakan (kemudian ia kami sebut sebagai penjawab) oleh pihak penanya, menangis dengan menitikkan air mata yang bercampur darah.

Kalimat “bercampur darah” adalah sebuah kiasan untuk menunjukkan betapa hebat tangisnya sang penyair (penjawab). Menyadari akan hal ini penanya bertanya kepada penjawab:

“Mengapa engkau menangis dengan mengalirkan air mata bercampur darah? Adakah itu pertanda akan teringatnya engkau kepada kekasihmu yang berada di Dzi Salam?”

Kemudian pihak penanya bertanya lebih lanjut:

أم هبَّت الريحُ مِنْ تلقاءِ كاظمةٍ وأَومض البرق في الظَّلْماءِ من إِضم
Ataukah karena angin berhembus dari arah Kadzhimah?
Dan kilauan kilat di daerah Idham pada malam hari yang gelap gulita?
(شرح) أم من تذكرك بهبوب الريح من جهة كاظمة الذي يسبب تخيلك أنها حملت روائحه اليك؟ أو من تذكرك بإيماض البرق في الليلة المظلمة من المكان المسمى بإضم الذي يخيلك بديار المحبوب؟. تمهيد القراء لفهم معاني البردة الغراء
Penjelasan:
Sebagai kelanjutan dari sebuah pertanyaan pada sya’ir sebelumnya, yakni “Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam, kau campurkan air mata (di pipimu) dengan darah?” ia (penanya) bertanya lagi: “Ataukah karena hembusan angin yang datang dari arah Kadzhimah, yang menyebabkan engkau berkhayal, seolah-olah hembusan angin itu membawa aroma wangi kekasihmu? Ataukah karena kilauan kilat pada malam hari yang gelap gulita di daerah Idham yang menyebabkan engkau membayangkan rumahnya.”

Dalam hal ini, Muhammad bin Said al Bushiri menunjukkan bagaimana besar cintanya kepada Nabi Muhammad saw di mana ia melukiskan bahwa dirinya adalah orang yang begitu jatuh hati pada seorang gadis. Jika saja ia berpisah, maka kesusahan dan kepedihanlah yang akan ia derita, menangis siang malam sampai mencucurkan air mata bercampur darah. Akibatnya, ia menjadi sakit, kurus serta pucat pasi disebabkan karena terlalu banyak berpikir, kurang makan dan kurang tidur.

فما لعينيك إن قلت اكْفُفاهمتا وما لقلبك إن قلت استفق يهم
Mengapa bila kau tahan air matamu ia tetap basah?
Dan mengapa pula bila kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah?
(شرح) لما سأل الناظم عما ذكر ولم يرد عليه المسؤول جوابا لأن من عادة المحبين أن يكتموا الحب في أول الأمر بل جرت عادتهم بإنكاره, نزل الناظم المسؤول منزلة المنكر وتعجب من حاله فقال يا منكر الحب كيف الجواب إن قلت لعينيك : إحبسا الدموع ! سالت دموعهما. وكيف الجواب إن قلت : أفق من غفلة العشق؟ هام فيه أليس كل من سيلان الدموع وهيام القلب من آثار الحب؟

Penjelasan :
Ketika penyair selaku penanya bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak segera mendapat jawaban oleh karena pada umumnya para pecinta menyembunyikan perasaan cintanya pada awal-awal percintaannya bahkan lebih dari itu terkadang mereka justru mengingkarinya, maka penanya menganggap pihak yang ditanya sebagai orang yang inkar akan cintanya sendiri serta terheran-heran akan perilakunya hingga terlontarlah perkataan dari pihak penanya:

“Wahai orang yang ingkar akan cintanya sendiri! Bagaimanakah engkau akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku sedangkan engkau sendiri tidak mampu menahan air matamu di depanku dan juga tidak mampu menyadarkan hatimu sehingga engkau merana dan menderita? Bukankah kedua hal ini adalah bukti yang sangat nyata akan cintamu yang begitu besar?”

أيحسب الصب أن الحب منكتـم ما بين منسجم منه ومضطرم
Apakah sang kekasih kira bahwa tersembunyi cintanya.
Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora.
(شرح) لما سأل الناظم المخاطب السؤال المسكت ورجع إلى تغليطه في إنكار الحب, يقول : أيحسب الصب اي أيظن العاشق انكتام المحبة عن الناس وهو ما بين دمع هاطل وقلب مشتعل من نار الحب؟ فحينئذ فإنكار الحب غلط

Penjelasan:
Ketika penanya bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawabnya si penanya menyalahkan cinta dari pihak yang ia tanya dalam hal ini adalah penjawab yang diingkari dan ia berkata:

“Apakah orang yang sedang dimabuk cinta dapat menyembunyikan cintanya di antara tangis dan hati yang membara karena hebatnya cinta yang ia alami? Jika demikian halnya, maka mengingkari cintanya, adalah sebuah kesalahan nyata.”

لولا الهوى لم ترق دمعاً على طللٍ ولا أرقت لذكر البانِ والعلـمِ
Jika bukan karena cinta takkan kautangisi puing-puing rumahnya.
Dan takkan pula kau bergadang untuk mengingat pohon Ban dan gunung (dekat rumah orang yang engkau cintai yakni Nabi Muhammad).
(شرح) لولا محبتك وهواك لما بكيت على آثار ديار الأحباب ولما ذهب نومك لذكر البان والجبل الكائنين بقرب المحبوب

Penjelasan:
“Kalau saja bukan karena cinta, tak akan mungkin engkau menangisi bekas reruntuhan rumah kekasihmu dan takkan pula malam engkau susah tidur, karena mengingat pohon Ban dan sebuah gunung yang keduanya berdekatan dengan rumah kekasihmu.”

فكيف تنكر حباً بعد ما شهدت به عليك عدول الدمع والسقمِ
Dapatkah engkau pungkiri cintamu, sedang air mata dan derita
telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta?
(شرح) وكيف تنكر الحب والعشق وقد قامت عليك الأدلة وعدول الدموع والأسقام شاهدة بالحب عليك؟ ولهذا فلا حاجة إلى إنكار

Penjelasan:
“Dan bagaimana mungkin engkau bisa mengingkari cinta yang telah nyata dibuktikan oleh saksi yang adil dan jujur, yakni cucuran air mata dan derita. Maka, oleh karna itu tidak perlu lagi engkau mengingkari cintamu di hadapanku.”

وأثبت الوجد خطَّيْ عبرةٍ وضنى مثل البهار على خديك والعنم
Kesedihanmu menimbulkan dua garis tangis dan kurus lemah.
bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah.
(شرح) وكيف تنكر حبا بعد ما أثبت الوجد على خديك علامتين ظاهرتين : احدهما صفرة الحدود وثانيهما حمرة قطرات الدموع اليابسة عن البكاء؟ فكل من رآك يعرف الحب من وجهك

Penjelasan:
“Bagaimana kau dapat mengingkari cintamu, padahal begitu nyata dua tanda di kedua pipimu? Pertama: pucatnya wajahmu yang bagaikan mawar kuning. Kedua merahnya air matamu yang bagaikan mawar merah. Sehingga siapapun yang melihatmu akan mengerti dengan benar akan besarnya cintamu yang begitu nampak di wajahmu.”

Ini adalah sya’ir terakhir dari al Bushiri selaku penanya. Berikutnya adalah jawaban dari pertanyaan yang diajukan serta berisi nasehat dari sang penyair.

نعم سرى طيف من أهوى فأرقني والحب يعترض اللذات بالألمِ
Memang! Ia terlintas di dalam mimpiku, hingga aku susah tidur.
Cintaku menghalangiku dari berbagai bentuk kenikmatan karena rasa sakit yang ku derita. (شرح) لما اتضح حال المسؤول مما هو عليه من الحب ولم يبق له سبيل إلى الإنكار أقر واعترف بذالك وقال : نعم صدقت على ما نسبته إلي من الحب ولكن لشدة كلفي بمحبوبتي لما رأيت خيال من أهواه في النوم, انتبهت فرقا فجاءني الارق وأتاني ألم الحب من عدم الوصل من المحبوب, فالحب يعترض اللذات اي يدفعها ويزيلها بالألم ويراد باللذات ما كان فيه من النوم والتسلي عن المحبوبين وبالألم ما ينشأ من الحب من شدة الحزن

Penjelasan:
Adapun setelah terang benderang permasalahannya dan tidak mungkin lagi mengingkari besarnya cinta penyair selaku penjawab, maka iapun (penjawab) mengaku dan berkata: “Benar, apa yang engkau katakan padaku tentang cintaku. Akan tetapi dari besarnya cintaku padanya, maka ketika aku melihat kekasihku di dalam mimpi, aku terbangun ketakutan. Sehingga aku begitu susah memejamkan mata dan hati terasa pedih karena tidak dapat berjumpa dengannya. Memang cinta menghalang-halangiku dari kegembiraan dan kenikmatan.”

Yang dimaksud dengan “kenikmatan” ialah ketenangan dalam nyenyaknya tidur serta harapan untuk berjumpa. Sedang yang dimaksud dengan “pedih” ialah besarnya kesedihan akibat cinta yang penyair alami.

يا لائمي في الهوى العذري معذرة مني إليك ولو أنصفت لم تلمِ
Wahai para pencaci gelora cintaku! Izinkan aku memohon maaf kepadamu. Namun seandainya kau bersikap adil, niscaya engkau takkan mencela diriku.
(شرح) يا من يلومني ويعذلني محبة منسوبة إلى قوم من بني عذرة. ولو كان لك إنصاف لم يكن منك ملامة لأن الحب ليس اختياري حتى يلام عليه بل هو قهري ولا يلام إلا على الأمر الإختياري. وبنو عذرة هم قبيلة مشهورة باليمن يؤدي بهم العشق الى الموت

Penjelasan:
“Wahai orang yang mencerca cintaku, yang bagaikan cintanya suku Udzroh! Sebenarnya jika kalian menginsafi (bersikap adil), tak akan engkau mencercaku sedemikian rupa, karena cinta bukan ikhtiar yang kusengaja sehingga patut dicerca. Tapi cinta adalah sesuatu yang datang dengan paksaan. Dan tidak ada hal yang patut dicerca kecuali sesuatu yang memang bersifat ikhtiyar manusiawi.”

Mengenai Bani Udzroh, mereka adalah orang-orang suku Udzroh yang berada di Yaman dan terkenal sebagai orang-orang yang suka bercinta dan kerap kali cintanya membawa kematian.

عدتك حالي لا سري بمسـتتر عن الوشاة ولا دائي بمنحسم
Kini kau tahu keadaanku. Bahkan rahasiaku tidak bisa tertutupi lagi bagi para pemfitnah yang mau merusak cintaku. Sedangkan penyakitku tak juga kunjung sembuh.
(شرح) أبلغتك حالي ولم تعذرني؟ وكذالك لم يصبك مصيبتي حتى تعلم ما أنا فيه من شدة. ولو أصابتك مصيبتي وعلمت قدر ما أنا فيه, لم تلمني. وبلغتك حالي وسري غير مستتر عن الوشاة اي أن الوشاة عرفوا حالي وسعوا الى إفساد المحبة. وكذالك مرضي لا ينقطع ما دام الحب باقيا ومتعلقا بالقلب

Penjelasan:
“Tidakkah sampai keadaanku kepadamu? dan tidakkah kau mau memaafkan aku? Memang, wajar engkau tidak merasakan apa yang aku rasakan, kecuali engkau mengetahui dahsyatnya cintaku, baru engkau akan dapat memahami dengan baik. Kalau saja kau mengenal cintaku ini, serta merasakan seperti apa yang aku alami, tentu engkau tidak akan mencercaku. Kini semuanya sudah sampai kepadamu, tidak ada rahasia lagi yang tersembunyi. Semuanya sudah terbuka oleh pemfitnah yang akan merusak cintaku. Begitu pula deritaku, tak akan pernah sembuh selagi cinta itu ada dalam kalbu”.

محضتني النصح لكن لست أسمعهُ إن المحب عن العذال في صممِ
Begitu tulus nasihatmu, akan tetapi aku tak kan pernah mendengarnya. karena telinga sang pecinta tuli bagi para pencaci.
(شرح) قد نصحتني أيها الناصح نصيحة خالصة لكن من عظم محبتي لست أسمع نصح ناصح فإن العاشق أصم عن استماع نصح العذال كما قيل حبك الشيء يعمي ويصم

Penjelasan:
“Telah engkau nasehati aku dengan ikhlas. Akan tetapi karena begitu besarnya cintaku, aku tak kan pernah mendengar nasehat siapapun. Sesungguhnya telinga sang pecinta tuli dan tidak dapat mendengar nasehat para pemfitnah yang akan merusak cintaku. Sebagaimana kata pepatah: ‘Cintamu pada sesuatu telah membuat dirimu buta serta tuli’”.

إنى اتهمت نصيح الشيب في عذلي والشيب أبعد في نصح عن التهمِ
Akupun menuduh ubanku turut serta mencercaku.
Padahal ubanku pastilah tulus dalam memperingatkanku.
(شرح) إني اتهمت كل ناصح حتى اتهمت الشيب في نصحه لي والحال أن الشيب أبعد النصحاء من مواقع التهم اي بعيد جدا أن يتهم. فإن العاذل غير الشائب قد يتهم بالحسد والطمع والغيرة وغيرها والشيب بعيد عن ذالك. وإنما كان الشيب ناصحا لأنه يدل على قرب الأجل وحصول الموت الموجب لاشتغال العبد مما يقربه الى الله زلفى فهو ناصح بلسان الحال

Penjelasan: “Aku telah menuduh semua penasehat yang ada, sampai pun pada ubanku sendiri. Walau sesungguhnya ubanku itu adalah sesutu yang paling jauh dari loba, cemburu dan kedengkian, tidak sebagaimana pencerca yang lain yang mungkin saja dihinggapi penyakit semacam ini.”

Uban disebutkan sebagai penasehat karena uban menunjukkan dekatnya kematian. Sehingga mengharuskan seseorang untuk banyak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Dengan demikian, uban adalah penasehat dalam bentuk perilaku (tidak dalam bentuk ucapan).

فإن أمارتي بالسوءِ ما اتعظت من جهلها بنذير الشيب والهـرم
Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan.
Sebab tak mau tahu peringatan uban dan kerentaan.
(شرح) إن نفسي الأمارة بالسوء لم تتعظ من فرط الجهالة بنذير الشيب نذير الموت والهرم دليل الفوت

Penjelasan:
“Sesungguhnyalah hawa nafsuku telah menyuruhku untuk berbuat jelek dan tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat yang ada. Sampaipun nasehat uban yang merupakan pertanda dekatnya kematian. Sedangkan kerentaan/ketuaan (tua renta) adalah tanda-tanda kematian.

ولا أعدت من الفعل الجميل قرى ضيف ألم برأسي غير محتشم
Nafsuku itu tidak pula mempersiapkan diri dengan amal baik untuk menjamu tamu
yang bersemayam di kepalaku tanpa rasa malu.
(شرح) ولا أعدت من ثمرات الأعمال ومحاسن الخصال ضيافة اي إحسانا وإكراما لقدوم ضيف نزل برأسي فلم أكرمه عند إلمامه ولا أحتشمه

Penjelasan:
“Sedang diriku belum mempersiapkan diri dengan berbagai amal kebaikan guna menjamu tamu-tamu yang datang di kepalaku yakni ubanku. Dan tak pernah lagi aku menaruh hormat terhadap tamu itu dan tak pula aku punya rasa malu terhadapnya.”

Yang dimaksud dengan kata ‘Tamu’ di sini adalah uban yang mulai tumbuh di kepala sang penyair.

لو كنت أعلم أني ما أوقره كتمت سراً بدا لي منه بالكتمِ
Jika saja aku tahu ku tak menghormati uban yang bertamu.
Kan kusembunyikan dengan semir rahasia ketuaanku itu.
(شرح) فلو كنت قبل نزوله عالما بأني لا أراعي حرمة الشيب لكتمت أول ما بدا لي من سر الشيب بخضاب يستر تحته البياض

Penjelasan:
“Kalau saja aku tahu sebelum uban ini tumbuh dan aku tidak akan menghormatinya, maka, sudah barang tentu akan kusemir dengan semir hitam, agar rahasia selalu tersembunyi dan tidak pernah diketahui.”

من لي برِّد جماحٍ من غوايتها كما يردُّ جماح الخيلِ باللُّجم
Siapakah yang dapat mengembalikan nafsuku dari kesesatan?

Sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang.

(شرح) من يرد نفسي الأمارة بالسوء عما هو عليه من الضلالة والغواية بالمواعظ السنية كما يرد الفرس الجموح باللجوم

Penjelasan:
Agaknya, siapakah yang dapat mengekang pemberontakan nafsuku yang tinggi? sebagaimana orang yang mengekang kuda dengan kendali.

فلا ترم بالمعاصي كسر شهوتها إن الطعام يقوي شهوة النَّهم
Jangan kau patahkan nafsumu dengan maksiat.
Sebab makanan justru memperkuat nafsu si rakus pelahap.
(شرح) فلا تطلب أيها المخاطب انكسار شهوة النفس وزوالها بشيء من المعاصي فإن تناول الأطعمة اللذيذة يقوي شهوة النهم

Penjelasan:
“Wahai orang yang kuajak bicara, jangan mengharap dapat mematahkan hawa nafsumu dengan jalan maksiat, karena segala kelezatan dan kenikmatan justru akan makin membangkitkan keserakahan.”

والنفس كالطفل إن تهملهُ شبَّ على حب الرضاعِ وإن تفطمهُ ينفطم
Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan ia akan tetap menyusu.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Ketua Macab LMP Tanjab Timur Mendukung Statemen Kapolri Akan mencopot Polisi Yang Main Proyek

Read Next

Bunga Tan : Mundurnya M Dianto, Gubernur Harus Segera Menetapkan PLT Sekda